
Hal yang paling menyesakkan, paling menyakitkan, melihat orang yang mereka cintai tidak lagi bisa bersama-sama dengan mereka di kehidupan selanjutnya. Tapi mereka juga tidak bisa menyalahkan akan takdir dalam hidup mereka. Karena mereka hanya segumpal darah yang diciptakan oleh Tuhan.
Diam termenung dengan buku didepan matanya, walau tidak bisa fokus dengan materi dalam buku itu. Bukan karena bisik-bisik teman-teman sekelasnya yang tengah membahas siswi itu, tapi karena rasa penasarannya yang entah kenapa semakin menjadi-jadi.
Kenapa tidak ada satu bukti saja yang menunjuk ke pelaku?
Apa polisi bekerja sama dengan pelaku?
Atau,
Pelaku itu begitu pintar menyembunyikan semua bukti yang mengarah padanya?
"Semakin kesini sekolah kita semakin mengerikan?"
"Benar, apa aku harus pindah sekolah saja?"
"Sepertinya itu pilihan yang baik, kita harus pindah sekolah. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan pada kita."
Sedikit melihat kearah kerumunan siswi yang duduk di belakang. Benar, sebaiknya kita pindah sebelum menjadi target selanjutnya.
Tapi, tidak semudah itu keluar dari sekolah ini. Sekalinya masuk, sulit sekali untuk keluar . . walau memiliki alasan yang jelas.
Membuang napas pelannya, dan memilih berjalan keluar dari dalam kelas yang menarik perhatian Delta maupun Taksa . . hanya diam melihat kepergian Vallen.
Berjalan tidak tahu arah, melewati lorong setiap ruangan yang sepi . . semua murid berada didalam kelas masing-masing, walau tidak ada guru yang masuk kedalam kelas. Karena kita disuruh untuk belajar sendiri.
Dan entah kenapa langkahnya mengarah dimana ruang musik berada, dimana di sana ada dua orang pria asing yang masuk kedalam sana. Membuat Vallen berjalan mendekat, melihat melalui jendela.
Dua orang pria asing itu tengah membenarkan CCTV didalam ruangan itu yang ditemani penjaga CCTV lainnya.
"Apa dia berubah pikiran?" Ucapnya dalam hati.
"Seharusnya kau ada dikelas mu, bukannya berdiri disini."
Suara familiar menyapa indera pendengarannya . . membuat Vallen menoleh ke sumber suara, dimana pemilik suara itu telah berdiri di sampingnya. Sekilas melihat Vallen sebelum meluruskan pandangannya kearah para pekerja didalam ruangannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan guru sendiri? Bukankah seharusnya anda berada di ruang guru untuk mengikuti rapat?"
Pria itu mengangguk pelan, kembali menatap Vallen yang begitu terang membalas tatapan dari sang pria tanpa adanya lengkungan sedikit saja di bibirnya.
"Hanya orang-orang tertentu yang mengikuti rapat." Tersenyum. "Dan aku tidak termasuk orang penting itu."
"Kembalilah ke kelas, mungkin saja guru mu sedang perjalanan dikelas." Sambungnya dengan senyum khas pria itu. Berjalan masuk kedalam ruang musik tanpa menunggu tanggapan dari Vallen.
Semakin penasaran dengan isi kepala pria itu. Berjalan pergi kearah lain, bukan kembali ke kelas . . melainkan gadis itu pergi ke ruang CCTV, untuk melihat ulang kejadian semalam. Jika itu tidak di hapus oleh pelakunya.
Masuk begitu saja kedalam ruangan yang tidak begitu besar itu, tidak mendapati penjaga satupun di sana. Membuat Vallen lebih sedikit luas untuk melihat semuanya.
Duduk di kursi depan layar monitor yang lebar. Mengurungkan tangannya menekan mouse itu. "Jika itu tidak dihapus, polisi sudah menangkapnya bukan? Karena lorong itu juga sudah terdapat CCTV-nya."
Membuang napasnya sedikit panjang sembari bersandar pada kursi itu, meluruskan pandangannya kearah layar monitor . . tidak terkejut akan kehadiran sosok pria yang terlontar kaget diambang pintu ruangan itu.
