Psycho

Psycho
26


__ADS_3

Rasa tidak suka yang berakhir menjadi suka, walau itu terpaksa, hanya karena ingin melihat sedikit lama seseorang yang telah mengisi hatinya.


Sebentar melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya yang menunjukkan pukul 19:00, dan makanan yang dirinya pesan pun tidak disentuh setelah satu suapan. Menaikan sekilas lid hanya didalam mulut, sebelum berdiri dari duduknya. Tapi saat itu juga Satya kembali duduk saat kedua matanya mulai melihat kehadiran Vallen yang berjalan keluar.


Menghentikan langkahnya di depan mata Satya yang tersenyum pada Vallen, walau tidak mendapat sedikit saja balasan.


"Kau masih disini?"


"Emm.. makanan disini rasanya enak, jauh sekian dari dugaan ku." Sahut Satya yang tidak melunturkan senyumannya.


Itu membuat Vallen sebentar melihat dimana piring yang masih penuh dengan makanan. Beralih pada Satya tanpa mengeluarkan suaranya, dan memilih berjalan pergi meninggalkan Satya.


Berdiri dari duduknya, menyusul kemana perginya Vallen yang telah masuk kedalam sebuah mobil putih kini melaju pergi begitu saja dari halaman luas tempat makan itu. Tidak perduli dengan Satya yang membuang napas pelan.


"Seharusnya kau tidak menunggu ku sampai malam seperti ini." Batin Vallen melihat Satya dari balik spion mobil milik ibundanya itu.


"Kau tidak ingin mengatakannya pada ibumu? Tidak seperti biasanya kau seperti ini. Apa ada hal yang menganggu pikiran mu?" Cetus sang wanita yang fokus pada menyetirnya itu, tanpa menoleh kearah Vallen sedikit saja.


"Tidak!! Aku hanya ingin pulang." Sahut Vallen yang meluruskan pandangannya.


"Seharusnya kau melakukannya sejak dulu, agar ayahmu tidak terus menyuruh ibu untuk membujuk mu pulang ke rumah."


Lebih memilih dimana, mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut wanita di sampingnya. Walau benaknya begitu lelah akan ocehan ibundanya sendiri itu.


"Dan untung saja nilai mu tidak turun sama sekali, itu bisa membuat kepala ibu tambah pikiran. Setidaknya pertahankan nilai mu, walaupun tidak naik satu angka saja." Diam sejenak. "Karena tidak ada yang bisa menggeser namamu sekarang di peringkat pertama."


"Bisakah ibu tidak membicarakan soal itu?" Lelah Vallen yang menghentikan ibunya, jika tidak dihentikan saat ini juga-- wanita di sampingnya akan membahas soal Runa, itu benar-benar membuat kepalanya ingin meledak.

__ADS_1


"Aku ingin mengambil laptop dan beberapa buku ku di apartemen, bisakah ibu mengantarkan ku ke sana lebih dulu." Pinta Vallen yang tidak begitu berharap sedikit saja terhadap ibunya, yang mungkin saja akan menolak apa yang Vallen inginkan.


"Kau bisa mengambilnya esok hari." Tanggap sang wanita yang tidak jauh dari dugaan Vallen.


"Aku tidak akan bisa keluar rumah begitu saja saya sudah berada di rumah." Cepat Vallen.


"Ibu bisa mengambilnya untukmu esok hari."


"Apa aku harus melewatkan tugas sekolah ku yang harus dikumpulkan esok hari?" Sarkas Vallen yang berusaha terus-menerus, agar wanita itu mengantarkannya ke apartemennya.


Karena Vallen juga ingin melepas semua foto yang tertempel di dinding kamarnya. Jika wanita di sampingnya yang akan membereskan semua barang-barangnya, itu akan kacau semuanya. Wanita itu akan marah besar padanya, karena lebih mementingkan hal yang tidak berguna, dan tidak belajar saat tinggal sendiri di apartement.


Tanpa mengatakan apapun lagi, sang wanita memilih jalur jalan kearah dimana apartement yang ditinggali Vallen, itu membuat sang empu membuang napas pelan yang begitu lega. Karena ibunya langsung pergi ke apartement-nya. Untung saja Vallen tahu apa kelemahan ibunya jika menyangkut dirinya.


