Psycho

Psycho
17


__ADS_3

Rasa ketakutan yang membuatnya tidak ingin pulang ke rumah, biarlah Delta menunggunya sampai pagi. Dan untung saja kedai yang di singgahi-nya tidak begitu ramai, jadi itu tidak membuat Delta memenuhi kedai itu.


Sedikit tersentak akan gelas berisi teh hangat diletakkan begitu saja didepan matanya oleh pemilik kedai itu . . duduk berhadapan dengan Delta yang menyunggingkan senyum kecilnya.


"Apa perlu aku mengantarkan mu pulang ke rumah."


"Tidak perlu paman, aku hanya ingin disini sebentar lagi." Tersenyum kikuk dengan helaan napas pelan, melihat ke sembarang arah.


"Jika kau dihantui rasa bersalah, sebaiknya kau meminta maaflah secepat mungkin. Karena, penyesalan itu penyakit yang paling menyakitkan. Dan," diam sejenak. "Sampaikan apa yang ingin kau katakan, karena waktu tidak bisa kau putar lagi."


Tersenyum tulus sebelum beranjak dari duduknya untuk membuatkan pesanan pembelinya itu yang-- tidak sengaja mengarahkan pandangannya pada Delta. Itu membuat sang paman mengikuti arah sang pembeli dengan kening mengerut samar.


"Kau mengenalnya?" Tanya sang paman pada sang pembeli.


"Hanya sebatas nama." Sahutnya dengan cepat, sedikit tersenyum. Sebelum berjalan mendekati Delta, itu membuat sang paman mengangguk paham.


"Aku tidak akan meminta ijin mu lebih dulu." Cetus Vallen yang duduk begitu saja dihadapan Delta.


Menelan ludahnya, sedikit merasa heran akan kehadiran Vallen malam-malam seperti ini.


"Kenapa kau datang kemari?" Tanya Delta begitu spontan, membuat Vallen sebentar menunjuk kearah paman.


"Bukankah jarak dari umah mu dengan sini begitu memakan waktu. Apa disana__"


"Tidak, di sana tidak ada penjual saat malam hari. Apa salahnya jika aku datang kemari? Jika perutku merasa lapar." Sarkas Vallen yang membuat Delta mengangguk pelan.


Keheningan mulai menyapa mereka yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Delta termenung melihat teh hangat didepan matanya, sedangkan Vallen sibuk dengan handphonenya.


"Bagaimana dengan mu sendiri? Kenapa kau ada disini saat karut malam? Apa Taksa menemui mu?"


Terkenal akan kalimat akhir yang terlontar dari mulut Vallen-- meletakkan handphonenya, menatap Delta.


"Bukannya ingin tahu, apa yang kau lakukan di rumah sakit sore tadi? Kau menemui Saka?"


"Da-darimana kau tahu?"


"Manda yang memberitahuku, dia melihat mu di sana."


"Manda?" Sedikit melebarkan kedua matanya.

__ADS_1


Dan Vallen hanya bergumam sebagai jawabannya.


Membuang napas pelannya dengan pandangan ke sembarang arah. Sebelum kembali melihat Vallen yang mulai memainkan handphonenya.


"Aku tidak yakin apa yang aku lihat malam itu." Menelan ludahnya.


Membuat Vallen menghentikan kemari lentiknya yang ingin menggeser layar handphonenya itu. Perlahan membalas tatapan dari Delta, dengan layar handphonenya yang perlahan menjadi gelap.


"Seharusnya aku menghubungi pihak polisi secepat mungkin saat itu." Tersenyum miris tidak menatap Vallen . . mengingat kembali dimana dirinya melihat tubuh Runa yang terbujur kaku, di penuhi darah.


"Aku memang pengecut,"


Masih diam, tidak membuka mulutnya untuk bicara. Karena Vallen ingin mendengar semua perkataan dari Delta tanpa harus menyelanya. Jika Vallen menyelanya sekali saja, pasti Delta akan melupakan apa yang ingin gadis itu katakan . . karena pertanyaan darinya.


"Aku hanya takut, tuduhan itu mengarah padaku. Aku tidak melapor pun, banyak dari mereka yang menuduhku. Jika aku yang membunuh Runa, padahal itu tidak benar sama sekali."


Mengarahkan kepalanya tepat menatap netra hitam milik Vallen. "Kau percaya denganku, bukan?"