Membuang napas lega dengan tangan mengusap dadanya sebentar. Berjalan masuk, duduk begitu saja di samping Vallen yang masih fokus melihat layar itu.
"Apa kau menyukai disini daripada di kelas mu?" Cetusnya menatap Vallen dari samping.
Tidak langsung paham akan perkataan dari Vallen. Tapi pria itu tetap menanggapinya, walau sedikit tidak nyambung. "Mungkin ada perasaan takut di hatinya, akan kejadian tadi pagi."
Diam, tidak menyahut. Tapi keningnya mengernyit samar, pandangan setia lurus ke depan.
"Tapi ngomong-ngomong," Sekilas menelan ludahnya. "Apa yang kau lakukan semalam di sekolah?"
Sebisa mungkin Vallen tidak menunjukkan rasa keterkejutan akan perkataan yang terlontar dari pria di sampingnya. Bukannya apa-apa, Vallen hanya tidak ingin tuduhan itu mengarah padanya maupun Delta. Itu bisa membuat hidup Delta semakin sulit, lain halnya dengan Vallen-- gadis itu akan hidup karena memiliki koneksi dari kedua orang tuanya . . yang akan lebih mengutamakan Vallen dari apapun.
Tapi, rumor akan menyebar begitu cepat. Karena banyak penghuni sekolahnya yang pendiam tapi menghanyutkan. Itu bisa menimbulkan ke salah pahaman yang berujung penyesalan.
Menyandarkan punggungnya, depan pandangan lurus ke depan. Tidak begitu berharap dengan Vallen yang kemungkinan besar akan menanggapi perkataannya.
"Kau hanya melihatku?" Pelan Vallen, kini perlahan menoleh ke sampingnya yang langsung mendapat balasan tatapan dari pria muda itu.
"Tidak, kau bersama seseorang, tapi bukan Manda."
__ADS_1
Vallen mengangguk kecil kembali meluruskan pandangannya. Mengabaikan pria itu yang masih saja menatapnya dengan pandangan intens.
"Jangan bilang jika kau_"
"Kenapa kau tidak memprovokasi mereka? Jika kau melihatku semalam."
"Bagaimana bisa aku menghasut mereka jika aku tidak memiliki bukti sama sekali?"
"Bukannya ada rekaman CCTV-nya? Kenapa kau tidak menunjukkannya pada mereka?"
"Itu yang sejak tadi aku pikirkan, CCTV-nya gelap. Tidak ada apapun yang direkam, padahal tidak mati."
"Bukankah kau_"
"Aku melihat mu saat ingin pergi ke kamar mandi semalam, bukan dari rekaman CCTV." Sarkas sang pria.
"Padahal semalam aku tidak tidur, dan tidak ada yang datang keruangan ini." Sambungnya yang kini diam memikirkan suatu hal yang masih abu-abu, itu sangat jelas dari raut wajah sang pria.
"Jika benar kau yang melakukan hal itu, katakan padaku. Karena pasti ada alasannya, kenapa kau melakukan hal itu." Pinta sang pria yang penuh harap.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya mengikutinya."
"Mengikuti? Siapa yang kau ikuti?"
Belum juga Vallen membuka mulutnya untuk menanggapinya, seorang pemuda yang kini masuk kedalam ruangan itu menarik pandangan Vallen maupun sang pria . . melihat kehadiran pemuda itu dengan sorot mata yang berbeda.
"Siapa kau?" Cetus sang pria, sekilas menaikan dagunya.
"Mu-rid baru." Sahutnya dengan berjalan mendekatkan. Berdiri di samping Vallen yang kini beranjak dari duduknya.
Sebentar menatap Taksa dengan pandangan biasa, sebelum berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun.
"Seharusnya kau pergi ke ruang guru, bukannya kesini. Jika benar kau murid baru." Cerca sang pria yang kembali meluruskan pandangannya dengan kepala yang masih memikirkan keanehan pada CCTV-nya. Dan, semalam dirinya juga tidak hanya melihat Vallen dengan temannya. Ia juga melihat guru musik yang masih berkeliaran disekolah.
Tidak mungkin jika mereka bersekongkol.
__ADS_1