Psycho

Psycho
duabelas


__ADS_3

Tidak seharusnya Delta keluar malam seperti ini disaat hujan tengah turun begitu lebat, walau tidak ada satu kilat petir yang berbunyi. Tapi sama saja. Seharusnya Delta berada di rumahnya untuk mengerjakan tugasnya, hanya karena perutnya yang merasa perih minta diisi . . dengan paksa Delta harus keluar rumah untuk membeli makanan didepan gang rumahnya. Walau jaraknya tidak begitu jauh, tapi Delta begitu malas jika harus keluar disaat hujan seperti ini.


"Seperti biasa ya paman." Pinta Delta dengan senyumannya."


"Baik non." Hanya itu yang dikatakan sang penjual nasi goreng, sebelum membuatkan pesanan untuk Delta.


Membuang napas pelan, sembari membalikkan tubuhnya untuk melihat kearah luar tenda itu. Hanya ingin melihat hujan, tapi sosok serba hitam menarik perhatiannya. Walau itu tidak begitu jelas, tapi Delta begitu sangat jelas melihatnya.


Menoleh kebelakang dimana penjual itu yang tengah sibuk dengan mengaduk-aduk nasi yang telah dibumbui. Tanpa mengatakan apapun, Delta membuka payungnya kembali. Berjalan pergi, mengikuti kemana perginya sosok serba hitam itu.


"Kenapa kau harus mengikutinya? Bagaimana dia jika dia pembunuh berantai? Bukankah kau masih ingin hidup? Walaupun dibawah kebahagiaan semua orang." Terus saja bergumam, merutuki dirinya sendiri. Kenapa harus mengikuti rasa penasarannya? Padahal itu bisa saja membahayakan dirinya.


Hingga di tempat yang sepi, benar-benar tidak dada siapapun yang melintas dijalanan itu. Sosok serba hitam menghentikan langkahnya, yang membuat Delta refleks menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok dinding pos, berjongkok dengan meramalkan doa.


Sedikit menyundulkan kepalanya hanya ingin melihat apa yang dibawa sosok serba hitam itu. Terbungkus tas besar. Tidak mungkin jika didalam tas itu ada orangnya. Kenapa udara di sekitarnya menjadi dingin sekali? Apa hanya karena hujan turun begitu lebat?


Spontan membekam mulutnya sendiri saat suara petir mulai terdengar.. harga nyawanya saat ini juga terancam, jika Delta sedikit saja menimbulkan suaranya.


"Apa yang dia bawa?" Gumamnya.


Spontan menyembunyikan tubuhnya kembali, saat sosok serba hitam itu mengedarkan pandangannya untuk memastikan jika tidak ada yang mengikutinya . . sebelum kembali berjalan dengan pelan, karena harus menyeret tas besar itu.


Membuat Delta dengan perlahan beri die dari jongkoknya. Melihat sekelilingnya yang tidak mendapati siapapun, berniat ingin kembali, dan tidak ingin masuk kedalam masalah yang mungkin saja akan merepotkan hidupnya . . tapi rasa penasarannya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Hingga kakinya melangkah begitu saja mengikuti rasa penasarannya.

__ADS_1


Sampai di sebuah bangunan rumah yang terlihat tidak ada penghunian, membuat Delta menyembunyikan tubuhnya dibalik pohon besar yang tertanam di halaman luas rumah itu . . saat sosok itu mengedarkan pandangannya.


Delta menyipitkan kedua matanya, karena ingin sekali mengetahui bagaimana raut wajah sosok itu. Walau tidak ada masker ataupun topeng yang menutupi wajahnya, tapi karena gelap . . Delta tidak begitu jelas melihatnya. Apalagi dengan jarak yang tidak begitu dekat itu.


Melangkah pelan mendekati rumah itu, saat sosok hitam telah menutup rapat pintu rumah. Meletakkan pelan payung di tangannya, dengan pandangan liar . . mencari celah untuk melihat apa yang tengah terjadi di dalam rumah itu.


Tapi sudah sekitar setengah jam, Delta mencarinya. Gadis itu tidak menemukannya sama sekali. Itu membuat Delta pergi dari tempat itu, sebelum kehadirannya diketahui oleh sosok serba hitam itu.


