
Pelajaran pertama hari ini adalah sejarah. Hari itu mereka diberi tugas ileheh mr. Fredy-guru sejarah mereka-untuk membuat makalah tentang sejarah eropa abad pertengahan. Tapi ada 1 masalah, makalah itu harus di buat secara kelompok dan minimal 1 kelompok ada 3 anggota. Saat Valeri masih bingung karena mereka kekurangan 1 anggota lagi. Datang seorang anak perempuan.
"Hai, aku boleh gabung dengan kalian nggak?"tanyanya.
"Oh boleh, kebetulan kami juga masih kurang 1 anggota lagi. Tapi nggak biasanya kau ingin sekelompok dengan kami."
"Iya aku lagi ingin ganti kelompok. Sepertinya kelompok kalian cukup menarik."
Nama anak itu adalah Putri. Termasuk salah satu murid pintar dan berprestasi. Entah kenapa Valeri merasa heran dengan Putri. Biasanya dia lebih suka satu kelompok dengan anak-anak pintar. Tapi kali ini dia ingin satu kelompok dengan Valeri. Tapi pikiran itu segera di hilangkan dari kepalanya. Setelah di pikir-pikir lagi Velic juga termasuk murid pintar, jadi mungkin karena itu Putri bergabung dengan kelompok mereka.
***
"Putri tungguin ya!"
"Oke."
Setelah pelajaran sejarah Valeri tiba-tiba ingin buang air kecil. Awalnya dia ingin mengajak Velic, tapi setelah di pikir-pikir nanti takut di kira mau aneh-aneh. Akhirnya dia mengajak Putri dan untungnya Putri mau menemaninya.
Tak berselang lama Valeri keluar dari dalam toilet. Valeri melihat Putri yang sedang menunggunya. Mereka berdua keluar dan berjalan menuju kelas. Ditengah perjalanan saat mereka melewati ruang musik, mereka melihat seseorang.
"Eh itukan kak Evan. Sama siapa ya?"tanya Valeri
"Enggak tau."jawab Putri singkat.
Jiwa kepo Valeripun muncul. Valeri mengajak Putri untuk mendekat agar bisa mendengar lebih jelas.
"Kak aku suka sama kakak udah lama, tolong jadi pacarku."
Valeri melongo, ternyata ada seseorang yang sedang menembak Evan. Valeri juga mengenali orang itu. Namanya May salah satu murid di kelas Valeri.
"Maaf ya aku nggak bisa jadi pacarmu."tolak Evan secara halus.
May menundukkan kepalanya,sepertinya dia kecewa. Tapi tak lama kemudian dia mengangkat kepalanya kembali.
__ADS_1
"Meskipun kakak menolakku aku akan tetap mengejar kakak."ucapnya lagi.
May segera pergi berlari. Valeri yang menyaksikannya berpikir mungkin Evan masih memikirkan tentang Loly.
"Dia akan mati."gumam Putri.
Valeri yang mendengarnya terkejut.
"Kau bilang apa tadi?"tanya Valeri memastikan.
"Eh bukan, aku hanya bilang 'dia di tolak' saja. Sudah ayo ke kelas."
Walaupun yang di katakan Putri hanya itu, tapi Valeri merasa yakin kalau Putri mengatakan hal yang berbeda.
"Apa jangan-jangan Putri...."
Tapi dia segera menepis pikiran itu. Memikirkan cara pembunuh untuk membunuh Loly saja membuat tubuhnya bergidik ngeri, apalgi kalau berada di samping pembunuh sungguhan.
"Kok lama?"tanya Velic.
"Iya tadi ada kejadian luar biasa di ruang musik." Valeru sengaja memelankan suaranya takutnya May dengar.
"Kejadian apa emang?"tanya Velic lagi.
"Itu ada yang nembak kak Eavan."
"Lah mati dong orangnya kena tembak."
"Iiih Velic jangan lola deh kan tembaknya pake cinta."jawab Valeri.
"Ooh siapa yang nembak?"untuk kesekian kalinya Velic bertanya.
"Aish makannya sabar dulu, biar aku jelasin. Gini waktu aku mau balik ke kelas aku nggak sengaja liat kak Evab diruang musik sama anak perempuan. Nah aku kan tukang kepo, jadi aku sama Putri nguping pembicaraan mereka. Tetnyata eh tetnyata anak perempuan itu May. Dia nembak kak Evan terus di tolak."
__ADS_1
"May?"
"Iya May yang itu loh."ucap Valeri sambil menujuk kearah belakang dengan hati-hati.
"oh. tapi kayaknya dia lagi berantem deh."
Valeri menoleh dan benar May sedang bertengkar dengan Shena.
"Eh Shena! jangarep ya kau bisa dapetin kak Evan!"
"Apaan sih, akukan cuma bilang 'mau nembak kak' Evan gitu doang. Emang apa masalahmu, padahal jelas-jelas kau baru saja di tolak."balas Shena sengit.
Anak-Anak lain sudah berusaha memisahkan mereka tapi apa daya, perempuan kalau sudah bertengkar sangat mengerikan.
Valeri hanya memutar bola matanya jengah.
"Ah mereka berdua rebutin kak Evan lagi."
"Kau nggak suka dia?"tanya Velic
"Ya nggak lah aku udah suka sama orang lain."Jawab Valeri
"Siapa?"
"Ih rahasia dong."
"Ya udah deh."
Valeri dan Velic kembali sibuk dengan dunianya masing-masing. Sementara May dan Shena di panggil guru BK untuk di beri hukuman karena telah membuat kegaduhan. Valeri melirik Velic sedikit lalu tiba-tiba wajahnya menjadi murung.
"Aku itu suka sama kamu."ucap Valeri dalam hati.
Wajahnya semakin tertunduk lesu. Valeri berharap Velic sedikit lebih peka terhadap perasaannya. Di jatuhkan kepalanya ke dalam lipatan tangan. Entah sampai kapan dia harus menyipan perasaannya.
__ADS_1