
Membuang napas pelannya, berusaha menyakinkan dirinya sendiri . . jika mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa gelisah-nya selama ini. Walaupun Delta juga tidak begitu yakin dengan Vallen jika gadis itu dapat menyimpan rahasianya, apalagi dengan Manda.
"Dia mengalami usus buntu, entah apa yang dia makan selama ini. Aku tidak begitu tahu."
Vallen diam, dan menjadi pendengar setia untuk Delta . . tanpa menyela perkataan gadis itu sedikit saja. Karena Vallen pernah berada di posisi, dimana dirinya tengah bicara, dan perkataannya dipotong begitu saja-- itu membuat hatinya sangat kesal.
"Dan, saat itu juga, ayah tidak memiliki uang, keuangannya benar-benar menipis. Dia tidak tahu harus mendapat uang darimana." Sebentar melihat Vallen yang masih diam mendengarkan dengan pandangan lurus ke depan.
Vallen sudah tahu, jika Manda dengan Delta itu saudara . . walaupun ibu mereka berbeda, tapi mereka didalam ayah yang sama. Jika waktu itu Vallen tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua gadis itu, mungkin saja, sampai saat ini Vallen tidak tahu jika Delta dengan Manda itu bersaudara.
"Jika Manda tidak di operasi saat itu juga, kesehatan tubuhnya akan menjadi turun.. dan pastinya itu akan menjauh ayah merasa gagal menjadi seorang ayah bagi Manda, karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Manda."
Membuang napasnya lebih dulu. "Ayah mendatangi ku malam itu, dia mengatakan apa yang tengah terjadi pada Manda. Dan dia juga bilang jika tidak memiliki cukup uang untuk biaya operasi Manda. Itu membuat hati kecil ku teriris, melihat ayah seperti itu."
"Dan, dari situlah aku merelakan diriku untuk membantu pengobatan Manda. Walaupun gadis itu begitu tidak menyukai ku, tapi aku harap, suatu hari nanti . . dia akan mengerti, dia akan melihat kehadiran." Tersenyum nanar, sekilas menundukkan kepalanya.
Walaupun tidak begitu detail Delta mengatakannya, dari situ Vallen paham . . kenapa Delta tidak pernah bersikap kasar pada Manda.
"Tolong jangan beri tahu Manda." Pinta Delta pada Vallen.
"Dia akan mengetahuinya sendiri darimu." Tanggap Vallen dengan senyum kecilnya.
"Ku harap dia tidak mengetahuinya sama sekali, karena aku tidak ingin pikirannya terbebani akan diriku."
"Bukankah lebih baik dia tahu yang sebenarnya? Agar dia sadar akan sikapnya selama ini padamu itu sangat keterlaluan."
"Dia hanya kesepian bertingkah seperti itu." Diam sejenak. "Ayah sibuk memperbaiki keuangan dari pagi hingga malam, dan dia juga tidak memiliki teman yang slalu ada di sampingnya . . kecuali dirimu, ya, walau kau tidak pernah menganggapnya sebagai teman."
Tersenyum tulus dan kembali meluruskan pandangannya. Entah kenapa itu membuat Vallen sedikit merasa bersalah akan sikapnya yang slalu saja mengabaikan Manda.
Apa benar yang dikatakan Delta barusan? Jika Manda seorang anak yang kesepian..
__ADS_1
.
.
.
Spontan menghentikan langkah kakinya saat berada dihalaman luas sekolahnya, dimana samping air mancur yanga berada di tengah-tengah halaman itu. Menatap seorang pemuda yang tersenyum cerah pada Vallen, hanya diam tidak membalasnya sedikit saja.
"Kau akan langsung pulang?" Tanya Satya yang berharap mendapat jawaban sedikit saja dari Vallen.
Sekilas melihat mobil putih milik ibunya yang baru saja masuk kedalam halaman sekolahnya. "Emm.. aku langsung pulang."
"Kau tidak pergi ke tempat bimbel mu?"
"Aku tidak akan pernah ke sana lagi, karena aku harus pulang ke rumah. Aku pergi." Tanpa menunggu tanggapan dari Satya, Vallen berjalan meninggalkan Taksa sendiri.
Diam, melihat punggung Vallen yang kini masuk kedalam mobil putih . . melaju keluar dari lingkungan sekolahnya dengan laju kecepatan begitu sedang.