Tapi saat langkahnya hampir saja menginjak trotoar pejalan kaki, suara histeris menghentikannya. Menoleh kebelakang tepat dimana rumah itu berada dengan rasa takut campur penasaran.


.


.


.


Tapi lain halnya dengan Delta yang kini sudah berada didepan rumah tua yang semalam sempat Delta kunjungi. Seharusnya Delta tidak datang ketempat itu, karena sama saja Delta menyerahkan nyawanya begitu saja. Tapi, rasa penasaran yang telah mengutuk hatinya.


Melihat sekelilingnya yang benar-benar sepi, seperti tidak ada penghuni satupun orang disekitar lingkup di sana. Walau terdapat beberapa rumah yang berjejer di sana, tapi, tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.


Melangkah pelan tepat kini terhenti didepan pintu utama rumah itu, begitu ragu tangan kanannya memegang knop pintu yang perlahan terbuka. Membuat Delta masuk lebih dalam lagi, dengan pintu yang kembali tertutup.


Meliarkan pandangannya melihat setiap sudut rumah itu yang terlihat tidak lagi terurus. Karena banyak sekali debu dan sarang laba-laba ditempat tertentu.

__ADS_1


Hingga kedua matanya terhenti pada bercak merah dilantai dekat kakinya berdiri. Dan bercak itu tidak hanya sedikit, membuat Delta mengarahkan pandangannya mengikuti bercak darah itu.


Melangkah pelan, dengan kerutan samar di keningnya. Berpikir keras jika darah dilantai itu masih baru, karena terlihat jelas dari warnanya. Dan Delta menepis pikiran negatif didalam pikirannya.


"Tidak mungkin, jika pria itu__" gumannya terhenti, tenggorokannya tercekat. Tubuhnya kaku seketika.. pemandangan yang baru saja Delta lihat benar-benar membuat gadis itu kehilangan kewarasannya.


"Ru-ru-ru-na_" napasnya mulai memburu dengan langkah mundur, dan tangannya hampir saja menyentuh meja di belakangnya. Jika Delta tidak menghentikan langkahnya.


Berusaha menormalkan napasnya walau itu sulit, perlahan melangkah ke depan untuk melihat lebih jelas sosok gadis yang begitu Delta kenal. Keadaan gadis itu benar-benar kacau, beberapa sayatan luka di tubuhnya. Darah yang memenuhi sekeliling tubuh Runa.


Berjongkok didepan tubuh Runa dengan pandangan sedih. Merasa bersalah, seharusnya semalam dirinya masuk dan melihat apa yang pria itu lakukan.


"Maafkan aku, seharusnya aku menolong mu semalam. Aku tidak tahu jika aku yang berada didalam tas itu."


Mengerjap-ngerjap kan kedua matanya untuk menahan air matanya agar tidak keluar, tapi dengan pelan butiran bening itu mengalir begitu saja. Membuat Delta dengan cepat mengusap pipinya. Merogoh tas selempang-nya untuk mengambil handphonenya. Bukan untuk menghubungi polisi, melainkan untuk mengambil gambar Runa.. mungkin ada sedikit celah mengetahui siapa yang telah melakukan hal itu pada Runa.


"Maafkan aku.." Bukannya tidak ingin menghubungi polisi, Delta hanya takut jika semua orang tahu, terutama para murid di sekolahnya.. jika dirinya yang menemukan Delta. Mereka akan menuduhnya tanpa henti.


Sebentar menoleh kearah Runa, sebelum berjalan keluar. Tapi saat berada di samping meja, sebuah lipatan kertas kecil tergeletak di sana. Membuat Delta mengambilnya dan memasukannya kedalam tas tanpa membukaknya lebih dulu. Hanya karena rasa takut mulai menghampirinya.


Menutup rapat pintu rumah itu, sebelum berjalan dengan cepat pergi dari tempat itu dengan tudung hoodie-nya yang kini menutupi kepalanya. Agar tidak ada siapapun yang mengetahui raut wajahnya.


Menyimpan lembar foto di tangannya yang begitu usang didalam buku tulisnya begitu saja. Sebelum beranjak dari tempat duduknya. Keluar dari dalam kelas yang tidak memperdulikan Vallen yang masih berada didalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2