Nilai, Vallen akan mengunakan itu untuk memanfaatkan ibunya sendiri. Walaupun itu terlihat tidak begitu sopan dan tidak menghargai sosok ibu . . tapi bagi Vallen hanya itu senjata paling ampuh untuk memojokan ibunya disaat situasinya seperti ini.


"Ibu akan menunggu disini, ambillah barang yang kau butuhkan esok. Untuk sisanya, biar ibu yang mengurusnya esok hari."


Menekan beberapa digit angka, sebelum masuk kedalam kamar itu yang pintunya terkunci secara otomatis. Tanpa melepas sepatunya lebih dulu, Vallen mengarahkan dimana kamarnya berada. Mendekati dimana dinding yang tertempel dengan beberapa buku ataupun tulisan di kertas.


Melepas semua yang tertempel di dinding kini dimasukan kedalam tasnya tanpa ditata lebih dulu. Berjalan dimana meja belajarnya berada, memasukan beberapa buku sekolahnya. Dan kembali keluar dari apartement-nya setelah menyambar laptopnya . . karena benda itu paling penting.


Sampainya di lingkungan rumah milik keluarga Vallen, gadis biru keluar begitu saja dari dalam mobil. Berjalan masuk tanpa menunggu ibundanya, karena Vallen ingin pergi ke alam mimpinya secepat mungkin, untuk meredakan rasa sakit di kepalanya. Apalagi saat mengingat kembali perkataan dari ayahnya, itu ampuh dirinya merasa frustasi sendiri.


Walau auranya terluka dingin sekali, tapi sikap sopan santun ya akan terus melekat pada dirinya. Mengetuk pintu didepan matanya yang tidak langsung mendapat tanggapan dari sang pemilik ruangan itu.


Kembali mengetuk pintu itu sedikit kencang agar dirinya bisa cepat pulang.

__ADS_1


"Tidak seharusnya kau berada disini."


Spontan menoleh ke sumber suara yang dimana sosok pria setengah paruh baya berdiri, berjalan mendekati Vallen dengan senyumannya. Menyempatkan mengusap lembut kepala Vallen yang masih diam, mengatupkan rapat bibirnya.


"Ada perlu apa kau datang kesini? Apa ibu mu tahu?"


"Dia tidak akan perduli kemana aku pergi, jadi dia tidak tahu keberadaan ku saat ini." Jawab Vallen yang mendapat anggukkan pelan dari sang pria.


"Ada yang ingin kau katakan?"


Vallen mengangguk sebagai respon.


"Sepertinya itu sangat penting, hingga kau datang kemari. Masuklah, kita bicarakan didalam." Pria itu membuka pintu yang mengijinkan Vallen masuk kedalam.


Melangkah lebih masuk mendekati sofa yang tersedia di ruangan itu. Duduk dengan tenang, menatap sang pria yang duduk dihadapannya dengan pandangan biasa tapi terlihat begitu serius.


"Katakan, apa yang kau inginkan?"


"Bisakah ayah menyuruh kaki tangan ayah untuk menyelidiki seseorang." Kata itu yang ingin sekali Vallen katakan, tapi entah kenapa tertahan begitu saja di tenggorokannya.


"Aku tidak ingin apapun, aku akan pulang ke rumah seperti apa yang ayah inginkan." Lontar Vallen.


Tapi tidak membuat sang pria langsung percaya. "Kau tidak akan pulang ke rumah jika tidak ada sesuatu."


"Bukankah itu yang ayah harapkan selama ini?" Sekilas menaikan alisnya, sebisa mungkin untuk tidak mengatakan lebih dulu apa masalah yang tengah dirinya hadapi saat ini.


"Kau tahu Vallen, jika kau pulang ke rumah malam ini . . kau tidak akan bisa lagi keluar rumah seperti apa yang kau inginkan." Peringatan akan sang pria katakan lebih dulu, agar Vallen berpikir dulu sebelum mengambil tindakan yang akan membuat gadis itu merasakan penyesalan seumur hidupnya.

__ADS_1


Nafsu yang ada dalam dirinya, ingin mengetahui hal yang lebih jauh lagi, Vallen siap rela mengorbankan apa yang selama ini dirinya genggam.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan." Ucap Vallen dengan nada rendah.


__ADS_2