Psycho

Psycho
enam


__ADS_3

Bukan membenci, hanya saja kecewa. Kepercayaan yang Vallen berikan pada Manda diabaikan begitu saja.


Tidak perduli jika semua mata kini melihat kearahnya yang menarik paksa tangan Vallen hingga masuk kedalam toilet, membuat semua orang didalam sana keluar dengan sendirinya, tanpa Vallen suruh. Karena mereka tidak ingin berurusan dengan Vallen maupun Manda.


Menoleh kebelakang dimana pintu toilet yang ditutup rapat oleh satu siswi yang keluar paling akhir. Membuat Vallen kembali menatap Manda tanpa ekspresi.


"Apa yang kau mau? Kenapa kau menarik ku masuk kesini? Memangnya tidak ada tempat lain selain tempat ini?" Sungut Manda penuh kesal, dengan dagu yang sedikit terangkat.


"Kenapa kau menyebarkannya? Apa itu sangat menguntungkan mu?" Bertanya dengan nada rendah, itu sangat khas dari seorang Vallen.


Tersenyum kecut sembari melihat ke sembarang arah dengan napas beratnya. Itu membuat Vallen berusaha untuk tetap sabar akan sikap Manda.


"Bukankah sudah ku katakan, untuk tidak memberitahu siapapun. Kenapa kau makan melakukannya? Apa kau ingin melihat ada korban lain?"


"Kenapa kau menyalahkan ku? Bukankah kau sendiri yang mengirim video itu padaku? Jadi untuk apa kau memberitahu ku?" Tekan Manda dengan sorot mata sedikit tajam.


"Aku tidak menyalahkan mu, aku hanya bertanya. Kenapa kau begitu__" sedikit menggigit bibir bawahnya untuk tidak menuntaskan perkataannya. Karena Vallen tahu, jika mulutnya terus bicara tanpa henti itu akan menggores luka di hati Manda.. yang berakhir rasa dendam.


"Begitu apa? Kenapa kau tidak melanjutkan apa yang ingin kau katakan? Tenanglah, aku tidak akan termakan dengan omongan mu itu." Diam sejenak, menelan ludahnya dengan mengarahkan pandangannya melihat pintu toilet yang masih tertutup rapat.. tidak ada tanda-tanda siapapun yang ingin masuk kedalam toilet itu.


Mengikis jaraknya dengan Vallen, "darimana kau mendapat video itu? Kau tidak mengeditnya bukan?"


"Kau tidak perlu tahu aku mendapatkannya darimana." Dinginnya, memilih membalikkan tubuhnya pergi dari tempat itu.


Tapi lengannya ditahan begitu saja dengan Manda. "Katakan, darimana kau mendapatkannya?"


Menyentak begitu saja tangan Manda. Diam, sejenak menatap Manda. Sebelum memilih berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Itu membuat api didalam diri Manda membara.


Tersenyum hambar akan sikap Vallen, dan menyusul gadis itu keluar dengan seruan dari mulutnya.. hingga menarik semua mata yang lalang di lorong itu.


"Hei?" Kembali menyerukan suaranya yang ditunjukkan pada Vallen.


Menyumpal telinganya dengan earphones-nya, berjalan begitu saja melewati Satya yang merasa bingung sendiri dengan kedua temannya itu.


"VALLEN? KAU BENAR-BENAR BRENGSEK." Terus saja menyerukan suaranya. Hingga langkahnya terhenti karena Satya menghalangi jalannya dengan tampang penuh tanya.


"Ada apa?" Sekilas menaikan alisnya, Satya mulai membuka suaranya untuk bertanya.


"Menyingkirlah." Pinta Manda dengan nada rendah.

__ADS_1


"Kau tidak ingin mengatakannya?"


"Kenapa kau senang sekali memancing emosi ku?"


"Aku hanya bertanya."


"Berhentilah bertanya, jika aku juga tidak mendapat jawabannya." Kesal Manda mendorong begitu saja tubuh Satya, agar tidak menghalangi jalannya untuk mengejar Vallen.


"Jika aku tidak mendapat jawabannya?" Ulang Satya dengan melihat kepergian Manda yang kini berlari menghampiri Vallen.


.


.


.


