
makasih udah nyempetin waktu kalian untuk baca cerita ini..
...°°...
Rasa terkejut akan kehadiran sosok pemuda familiar yang berdiri didepan rumahnya, itu membuat sang gadis membuang napas lega dengan rasa gelisah di dadanya. Entah kenapa.
"Apa yang kau lakukan disini?" Cetus Delta begitu saja dengan detak jantung yang sedikit tidak normal, karena rasa keterkejutannya itu masih singgah pada dirinya.
"Sepertinya bau sibuk sekali?" Tanya sang pemuda di hadapannya.
Menutup pintu rumahnya dengan pelan. "Ada tempat yang harus aku datangi, jadi kau pulanglah."
"Bagaimana bisa kau mengusir tamu disaat dia baru saja tiba." Satya menggelengkan pelan kepalanya, menatap Delta dengan senyum kecilnya.
"Ada urusan apa datang kemari?"
"Kau ada waktu?"
"Bukankah sudah ku katakan tadi? Jika ada tempat yang harus aku datangi. Kenapa kau masih bertanya lagi?" Cepat Delta.
Membuat Satya melipat kedua tangannya didepan dada dengan pandangan lurus menatap Delta yang sekilas menaikan alisnya. "Semakin lama kau akan seperti Vallen. Aku sarankan, jangan terlalu bergaul dengan gadis itu. Karena_"
"Karena apa?" Sarkas Delta yang membuat Satya sedikit memiringkan kepalanya dengan otak yang bekerja.
"Karena_"
"Pulanglah. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni mu."
"Aku akan menunggumu sampai urusan mu selesai."
"Kenapa kau keras kepala sekali?"
"Apa bedanya dengan mu?" Tak kalah cepatnya Satya mengatakannya, yang ampuh membuat Delta membuang napas berat.
Memilih pergi dari hadapan Satya yang hanya diam tidak menahan maupun menyusul kemana perginya Delta. Karena Satya juga harus menahan diri untuk tidak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadi Delta. Tapi, rasa penasarannya benar-benar sialan.
.
.
.
__ADS_1
Pesan singkat masuk begitu saja ke dalam handphone putih milik Vallen yang melihatnya sebentar, membacanya tanpa membalasnya sepatah kata saja. Sebelum meletakkan kembali handphonenya, saat seorang pria muda masuk kedalam ruangan itu dengan buku di tangannya.
Mencekal pelan pergelangan tangan Delta yang tersentak, sebelum menarik gadis itu kearah dimana taman sekolah berada . . karena saat jam seperti ini, tempat itu tidak ada satupun murid yang berkunjung.
"Kenapa kau menarik ku kemari?" Tanya Delta sembari duduk di samping Vallen yang meluruskan pandangannya.
"Jika kau juga ingin tahu siapa pelakunya_"
"Katakanlah, apa yang bisa aku bantu?" Potong Delta yang sudah tahu apa yang dimaksud Vallen.
Menyondorkan selembar kertas yang hanya berisi alamat rumah, membuat Delta mengerutkan samar keningnya . . melihat lemari kertas itu sebelum mengambilnya dengan ragu.
"Jika benar itu rumahnya. Cari tahu apa yang ada di sana, aku akan menahannya di rumah sebisa mungkin." Lontar Vallen pada Delta.
Masih diam, melihat alamat yang tertera di lembar kertas ditangannya saat ini. Sebelum menoleh kesamping kirinya. "Darimana kau tahu alamatnya?"
"Apa perlu aku mengatakannya padamu juga?" Membalas tatapan dari Delta-- tersenyum, menggelengkan pelan kepalanya.
"Aku akan datang ke rumahnya, dan mencari bukti yang akurat."
"Kau tidak perlu memaksakan diri. Jika kau merasa ragu, berhentilah." Sekilas melihat Delta dan kembali meluruskan pandangannya.
"Seharusnya aku tidak mengatakannya, tapi sepertinya aku harus sedikit lebih terbuka dengan orang-orang disekitar ku saat ini." Diam sejenak, menelan ludahnya.
"Aku tidak memaksa mu untuk mengatakannya padaku." Cepat Delta yang tidak ingin Vallen merasa terbebani akan perkataannya.
"Dia menjadi guru privat ku sejak kemarin." Jawab Vallen apa adanya.
"Apa?" Pelan Delta uang tidak percaya.