"Siapa laki-laki tadi?"
"Ibu hanya bertanya apa itu salah?"
Sekilas melihat Vallen, karena tidak mendapat jawaban dari gadis itu satu kata saja.
"Ingatlah Vallen, jangan pernah coba-coba kau berniat memiliki kekasih. Karena itu akan mempengaruhi sekolah mu, terutama nilai mu. Jika dia kekasihmu, putuskan lah dia." Diam sejenak sebelum bergumam yang masih bisa didengar oleh Vallen.
"Dari penampilannya saja sudah terlihat jelas, jika laki-laki itu sangatlah buruk." Gumam sang wanita yang benar-benar tidak bisa mengontrol perkataannya.
"Bagaimana perkataan ibu barusan didengar langsung olehnya?" Menoleh melihat sang wanita dengan pandangan sendu. "Berhentilah membicarakan keburukan orang lain bu, karena perkataan ibu belum tentu benar."
"Putuskan lah dia. Dari nada bicara mu terdengar sangat jelas, jika dia kekasihmu." Sekilas melihat Vallen.
__ADS_1
"Aku tidak membelanya, hanya saja perkataan ibu terlaku sensitif di telinga ku."
"Carilah teman yang seperti mu, yang hanya fokus belajar untuk masa depan. Bukannya mencari teman yang slalu saja mengajakmu nongkrong." Akhir sang wanita yang membuat Vallen membuang napas pelan dengan menyandarkan punggungnya, melihat keluar jendela.. raut wajahnya begitu terlihat sangat jelas, jika Vallen benar-benar lelah dengan sikap ibunya sendiri.
"Acara ulang tahun Taksa besok lusa, apa kau tidak ingin membelikan hadiah untuknya?" Kembali membuka suaranya sang wanita yang memecah keheningan didalam mobil itu.
"Bukankah ibu slalu menyuruhku untuk belajar? Aku tidak akan mungkin datang ke acara ulang tahunnya." Sahut Vallen tanpa merubah posisinya.
"Apa dia tidak malu, ulang tahun dirayakan seperti anak kecil." Gumam Vallen yang ditunjukkan untuk Taksa.
Mengerutkan samar keningnya dengan punggung yang kembali menegak saat mobil sang ibu masuk kedalam parkiran di sebuah salah satu tempat pembelanjaan. Menoleh kearah ibunya yang melepas sabuk pengaman dan mengambil tas tenteng-nya di kursi belakang.
Sebentar membalas tatapan dari Vallen. "Turunlah, kau harus memilih beberapa barang untuk Taksa." Keluar begitu saja dari dalam mobil yang membuat Vallen tidak lagi mengerti dengan isi kepala ibunya.
Menutup pintu mobil itu sedikit kasar, tidak langsung menyusul ibunya . . Vallen malah menyerukan suaranya yang membuat langkah sang wanita terhenti. "Kenapa aku harus melakukan itu semua?"
Perlahan menoleh kebelakang, tepat dimana Vallen berdiri. "Kau ingin melihat ibumu malu dimata orang tua Taksa? Karena tidak mengijinkan putri satu-satunya datang ke acara itu."
Tersenyum nanar dengan sedikit menundukkan kepalanya. Itu membuat sang wanita berjalan lebih dulu, meninggalkan Vallen begitu saja.
"Sebenarnya hidup ku ini untuk siapa?" Pelan Vallen sembari melihat punggung ibunya yang semakin mengecil di pupil matanya.
Merogoh saku jas sekolahnya saat notifikasi masuk kedalam handphonenya.
Membaca pesan dari sang kakek,
Apa kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?
^^^Slalu ada penghalang saat aku mendapatkannya kek..^^^
Kakek akan menyuruh kepala sekolah untuk memberikan semua data itu padamu..
__ADS_1
Senyum aneh tercetak begitu saja dibibir Vallen. Menyimpan kembali handphonenya, tanpa membalas pesan itu dari sang kakeknya. Berjalan masuk kedalam bangunan yang menyediakan beberapa barang yang mencerahkan kembali semua mata pengunjung di sana.
Tidak langsung mencari keberadaan dimana ibunya, Vallen masuk kedalam salah satu tokoh yang menjual banyaknya barang hiasan mainan.