
Berjalan pergi yang entah kenapa itu semakin membuat Satya semakin menjadi-jadi. Turun dari motornya, kembali mencekal tangan Vallen mau tidak mau menghentikan langkahnya tepat ditengah jalan raya itu.. untung saja tidak ada satupun kendaraan yang melintas.
Membuat Taksa berjalan cepat mendekati kedua insan itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Agar kau tidak bersikap seperti ini terus padaku."
"Ada apa denganmu? Bukankah sikapku seperti ini? Dan kau juga sudah tahu, tanpa ku beri tahu." Menjauhkan tangannya dari cekalan Satya yang malah semakin menguat, itu membuat ringisan pelan terlukis dibibir Vallen.
"Satya, sebenarnya ada apa dengan mu?" Berusaha untuk melepas cekalan dari tangan Satya.
"Aku hanya ingin mengantar mu pulang."
"Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan?" Catus Taksa sembari menyentak kasar tangan Satya dari pergelangan tangan Vallen.. kini ditarik pelan berdiri di belakang Taksa.
"Dia tidak ingin pulang bersama mu, kenapa kau memaksanya?" Sambungnya yang membuat Vallen memilih memutar tumit, kembali berjalan pulang ke rumah. Tidak perduli dengan kedua pemuda yang masih saling pandang, sorot mata mereka terlihat tidak bersahabat sama sekali.
.
.
.
Menelan ludahnya berulang kali dengan kepala yang menunduk, walau itu hanya sekilas. Sebelum melihat kembali sosok pemuda yang terbaring tidak berdaya di atas bad hospitals depan matanya saat ini.
"Apa kau tidak ingin tahu siapa yang membunuh kekasih mu?" Pelannya dengan senyum tipisnya.
"Sadarlah secepat mungkin, karena kau juga harus tahu. Sampai dimana teman-teman mu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi."
Mengangguk pelan, "walaupun itu sulit, entah itu bagimu ataupun bagi mereka. Bertahan hidup itu memang diperlukan, walau itu memang menyakitkan."
Tersenyum miris, akan dirinya sendiri. "Hanya itu yang ingin aku katakan. Aku menunggu kesadaran mu."
Menyunggingkan senyum tulusnya, sebelum berjalan keluar dari ruangan itu tidak mengatakan apapun lagi. Tanpa menyadari ada sedikit pergerakan dari jemari tangan kanan Saka, saat pintu ruang inap itu kembali ditutup rapat oleh Delta dari luar.
Membuang napas gusarnya diambang pintu dengan kedua tangan yang mencengkeram erat tali tas sekolahnya. Sebelum berjalan pergi dari tempatnya berdiri.
Saat itu juga sepasang kaki milik seorang gadis berpawakan tinggi, terhenti. Mengerutkan samar keningnya akan kehadiran Delta.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan disini?" Gumamnya, sebelum melangkah cepat kearah dimana ruang inap Saka . . hanya karena pikiran negatif senang sekali menyerang kepalanya.
Masuk kedalam ruangan yang tidak begitu luas itu, dengan pintu kembali tertutup. Melangkah mendekat, berdiri di samping bad hospitals. Sorot matanya terlihat begitu jelas jika kesedihan tengah menyerang raga Manda.
"Aku tahu, kau tidak akan pernah mengganti nama Runa di hatimu. Tapi setidaknya libatkan lah diriku dalam cerita hidup mu." Menelan ludahnya, sekilas menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak pernah melihatku sebagai perempuan, bukan sebagai teman?"
Deru napas yang tidak beraturan dari Saka, tidak membuat Manda mengalihkan pandangannya. Mengabaikan kehadiran Saka yang membuang napas pelan, sebelum berjalan mendekati Manda-- berdiri didepan pagar besi yang mengelilingi danau itu.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak kasian pada ayah mu? Dia mencari mu." Cetusnya kini berdiri di samping Manda. Melihat gadis itu sebentar, sebelum meluruskan pandangannya.
"Dia hanya berakting saat ibu berada di rumah." Tanggap Manda, tersenyum sekilas melihat Saka.
"Apa yang kau katakan?"
"Jika kau menemui ku hanya ingin membawa ku pulang, seharusnya kau tidak datang kemari." Cepat Manda.
