Psycho

Psycho
39


__ADS_3

Menyimpan handphone kembali didalam tas selempangnya, bergegas pergi dari tempat itu secepat mungkin sebelum sangat pria tiba. Tapi, sebuah ruangan yang sedikit terbuka itu menarik perhatian Delta yang menghentikan langkahnya . . seketika lupa akan niatnya, karena rasa penasaran yang melekat dalam dirinya.


Perlahan melangkah kearah ruangan itu dengan suasana yang entah kenapa menjadi menegangkan, padahal itu tidak menakutkan sama sekali.


Masuk kedalam ruangan itu dengan kedua mata yang langsung membulat sempurna, karena pemandangan mengerikan kembali menyapa penglihatannya.


Memundurkan beberapa langkahnya kebelakang dengan mulut yang sendiri terbuka. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Delta kembali mengambil handphonenya . . untuk memotret ruangan itu dengan tangan yang gemetar. Hingga tubuhnya dikejutkan oleh tangan kekar yang mengambil begitu saja handphonenya, membuat Delta menoleh kearah seseorang yang menatapnya intens.


"Seharusnya kau tidak datang kemari." Suara berat begitu familiar menyapa indera pendengarannya.


"A-a_" entah kenapa mulutnya begitu sulit untuk bicara. Apalagi saat pintu utama rumah itu perlahan dibuka dari luar. Membuat kedua insan itu kompak menoleh kearah pintu.


Tanpa mengatakan apapun lagi, sang pemuda didepan Delta kini menarik tangan gadis itu pergi dari tempat itu melalui pintu belakang. Dan sang pemuda juga tidak lupa menutup kembali pintu ruangan itu, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada sang pemilik rumah.


Saat itu juga pintu terbuka dengan lebar dan kembali ditutup oleh sang pria. Mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumahnya yang tidak mendapatkan siapapun, sebelum berjalan ke setiap ruangan rumah itu . . karena merasa ada yang sedikit janggal. Tapi pemuda itu tidak dapat menemukan apapun. Membuat helaan napas lega terhembus begitu saja dari hidungnya.


Sedangkan sang pemuda terus saja berlari dengan menggandeng tangan Delta, hingga mereka tiba didepan perumahan tanpa penghuni itu. Memaksa Delta masuk kedalam mobilnya, sebelum mengitarinya dan kini melajukan mobil hitam itu pergi dari tempatnya terparkir dengan kecepatan tinggi . . hingga masuk kedalam area jalan raya, sang pemuda perlahan mengurangi kecepatan pada mobilnya.


Sedangkan Delta kini menyandarkan punggungnya setelah melihat kebelakang, hanya untuk memastikan saja, jika tidak ada yang mengikutinya.


Membuang napas lega, yang kini kembali disentakan oleh handphonenya yang Diki dilempar pelan oleh sang pemuda tersebut tepat di pangkuannya.


"Kenapa kau senang sekali membahayakan nyawamu mu sendiri?" Sedikit kesal pemuda itu mengatakannya.


"Aku harus mengungkap kebenarannya." Tanggal Delta.


"Vallen yang menyuruh mu?"


"Tidak!! Aku sendiri yang ingin melakukannya." Cepat Delta yang tidak ingin terjadi salah paham antara Vallen dengan Taksa.


Kembali meluruskan pandangannya, hingga terlintas suatu hal yang membuat kepalanya bertanya-tanya.


Sedikit merubah posisi duduknya, kembali menatap Taksa dari samping. Tidak perduli jika pemuda itu tidak membalas tatapannya sedikit saja.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, darimana kau tahu tempat itu? Tidak mungkin Vallen memberitahumu, atau kau mengikuti ku. Itu sangat mustahil sekali."


Taksa memilih menepikan mobilnya dipinggir jalan, agar tidak menggauli fokusnya . . jika Taksa menanggapi apa yang dikatakan Delta.


"Apa perlu aku mengatakannya padamu?" Sekilas menaikan alisnya menatap Delta.


"Aku akan mengatakannya, darimana aku mengetahuinya. Jika kau juga mengatakan padaku, apa yang tengah kau rencanakan bersama Vallen." Tambah Taksa yang membuat Delta menelan ludahnya.


"Terimakasih sudah menolongku." Lontar Delta yang kini keluar dari dalam mobil Taksa.


