Psycho

Psycho
29


__ADS_3

Rasa tidak enak sering sekali singgah dalam benaknya, yang entah tak tahu bagaimana caranya untuk menghilangkannya. Ingin rasanya ia memusnahkannya, tapi itu tidak bisa sama sekali. Dan seharusnya ia melawan dirinya sendiri untuk menghapus rasa tidak enakan itu.


Bersendawa kecil, sembari menuangkan air putih yang dipenuhi es batu dengan beberapa potongan lemon didalamnya. Sebelum menegak-nya sedikit.


Kepalanya mengangguk kecil, dan berjalan kearah dimana lemari esnya berada dengan wadah yang berisi beberapa lemon. Sebelum melangkah pergi dari dapur rumahnya dengan gelas di tangannya, hingga langkahnya terhenti begitu saja didepan ruang kerja milik ayahnya sendiri.


"Kakek tidak bisa menemui mu minggu ini, karena urusan disni masih belum selesai. Tapi jika itu sangat penting, kau bisa mencarinya diruang kerja ayahmu. Di ruangan itu ada data yang kau inginkan." Sekilas tanpa ijin, perkataan kakeknya terlintas begitu saja di kepalanya.


Membuat Vallen dengan perlahan menghadapkan tubuhnya yang kini tepat berhadapan dengan sang pintu ruangan itu. Tangan kanannya begitu ragu terjulur kearah knop pintu, yang kini kembali Vallen jauhkan. Saat mendapat teguran dari salah satu pelayan di rumahnya.


"Apa yang nona lakukan?"


Menoleh ke sumber suara dengan raut wajah biasa tanpa senyum di bibirnya. "Apa ayah ada didalam?" Spontan Vallen yang bisa menggantikan topik tanpa merubah ekspresi.


"Dia belum pulang dari restoran nona." Jawabnya dengan senyum khas pelayan itu melihat Vallen yang diam ditempat, menganggukkan kecil kepalanya.


Melihat sebentar pelayan itu, sebelum berjalan pergi kearah dimana kamarnya berada. Tapi saat kakinya hampir saja menyentuh anak tangga itu, seorang pelayan lainnya berjuang cepat kearahnya dengan napas sedikit memburu. Membuat Vallen mengurungkan niatnya, mengerutkan samar keningnya melihat pelayan itu.


"Ada yang mencari nona diluar." Lontarnya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Siapa?"


"Saya tidak tahu siapa namanya nona, tapi dia laki-laki."


Tanpa mengatakan apapun lagi, Vallen memberikan begitu saja gelas di tangannya pada sang pelayan yang sebisa mungkin menerimanya. Sebelum menyusul Vallen, menahan tangan gadis itu yang menghentikan langkahnya.


"Tapi nona tidak diijinkan keluar oleh nyonya."

__ADS_1


"Jika kau tidak mengatakannya," diam sejenak menelan ludahnya, menatap pelayan itu dengan biasa tapi penuh makna. "Aku akan baik-baik saja. Wanita itu juga tidak akan tahun jika aku keluar rumah. Jadi tutup mulut mu."


"Baik nona." Menundukkan sedikit kepalanya, yang membuat Vallen kembali berjalan keluar dari rumah. Tanpa memperdulikan pelayan itu yang terlihat gusar sendiri. Karena dilain sisi, pelayan itu merasa takut jika nyonya besarnya tahu.


Melewati beberapa satpam yang berjaga di sana hanya bisa diam saling pandang, ingin mencegah Vallen tapi mereka harus berpikir lagi. Karena raut wajah gadis itu terlihat menyeramkan, walau ekspresinya biasa.


Membiarkan Vallen menemui seorang pria yang mereka juga tidak tahu siapa, karena wajahnya tidak begitu jelas, hanya karena tertutup tudung jaket sang pemuda . . para satpam masih melihat kedua insan yang telah berdiri berhadapan diluar pagar besi, mereka akan mengawasi Vallen, karena tidak ingin terjadi suatu hal terhadap nonanya.


Sedikit melirik kebelakang dimana para satpamnya berada yang terus saja melihat kearahnya, dan itu sangat dimaklumi oleh Vallen . . karena mereka tidak ingin terkena marah oleh ibunya akan dirinya yang keluar rumah.


"Kau tidak berniat menjauhkan tudung itu dari kepala mu?" Tanya Vallen yang hanya mendapat senyuman dari Taksa.


