Psycho

Psycho
25


__ADS_3

Kesalahan pahaman yang sering sekali singgah pada manusia melalui kedua matanya, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Itu memang menimbulkan masalah baru yang tidak akan ada ujungnya. Dan lebih baik mengalah daripada harus menanggapinya, itu akan bertambah ruyam.


Diam, bernama terus kearah dimana jalan keluar dari sekolahnya itu melewati banyaknya murid yang berhamburan di sekitarnya. Hingga langkahnya terhenti begitu saja saat Manda menghalanginya dengan wajah yang sama, begitu tidak suka saat bertemu dengannya.


Jika tidak suka, bukankah Manda seharusnya tidak menemuinya terus-menerus. Tidak mungkin jika Manda hanya ingin mencari perhatian semua orang? Jika memang itu adanya, kenapa harus dirinya yang Manda jadikan sasarannya? Memangnya sudah tidak ada orang lagi selain dirinya?


"Apa kau merasa begitu senang saat ini? Karena Vallen sering sekali berada di sampingmu." Sekilas menaikan alisnya menunggu tanggapan dari Delta.


"Senang atau tidak itu tidak ada hubungannya sama sekali denganmu." Diam sejenak, mengangguk pelan. "Pergilah dari sekolah ini, carilah sekolah yang jauh lebih aman dari sini. Kau bisa menggunakan koneksi ayahmu keluar dari ini."


"Seharusnya kau pergi dari sekolah ini, bukan diriku. Karena sekolah ini akan aman, jika kau tidak menginjakkan kakimu disini." Tekan Manda yang rasanya ingin memitas Delta.


"Jangan pernah menyesal jika kau masih bertahan disini." Sahut Delta yang kini pergi dari hadapan Manda . . tidak tinggal diam, gadis itu menahan tangan Delta yang menyentaknya begitu saja. Yang membuat Manda tersenyum tidak percaya, melihat tangan kanannya sebentar.


"Kau benar-benar tidak tahu malu, setelah merebut ayahku, kau juga ingin mengambil Vallen dariku? Dan, menyuruhku untuk pindah dari sini. Apa kau sudah gila?"


Menghadapkan tubuhnya, berdiri tepat didepan Manda. "Maaf jika ibuku mengambil ayah mu, tapi bukankah ayahmu memilih untuk tetap bersama mu daripada bersama ku, bukan? Kita memiliki ayah yang sama, tapi ibu kita berbeda. Dan, kenapa kau masih saja menyalahkan ku? Yang tidak tahu apa-apa soal itu semua."


Diam sejenak, mengedarkan pandangannya dengan senyum hambar-nya. Melihat banyaknya pasang mata yang melihat kearahnya maupun Manda. Bisik-bisik tidak jelas mulai menyeruak di indera pendengarannya. Mengangguk pelan dan kembali membalas tatapan dari Manda. "Soal Vallen, aku tidak mengambilnya darimu. Sampai kapanpun dia masih teman mu. Kau tenang saja, dia tidak menganggap ku sebagai temannya."


Saat itu juga sepasang kaki milik Vallen terhenti begitu saja, menoleh kerahasiaan Delta dengan pandangan biasa . . beralih menatap Manda sebentar, sebelum berjalan pergi dari sekolahnya untuk pulang ke rumah. Lebih tepatnya pergi ke restoran, untuk menemui ayahnya lebih dulu.


"Kau sengaja mengatakan hal itu saat dia datang, bukan?" Tajam Manda dengan mendorong pundak Delta yang mundur beberapa langkah kebelakang.

__ADS_1


"Itu apa adanya, aku bicara apa adanya. Jika kau tidak bisa mendengar apa yang aku katakan, setidaknya dengarkan apa yang dia katakan." Sahut Delta yang menatap Manda dengan bibir mengatup rapat.


Sedangkan Vallen yang kini menghentikan langkahnya tepat diambang pintu gerbang, menoleh kebelakang dimana dua gadis yang masih berada di posisi yang sama.


"Apa mereka akan beri diri terus-menerus seperti itu?" Pelannya yang kembali berjalan pergi kearah dimana halte bus terdekat dengan sekolahnya.