Mengangguk pelan dan tidak membuka suaranya sedikit saja, hingga keheningan mulai menyapa, membiarkan angin malam menerpa wajah mereka dengan pikiran masing-masing.
"Kau tahu Saka, hanya dengan mu aku bisa mengatakan semua apa yang ada di hatiku . . tanpa ada kata ragu." Tersenyum hambar tanpa mengalihkan pandangannya.
"Teman?" Ulang Manda begitu pelan yang tidak didengar oleh Saka.
.
.
.
Meletakkan teko di tangannya di atas meja, saat ketukan dari pintu utama rumahnya menyapa indera pendengarannya. Membuat keningnya mengerut samar dengan melangkahkan kakinya . . kini terhenti sejenak, melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 23:30.
Saat ingin memilih masuk kedalam kamarnya, ketukan itu kembali terdengar.
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini?" Gumamnya yang tidak perduli dengan tamu didepan rumahnya.
Menutup rapat pintu kamarnya yang tidak lupa menguncinya. Memundurkan langkahnya kebelakang dengan rasa takut yang mulai menyerang pikirannya. Apalagi mengingat kejadian di sekolah. Delta tidak ingin berurusan dengan Taksa.
__ADS_1
Bagaimana jika orang didepan rumahnya itu Taksa? Jika iya, darimana dia tahu rumahnya?
Delta menggelengkan kepalanya, membuang pikiran negatif di otaknya. "Tidak, tidak, tidak . . tidak mungkin jika itu Taksa."
Perlahan menggigit bibir bawahnya, yang entah kenapa suasananya semakin mencengkam. Sebelum tubuhnya di sentakkan oleh gedean jendela kecil kamarnya.
Membuat Delta menelan ludahnya dengan susah payah, merangkak tanpa suara kearah pintu kamarnya. Dengan pelan memutar kuncinya yang kini perlahan membuka pintu kamarnya.
Ditutup kembali dari luar oleh Delta yang tidak lupa menguncinya. Berjalan cepat kearah pintu rumahnya, sebentar melihat keluar rumah dari balik tirai yang menutupi jendela samping pintunya itu.
Tidak mendapati siapapun diluar sana, membuat Delta membuka pintu rumahnya. Karena jalan satu-satunya, Delta harus pergi kerumunan banyak orang, agar tamu itu tidak bisa menemukan keberadaannya.
Kembali menutup pintu rumahnya dengan pelan, sebelum berjalan pergi dengan naskah cepat sembari menutup kepalanya dengan tudung jaketnya.
Sedangkan dilain sisik, sosok pria serba hitam dengan usahanya yang membuka jendela kecil itu berhasil dibuka.
Masuk begitu saja kedalam kamar Delta-- saat itu juga menghentikan langkahnya. Perlahan menoleh kesamping kirinya, dimana jendela kamarnya berada. Sebelum berlari secepat mungkin pergi dari sana dengan perasaan yang tidak karuan.
Membuang napas kasarnya dengan kedua kaki yang sudah berada di atas lantai putih itu. Mengedarkan pandangannya yang tidak mendapati Delta.
"Sial!!" Umpatnya yang tertahan.
Bernama kearah pintu dan dibukanya dengan kasar, yang alhasil, pintu itu tidak bisa dibuka . . karena dikunci dari luar. Membuat sosok itu geram sendiri.
Membalikkan tubuhnya sebentar sebelum menendang begitu saja pintu kamar milik Delta.
Tanpa menunggu lama lagi, sosok itu kembali keluar dari kamar itu melalui jendela kecil itu. Melihat sekitarnya yang tidak menemukan siapapun.
Berjalan pergi dengan pandangan liar, karena sosok itu begitu yakin . . jika Delta sudah keluar dari rumah, untuk mencari persembunyian.
Hingga didepan gang perumahan itu, langkah sosok itu sebentar terhenti. Mengarahkan pandangannya pada penjual makanan di sana, sebelum kembali berjalan pergi.
Dan itu membuat Delta membuang napas lega, bersandar pada kursi di sana.
"Kau terlihat ketakutan sekali? Apa ada yang mengejar mu?"
Suara familiar itu membuyarkan lamunan Delta yang sedikit linglung. Berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Tidak, tidak paman. Aku tidak apa-apa." Menggelengkan sebentar kepalanya. Melihat keluar dari kedai yang saat ini Delta singgahi. Tidak ada siapapun di sana.