Psycho

Psycho
Bab 2


__ADS_3

Bel pulangpun berbunyi, Valeri mengajak Velic untuk pulang bersama. Seperti biasa Velic hanya diam dan merespon dengan anggukan kepala. Saat dalam perjalanan Valeri mencoba mengajak Velic bicara.


"Velic, nanti sore jalan-jalan di taman yuk."ajak Valeri


"Hemm."balas Velic.


"Oke nanti aku jemputya. Dadah Velic."ucap Valeri seraya masuk ke dalam rumahnya.


***


Sore harinya Valeri keluar rumah dan berjalan menuju rumah Velic. Di sepanjang perjalanan Valeri selalu tersenyum.


"Ah! aku akan pergi dengan Velic!"jertnya dalam hati.


Setibanya di rumah Velic, saat hendak mengetuk pintu Valeri mendengar sebuah teriakan. Bukan, lebih tepatnya bentakan.


"Dasar anak gila! lebih baik aku tidak pernah melahirkanmu! sana pakai sepatu perempuan biar tubuhmu terlihat tinggi dan cantik."


Valeri yang mendengarnyapun agak terkejut. Entah dapat keberanian darimana Valeri akhirnya mengetuk pintu tersebut.


Tak lama kemudian terdengar suara gagang pintu yang di putar. Pintu terbuka dan tampak sosok Velic. Namun anehnya Velic yang biasanya dingin tiba-tiba berubah ceria.


"Apa kau sudah menunggu lama?"tanya Velic.


"Hah! emm oh t..tidak aku baru datang."jawab Valeri terbata.


"Ya sudah ayo ke taman."ajak Velic.


Di sepanjang perjalanan Velic selalu tersenyum membuat Valeri semakin heran.

__ADS_1


"Lic kau nggak salah minum obatkan?"tanya Valeri polos.


"Haha ya enggaklah."


Sesampainya di taman rasa herannya hilang di telan senyuman Velic yang menurut Valeri bak seorang malaikat. Mereka melihat-lihat bunga-bunga yang berada di sana. Valeripun meminta Velic untuk memotret dirinya di antara bunga-bunga itu. Tak lupa juga Valeri modus ingin berfoto dengan Velic. Dia beralasan agar punya foto bersama dengan Velic.


"Valeri, Velic."panggil seseorang.


"Eh kak Evan lagi ngapain di taman?"tanya Valeri.


"Oh itu lagi jalan-jalan aja sama teman."jawab Evan ramah.


"Teman apa pacar"goda Valeri.


"Tentu saja teman. Sudah ya aku sudah di panggil."pamit Evan.


Evan segera berlari ke arah seorang perempuan.


Saat hendak pergi juga Valeri terkejut melihat siapa anak perempuan yang bersama dengan Evan.


"Lho itukan Loly si anak cheerleader."ucap Valeri terkejut.


"Kau kenal."tanya Velic.


"Ya ampun Velic! dia itu cewek paling populer di sekolah. Dia itu anak emas di sekolah kita. Bahkan dia pernah pacaran sama Tony yang adik kelasnya sendiri."


"Oh gitu."


Setelah itu mereka menjelajahi seluruh kios di sekitar taman.

__ADS_1


***


Suara bising membuat Valeri penasaran, dia penasaran dengan berita di sekolahnya. Pasalnya sudah 2 bulan tidak ada berita dari sekolahnya. Berita kali ini pasti yang terhot, sebab banyak yang membacanya. Namun setelah di dekati, ternyata di mading sekolah memamerkan berita tentang kematian Loly 2 hari yang lalu.


Valeri tambah bergidik karena Loly di bunuh dengan cara yang cukup kejam. Tak cukup dengan luka sayatan pembunuhnya juga menusuk bagian mata, jantung, hati bahkan juga memotong telinganya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.


"Eh kak Evan bikin kaget saja."


"Kau lagi baca berita tentang kematian Loly ya?"tanya Evan


"Iya kak padahal 2 hari lalu dia masih jalan sama kakak. Jangan sedih ya kak."


" Iya nggak apa-apa."


"Ya sudah aku kembali ke kelas ya kak."ucap Valeri.


Valeri berjalan cepat menuju kelasnya, tujuannya hanya satu yaitu bertemu dengan Velic. Saat di depan pintu dia melihat Velic seperti sedang melamun. Tapi sedetik kemudian Velic tersenyum ke arah Valeri yang sedang mendekat.


"Velic! aku ada berita menyeramkan tentang Loly."


"Ada apa dengan si anak emas itu?"tanya Velic.


"2 hari lalu dia di bunuh tau. Pokoknya ada banyak luka di tubuhnya. Tapi pembunuh itu bahkan tidak meninggalkan jejak sama sekali."


"Oh ya?lalu apa kau tahu siapa pelakunya?"tanya Velic seperti antusias.


"Ih Velic, orang pelakunya saja tidak meninggalkan jejak bagaimana mau tahu siapa yang membunuh."balas Valeri kesal.


"Eh tapi katanya kamera cctv berhasil nangkap gambar pelakunya. Mereka menebak pelakunya adalah seorang perempuan. Karena saat membunuh dia memakai rok terusan berwarna putih. Iih aku jadi takut Velic."

__ADS_1


"Tenang saja ada aku kok."ucap Velic mencoba bercanda tapi mampu membuat kedua pipi Valeri merona.


"Ah! Velic suka bercanda."ucap Valeri menjadi salah tingkah.


__ADS_2