Walaupun Vallen lahir dari keluarga yang berkecukupan dengan beberapa kendaraan yang berjejer dihalaman luas miliki orang tuanya. Itu tidak membuat Vallen menggunakannya satupun, karena bagi Vallen naik bus dan jalan kaki diantara banyaknya penghuni di kota tempatnya tinggal . . itu lebih sedikit menyenangkan.


Dan Vallen juga bisa belajar, menilai karakter setiap orang yang ia temui dijalan.


Tidak begitu lama menunggu bus itu akhirnya datang berhenti di hadapan. Masuk kedalam bus dengan selembar uang warna biru kini diberikan pada sang sopir, memberi Vallen kembalian. Sebelum berjalan kearah bangku yang masih kosong.


Duduk di samping jendela, tanpa menyadari sepasang kaki mulai masuk kedalam bus. Dan duduk begitu saja di samping Vallen yang tersentak akan kehadiran Satya.


Tersenyum pada Vallen, dan kini meluruskan pandangannya.


Sudut bibir Satya tertarik keatas melihat kecantikan pelipur lara di wajah Vallen. Apalagi senyum simpul yang tersungging dibibir gadis itu. Hingga senyumannya luntur seketika dengan sentakan pelan di tubuhnya, karena Vallen dengan begitu saja menoleh menatapnya tanpa aba-aba.


"Kenapa? Kau tertarik dengan ku?" Begitu percaya diri Vallen mengatakannya, dengan sedikit memiringkan kepalanya.


Itu membuat Satya menjadi gugup sendiri, melihat ke depan dengan berdehem pelan. Hingga sudut bibir Vallen kembali tersungging akan tingkah Satya.


Memilih menyandarkan kembali punggungnya dengan senyum yang perlahan luntur begitu saja, tanpa maksud sedikitpun.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak tertarik dengan mu." Tanggap Satya dengan ragu. Mendapat anggukkan kecil dari Vallen.


Kembali menoleh menatap Satya. "Bagaimanapun aku percaya dengan apa yang dikatakan Manda." Meluruskan pandangannya tidak perduli dengan rasa ingin tahu yang mulai menyerang pikiran Satya.


"Memangnya apa yang dia katakan padamu?"


"Jika aku mengatakannya padamu, itu sama saja aku mengikuti janji. Dan itu bukan lagi rahasia." Sahut Vallen.


Satya kembali tersenyum, menyandarkan punggungnya. "Jangan terlalu percaya dengannya, kebanyakan apa yang dikatakan Manda itu hanya omong kosong."


"Kebanyakan. Tapi sebagian dari kebanyakan itu, yang terlontar dari mulut Manda apa adanya." Terus saja menanggapi apa yang dikatakan Satya, itu mengurangi rasa bosan dalam dirinya.


"Dan, aku mempercayai salah satunya." Sambung Vallen dengan senyumannya. Sebelum menoleh ke luar, dimana pemandangan danau dan beberapa gedung diujung sana.


Sampainya di pemberhentian bus, tidak hanya ke udara insan saja . . tapi beberapa penumpang dalam bus itu, keluar dari sana, karena telah sampai tujuan mereka masing-masing.


Diam sejenak, sebelum membalikkan tubuhnya, berdiri dihadapan Satya. "Kau bisa pulang, terimakasih sudah mengantarkan ku."


"Aku tidak mengantarkan mu, aku ingin makan di tempat makan milik ayahmu." Tanpa menunggu tanggapan dari Vallen, Satya berjalan lebih dulu.


Membuat Vallen mengerutkan sama keningnya, sebelum melangkahkan kakinya dengan bergumam. "Sejak kapan dia menyukai makanan restoran?"


Masuk kedalam tempat yang tidak begitu ramai pengunjung, membuat Vallen terus berjalan mencair keberadaan ayahnya.. tidak memperdulikan Satya yang kini menghentikan langkahnya, melihat punggung Vallen yang perlahan hilang dari pandangannya. Sebelum duduk di kursi yang kosong, membuat salah satu pelayan di sana mendekati Satya dengan buku menu.

__ADS_1


Membuat Satya menaikan alisnya walau sekilas, sebelum mengambil alih buku ditangan sang pelayan itu yang tersenyum sopan. Menunggu Satya memilih makanannya.


Dan kembali menerima buku menu itu setelah Satya memesan satu makanan dan minuman, dengan menunggu Vallen.


__ADS_2