Itu membuat sang gadis membuang napas pelannya dengan melihat ke sembarang arah, walau hanya sebentar. Kembali menatap pemuda didepan matanya saat ini. "Katakan, apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bicara dengan mu saat ini."


Taksa mengangguk paham, karena pandangan para satpam setia melihat kearahnya maupun Vallen.


"Kau hanya melihat, bukan tahu segalanya. Jika aku bersama Delta, belum tentu aku dekat dengannya. Jika yang kau lihat Manda adalah teman ku, kau salah, tidak ada kata, 'teman' diantara kita." Sahut Vallen dengan nada rendah. Dan itu khas sekali di diri Vallen.


"Kau masih sama, tidak pernah menganggap siapapun orang yang di sekitarmu sebagai teman."


"Karena musuh itu senang sekali menyelinap dalam hal yang tidak bisa semua orang lihat."


Taksa kemabli mengangguk paham. "Aku hanya ingin memberi ku saran, jangan pernah melakukan hal konyol untuk mengungkap kematian orang lain . . yang awalnya tidak ada hubungannya sama sekali denganmu, itu akan berubah-- kau akan menjadi target utamanya."


"Aku tidak melakukan hal konyol seperti apa yang kau katakan. Apa yang aku lakukan itu untuk mengungkapkan kebenarannya . . kenapa dia melakukan itu pada muridnya sendiri?"


"Kau menuduh orang tanpa adanya bukti, kau bisa di tuntut karena pencemaran nama baik."

__ADS_1


"Untuk saat ini aku memang tidak ada bukti. Tapi, bukankah, tanpa bukti sedikitpun itu semua bisa di ungkapkan?"


Diam menelan ludahnya, tidak langsung menanggapi apa yang dikatakan Vallen. "Berhentilah, sebelum kau kehilangan semuanya."


Diam sejenak, "asal kau tahu, kekonyolan itu berubah menjadi kenekatan yang berakhir pengorbanan. Delta baru saja dilecehkan pria itu, apa kau benar tidak tahu? Jika mereka memiliki janji untuk bertemu."


Mengangguk kecil, sebelum kembali bersuara. "Ku harap itu memang benar, kau tidak tahu apapun. Jika kau tahu, apa kau akan merasa menyesal telah mengorbankan seseorang . . untuk rasa ingin tahu mu itu?"


"Kau benar, aku tidak tahu apapun yang dilakukan Delta. Jika merasa menyesal, bukankah semua orang akan merasa menyesal jika tidak bisa mencegahnya lebih dulu? Sebelum itu menjadi berantakan."


Saling pandang, dengan bibir yang mengatup rapat. Bergelut sendiri dengan pikiran mereka masing-masing, hingga sebuah takson mobil mengalihkan pandangan mereka. Membuat Taksa dengan spontan menarik pelan tangan Vallen untuk menyingkir.


Saat itu juga dua satpam penjaga rumah, tanpa perintah langsung membuka pintu pagar itu untuk memberi jalan mobil tuan mereka.


Menatap Taksa. "Pulanglah, kau akan berurusan dengan ayah jika menemui ku malam-malam seperti ini." Pinta Vallen.


Itu membuat Taksa mengangguk pelan, sebelum berjalan pergi dengan tangan membenarkan tudung kepalanya yang sedikit menunduk. Membuat Vallen berjalan masuk dengan tampang yang biasa. Itu menarik perhatian sang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Apa yang kau lakukan diluar malam-malam seperti ini?" Tanya sang pria kini mengarahkan pandangannya keluar pagar rumah, tidak lagi mendapati sosok pemuda yang ditemui Vallen.


"Dan siapa yang kau temui tadi?" Sambungnya kini menatap Vallen, berdiri didepan hadapannya.


"Taksa." Jawab Vallen apa adanya.


"Taksa?" Ulang sang pria yang tidak begitu yakin dengan nama yang baru saja terlontar dari mulut Vallen.


"Emm.." mengangguk pelan. "Taksa."

__ADS_1


Masih tidak percaya jika pemuda itu yang datang menemui Vallen. Jika benar itu Taksa, kenapa pemuda itu tidak langsung masuk ke dalam rumah? Tapi malah meminta Vallen keluar rumah. Tidak mungkin jika istrinya melarang Taksa masuk kedalam rumah?


__ADS_2