Membuat sang pemuda spontan menahan tangan Delta yang mau tidak mau kembali melihat pemuda itu. "Berhentilah, sebelum semuanya menjadi kacau."


Mengangguk pelan, "aku akan berhenti, jika semuanya sudah berakhir." Melepas cekalan tangan Taksa dari pergelangannya, sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil Taksa.


Melihat sekitarnya, sebelum berjalan pergi untuk mencari halte bus terdekat. Itu membuat Taksa membuang napas besarnya dengan menyandarkan kepalanya. Mengarahkan pandangannya melihat spion mobilnya, dimana Delta yang berjalan pergi.


.


.


.


Tunggu! Delta semakin memperbesar foto itu yang tidak begitu jelas mendapati beberapa botol yang berisi seperti jari manusia. Itu membuat Delta mencari foto Runa yang masih tersimpan di handphonenya. Memperbesar foto itu tepat pada jari jemari Runa yang tidak lengkap.


"Apa?" Ucapnya tanpa suara.


Menutup mulutnya dan menghubungi seseorang di seberang sana yang tidak langsung menerima panggilannya.


"Bagaimana? Kau mendapatkan sesuatu?"


Suara familiar menyapa indera pendengarannya begitu jelas.


"Ini benar-benar gila. Bisakah kita bertemu?"

__ADS_1


Tidak langsung mendapat jawaban dari orang di seberang sana.


"Maaf, aku tidak bisa keluar rumah untuk sementara waktu ini. Kita bisa membicarakannya besok di sekolah."


"Baiklah, aku juga tidak memaksamu."


Panggilan itu terputus dengan helaan napas pelan dari hidungnya. Menyimpan kembali handphonenya didalam tas, sebelum berdiri dari duduknya, berjalan keluar bus yang terhenti di halte bus dengan perumahan yang Delta tinggali.


Berjalan kearah dimana rumahnya berada yang semakin mendekat kedua matanya mulai menyipit dengan langkah memelan, karena sosok pemuda yang familiar masih saja berada didepan rumahnya. Itu membuat Delta membuang napas lelahnya berulang kali.


Berdiri tepat di hadapan Satya yang perlahan mendongakkan kepalanya, membalas tatapan dari Delta dengan senyumannya.


"Kau sudah pulang?"


Helaan napas berat dari Delta membuat sang pemuda cengegesan tidak jelas, dan berdiri dari duduknya tepat dihadapan Delta yang sedikit memundurkan langkahnya kebelakang.


"Kenapa kau tidak pulang?"


"Kau harus menemaniku mencari kado untuk Taksa, dan kau juga harus memberi kado untuk Taksa diulang tahunya."


"Aku tidak mendapat undangan apapun." Cepat Delta yang tidak ingin pergi ke acara seperti itu.


"Semua penghuni sekolah, terutama pada murid diwajibkan untuk datang ke ulang tahun Taksa. Apa kau tidak membaca pengumuman dipapan mading sekolah?"


"Aku tidak akan datang, karena aku sadar diri."


"Kau akan mendapat siksaan dari Taksa." Begitu gemas Satya mengatakannya sebelum membalikkan tubuh Delta sedikit paksa. Mendorongnya pelan, agar berjalan lebih dulu.


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Jika ada teman sekolah yang melihat, mereka akan merundungku lagi." Sedikit kesal Delta mengatakannya dengan kaki yang melangkah.


"Bukankah kau mendapat rundungan itu setiap hari?" Begitu santai Satya mengatakannya dengan senyum kecil yang terselip di bibirnya.


"Tapi setidaknya itu bisa mengurangi sikap buruk mereka terhadapku." Tidak perduli jika kalimat yang terlontar dair mulutnya itu tidak nyambung sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengajak Manda atau teman mu yang lain? Kenapa harus aku?" Kembali bertanya pada Satya.


"Manda? Ah, gadis itu akan jauh lebih merepotkan daripada dirimu. Dan teman lain, aku tida memilikinya. Aku juga tidak bisa mengajak Vallen, karena ibundanya terlalu menakutkan . . tapi Vallen lebih menakutkan." Tanggal Satya dengan senyumannya. Itu membuat Delta berdecih kesal, sekilas menoleh kebelakang dimana Satya berada.


__ADS_2