"Dia pasti punya motif, kenapa dia menerima tawaran dari ibunda ku." Sebentar melihat Delta dengan senyum kecilnya.
"Jika kau belum paham apa yang aku katakan tadi, kau bisa menanyakannya lagi saat disekolah." Cetus sangat pria yang mulai memasukan semua berang bawaannya didalam tas hitam itu.
"Kenapa kau tidak menerangkannya langsung disini? Kenapa harus aku bertanya lagi saat disekolah? Apa kau ingin menjadi pusat perhatian setelah aku menemui mu?" Sahut Vallen yang menyandarkan punggungnya dengan bersedekah dada, melihat sangat pria dengan senyum kecilnya tapi begitu remeh.
"Atau, kau hanya makan gaji buta?" Tambah Vallen dengan alis yang sekilas naik keatas.
"Aku tidak bisa menerangkannya disini, karena waktu sudah berakhir. Tidak mungkin aku memperpanjang waktu denganmu, disaat aku memiliki urusan lain."
"Urusan?" Kembali menaikan alisnya, walau sekilas. "Apa kau ingin mencari mangsa lagi? Atau, kau sudah mendapatkannya?"
__ADS_1
Diam, tidak menanggapi. Menatap lekat kedua mata Vallen yang mengatupkan rapat bibirnya. Tidak takut sama sekali dengan sorot mata yang terpancar dari kedua mata sangat pria.
.
.
.
Tidak memakan banyak waktu, Delta telah sampai ditempat tujuan. Tapi gadis itu tidak kunjung menemukan dimana keberadaan rumah pria itu. Karena nomor yang tertera di lembar kertas di tangannya tidak ada yang sesuai sama sekali. Tidak mungkin jika Vallen salah menulisnya.
Melihat sekelilingnya yang benar-benar sepi, walau banyak rumah yang berjejer rapi didepan matanya saat ini. "Kenapa tidak ada orang satupun?" Gumamnya sembari melangkah pelan.
Terus mencari dimana rumah yang memiliki nomor yang sama dengan alamat yang diberikan oleh Vallen. Tanpa menyadari jika sepasang mata melihat Delta dengan sorot mata yang sulit sekali diartikan, dengan jarak yang tidak begitu dekat.
Melangkah pelan, mengikuti kemana perginya Delta tanpa menimbulkan suara sedikitpun, karena tidak ingin kehadirannya diketahui oleh Delta.
"333, 112, 23_" pelannya yang kini menghentikan kakinya dengan helaan napas lelah.
"Kenapa nomornya tidak urut? Ada apa sebenarnya?" Menoleh kebelakang yang tidak menemukan siapapun.
Meliarkan kembali kedua matanya, hingga terhenti pada nomor, '696' melangkah cepat mendekati rumah itu dengan kedua mata yang melihat setiap sudut rumah didepan matanya.
Melangkah pelan, mendekati pintu utama rumah itu. Dengan ragu mengarahkan tangan kanannya pada knop pintu yang ternyata tidak dikunci sama sekali. Membuat Delta refleks menjauhkan tangannya dari knop pintu itu.
Membuang napas beratnya, melihat sekelilingnya sebentar yang tidak menemukan siapapun. Sebelum masuk kedalam rumah itu dengan dada yang bergemuruh, rasa nyeri entah kenapa singgah di dadanya.
Begitu pelan kembali menutup pintu itu dengan kedua mata yang terus saja melihat setiap sudut ruangan itu. Terlihat tidak lagi terawat. Seperti rumah kosong tanpa adanya penghuni. Membuat rasa tidak enak mulai menyerang tubuh Delta.
"Vallen tidak membohongi ku, bukan?" Walau merasa takut, tapi Delta tetap mencari hal yang masih abu-abu.
Sedangkan sangat pria yang kini telah keluar dari halaman luar rumah Vallen, membuat sang gadis tanpa memperdulikan ibunya yang tengah berbicara. Vallen berjalan cepat kearah kamarnya.
Menutup rapat pintu kamarnya yang kini Vallen kunci. Dengan cepat menghubungi Delta sembari menyisir surai panjangnya kebelakang dengan perasaan gelisah.
Mengigit bibir bawahnya bagian dalam dengan gemas sendiri, karena tidak ada jawaban sedikitpun dari Delta.
"Ada apa?"
Suara familiar menyapa indera pendengaran Vallen.
"Kau dimana?"
__ADS_1