"Sosok itu menyeret tas besar yang diisi oleh Runa, aku tidak tahu setelah itu apa yang dia lakukan. Dan, wajah sosok itu juga tidak begitu jelas di pandanganku. Esok harinya, aku menemukan foto Taksa. Tapi aku ragu jika memang dia yang melakukan itu pada Runa." Diam sejenak. "Apa mereka saling mengenal sebelumnya?"


"Orang jahat belum tentu dia pelakunya." Cetus sang paman begitu saja. Tersenyum, meletakkan namanya makanan berisi satu porsi nasi goreng dengan segelas teh hangat.


"Dan orang baik, belum tentu jika dia bukan pelakunya." Ucap Vallen dengan nada rendah. Yang mendapat anggukkan setuju dari sang paman.


Menggeser kursi, duduk di samping dia gadis itu. Ikut meninbrung, mungkin saja sang paman bisa membantu mereka.


"Berhentilah menuduh, orang yang belum pasti. Dan, jangan mudah tertipu dengan sikapnya. Belum tentu pelaku itu menunjukkan silakan buruknya. Karena banyak sekali para pelaku yang bermain dengan rapi, pelaku akan mengambil jalan aman-- agar tidak diketahui oleh musuhnya." Lontar sang paman, membuat kedua gadis itu terlihat tengah memikirkan suatu hal yang masih abu-abu.


"Sebelumnya Taksa tinggal di kota baru, kota itu jauh sekali dari tempat ini. Tidak mungkin jika orang tuanya lengah mengawasi Taksa. Walaupun," menggeleng pelan, tidak menuntaskan perkataannya.


"Jika bukan Taksa, kenapa__"


"Mungkin saja pelaku ingin mengecoh kita. Dan, menambah korban lagi." Sela Vallen yang mendapat anggukkan setuju dari sang paman.


Diam, hingga keheningan kembali menyelimuti mereka.


.


.

__ADS_1


.


Tidak seharusnya kedua murid sekolah menengah atas berdiri didepan rumah tua, disaat jarum jam sudah menunjuk pukul 08:02. Apalagi dengan seragam khas sekolah mereka yang melekat di tubuh masing-masing.


Bagaimana jika ada orang yang melihat mereka? Dan melaporkannya pada pihak sekolah. Apa mereka akan mendapat hukuman? Karena tidak masuk kedalam kelas.


Tenang, mereka tidak membolos seutuhnya, mereka hanya membolos saat jam pembelajaran pertama. Mereka juga akan kembali ke sekolah. Mengikuti pelajaran setelah jam istirahat.


"Kau yakin disini tempatnya?"


"Oh, aku sangat yakin." Sahut Delta yang masih ingat 100% tempat kejadian, dimana dirinya melihat Runa.


"Tapi tubuh Runa ditemukan di kamar apartement-nya." Masih sedikit tidak yakin dengan apa yang dikatakan Delta. Karena kedua matanya pun juga menjadi saksi bisu temannya yang telah tiada itu.


Merogoh saku rok rempel-nya untuk mengambil handphonenya, mencari-cari foto Runa yang sempat Delta potret waktu itu.


"Ini," tunjuk Delta pada Vallen.


Diam melihat foto Runa di dalam layar handphone Delta. Perlahan mengambil alih handphone itu, menggeser pelan foto itu yang mendapati foto yang sama, dengan posisi yang berbeda.


Menge-zoom foto itu, untuk melihat setiap sudut di sana. Dan itu benar, itu bukan ruangan apartemen milik Runa.


Mengembalikan handphone itu pada Delta.


"Ayo kita masuk!!" Ajak Vallen yang lebih dulu berjalan mendekati rumah itu.


Membuat Delta mengangguk pelan, mengedarkan sebentar pandangannya . . sebelum mengikuti Vallen.


Memegang knop pintu rumah itu yang perlahan dibuka oleh Vallen.


Mengibas-ngibasi pelan ke udara karena debu yang berterbangan.


Melihat sekelilingnya yang benar-benar tidak terurus.


"Kau bisa menunjukkan dimana tempat itu."


Delta mengangguk pelan. Berjalan lebih dulu kearah dimana ruangan yang menjadi saksi bisu kepergian Runa.


"Disini tempatnya." Ucap Delta.

__ADS_1


Kembali meliar-kan kedua matanya, yang terhenti pada darah kering di atas lantai itu. Membuat Vallen berjongkok, untuk melihatnya lebih dekat lagi.


__ADS_2