Sesekali bersiul melewati ruang musik dengan buku tulis di tangannya. Spontan menghentikan langkahnya tepat di samping jendela ruangan itu. Menoleh kesamping kirinya yang melihat sosok Delta yang terdiam duduk di bangku piano. Membuat Satya melihat sekelilingnya sebentar, hanya untuk memastikan jika tidak ada siapapun yang melihatnya. Sebelum masuk kedalam ruangan itu tanpa suara.


Mendekati Delta, duduk begitu saja di samping gadis itu yang tersentak pelan akan kehadiran Satya.. tersenyum simpul melihat Delta sebentar.


Itu membuat Delta berdiri dari duduknya, berniat pergi dari tempat itu. Tapi tangan Satya menahannya, menyuruh Delta untuk duduk kembali.


Membuat Delta kembali duduk ditempatnya dengan begitu ragu. Melihat Satya dari samping, tanpa menyadari senyum kecil tercetak di bibirnya. Tapi Delta dengan cepat melenyapkannya. Karena tahu posisi, dan tahu diri.


Kembali melihat Satya, walau hanya sebentar, dan memberanikan diri membuka mulutnya untuk bicara.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Spontan membuat Satya menghentikan tangannya.  Berdehem sebentar, menoleh kearah Delta dengan senyumannya. "Ingin bertemu denganmu."


Prakata itu benar-benar begitu ampuh membuat Delta salah tingkah. Memilih menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah dikedua pipinya agar tidak dilihat oleh Satya.


"Katakan yang sebenarnya. Apa yang kau mau dariku?" Perlahan membalas tatapan dari Satya dengan senyum kecilnya, tidak lagi perduli dengan rona merah di wajahnya yang kini dapat dilihat oleh Satya.


Mengangguk pelan. "Aku hanya ingin tahu, apa benar tidak ada alasan lain teman mu itu bunuh diri?"


Seketika raut wajah Dekat berubah drastis, begitu tahu arah pembicaraan Satya saat ini.


"Sepertinya aku harus kembali ke kelas." Menghindar itu lebih baik daripada terjebak akan kalimat yang terlontar dari mulut Satya.

__ADS_1


"Apa karena kita merundung-nya?"


Refleks menghentikan langkahnya saat mendengar kembali perkataan dari Satya. Tapi itu tidak membuat Delta bertahan di tempat itu. Kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti akan Satya. Meninggalkan pemuda itu sendiri.


.


.


.


Meletakkan nampan makan siangnya dengan duduk dihadapan Vallen.. hanya diam melihat kehadiran Manda sebentar, sebelum melanjutkan kembali memakan makan siangnya itu.


"Hei?" Dengan tega menendang pelan kaki kanan Vallen yang masih diam.


"Kau benar tidak ingin mengatakannya padaku?"


"Apa yang harus aku katakan padamu?" Sahutnya sekilas melihat Manda.


"Darimana kau mendapat video itu? Apa kau membuntutinya semalam?"


Hanya diam melihat Manda.


"Aku tahu, semalam kau tidak menemui ayahmu. Karena ayahmu tengah bertemu dengan ayahku."


Mengabaikan begitu saja apa yang terlontar dari mulut Manda. Vallen memilih melanjutkan makannya.


"Apa itu sangat sulit sekali bagimu untuk mengatakannya padaku?" Terus saja membuka suaranya untuk menyudutkan Vallen, agar gadis itu mengatakan apa yang telah dia ketahui.


Meletakkan pelan sendok di tangannya. Perlahan membalas tatapan dari Manda dengan sorot yang mata biasa.


"Jika aku mengatakannya padamu, darimana aku mendapatkan video itu. Apa janjimu itu bisa ku pegang?" Sekilas menaikan alisnya.


"Kenapa kau meragukan ku? Aku tidak akan mengatakannya pada mereka." Cepat Manda, meyakinkan Vallen.


"Jika seperti itu, kenapa kau malah menyebarkan video itu? Bukankah sudah ku peringatan sejak awal? Jangan sampai video itu tersebar. Aku memberikan video itu padamu, karena aku mempercayai mu. Tapi itu ternyata salah, dan aku melupakan satu fakta," Diam sejenak, sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


"Jika dirimu manusia yang senang sekali ingkar janji."


Saling pandang dengan bibir yang mengatup rapat. Tidak perduli dengan banyaknya murid yang berjalan melewati mereka.

__ADS_1


__ADS_2