Psycho

Psycho
28


__ADS_3

Entah darimana ia harus memulai pembicaraan, karena suasana canggung menyerang begitu saja tanpa ijin. Mungkin untuk saat ini lebih baik dirinya diam, menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya, dengan minuman jangan di tangannya. Pandangan lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun kearah gadis yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau menolong ku?" Delta mulai membuka suaranya. "Padahal aku sempat menuduh mu."


Senyum Taksa terhias di bibirnya, sebentar membalas tatapan Delta. "Apa kau ingin tidur bersamanya?"


"Bukan itu yang aku maksud." Cepat Delta yang tidak ingin menimbulkan ke salah pahaman lagi.


"Aku tahu." Sarkas Taksa kini melihat Delta yang menatapnya dengan sorot mata sendu, mendengar semua apa yang dikatakan Taksa. "Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk mempercayai kita terus-menerus. Ada kalanya, kita berada di posisi sang pelaku walau tidak salah, atau sebaliknya . . kita berpura-pura menjadi korban, padahal kita sendiri pelakunya."


Tersenyum simpul dan kembali meluruskan pandangannya, melihat banyaknya gedung yang berjajar rapi didepan sana, dengan kemerlapnya cahaya lampu yang menyala.


Delta hanya menganggukkan pelan kepalanya, dan kembali melihat ke depan dengan pandangan teduh.


"Ngomong-ngomong, ada perlu apa kau menemuinya ditempat seperti itu?" Tanya Taksa yang ingin mengurangi rasa penasarannya.


"Awalnya aku ingin mendiskusikan soal pelajaran dengan guru, tapi entah kenapa dia malah menyuruhku untuk datang ke tempat itu."


"Dan kau datang ke sana."


"Emm.. aku datang ke sana, walau perasaan ku sudah tidak enak sejak mendapat balasan dari pria itu." Mengangguk pelan yang diiringi senyum bodoh, untuk dirinya sendiri.


"Jika kau sudah tidak enak akan hal itu, kenapa kau masih datang?"


"Bukankah sudah ku katakan tadi, jika aku ingin mendiskusikan soal pelajaran dengannya."


Membuang napas pelannya, "kau buruk sekali dalam berbohong."


"Aku tidak membohongi mu, aku bicara apa adanya."


"Pelajaran apa yang ingin kau diskusikan dengannya?" Cepat Taksa kini menatap Delta . . menelan ludahnya susah payah. Merasa ter hakimi sendiri akan tatapan mata dari Taksa.


"Kenapa kau ingin tahu sekali? Bukankah sifat itu jarang sekali dimiliki seorang laki-laki?"

__ADS_1


"Apa salahnya aku ingin tahu? Mungkin saja apa yang ingin kau diskusikan itu membuatku tertarik untuk bergabung." Ada makna yang terselip di perkataan yang terlontar dari mulut Taksa. Dan itu tidak disadari oleh Delta sedikit saja.


"Kau bisa mendiskusikannya sendiri dengan guru itu." Sekilas menundukkan kepalanya dengan bergumam. "Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.


" Kau akan melihatnya di setiap pelajarannya." Tanggap Taksa apa adanya, yang mendapat anggukkan lemah dari Delta.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Menghilang lah, jika kau tidak sanggup melawannya." Saran Taksa yang ada benarnya.


Tapi bukan Delta jika menghilang begitu saja dari masalahnya, itu akan membebani pikirannya. Walaupun itu sangat menyakitkan.


"Aku lebih baik kalah dalam perlawanan, daripada menghilang tanpa mencoba." Jawab Delta dengan senyumannya, sekilas melihat Taksa.


Diam tidak menanggapi, karena bukan jawaban seperti itu yang Taksa tunggu.


Membuang napas pelannya dengan menegakkan punggungnya, kembali melihat Taksa dengan tubuh yang menghadap pemuda itu . . tidak menatapnya sama sekali. "Tidak baik aku di luar rumah sampai larut malam seperti ini, apalagi dengan seorang laki-laki."


Terkekeh pelan akan sahutan itu. "Emm.. tidak ada bedanya sama sekali."


"Terimakasih sebelumnya kau telah menolongku. Jika kau tidak datang malam ini, entah apa yang terjadi padaku dengan pria itu. Sekali lagi terimakasih atas pertolongan mu tadi." Sambungnya.


Begitu ragu mengangkat tangan kanannya ke udara dengan senyumannya. "Aku pulang dulu."


Tanpa menunggu tanggapan dari Taksa, Delta memuat tumitnya berjalan pergi. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Taksa masuk ke indera pendengarannya.


"Sebenarnya apa yang tengah kau cari bersama Vallen? Apa kalian berdua mencurigai guru itu?"


Diam, menelan ludahnya. Sebelum membalikkan tubuhnya, menatap Taksa yang masih berdiri di tempat. "Tidak ada apapun yang tengah aku cari bersama Vallen. Dan, untuk apa mencurigainya jika tidak ada bukti yang mengarah padanya."


Menyunggingkan senyumannya, dan berjalan pergi begitu saja. Karena tidak ingin mendengar prakata yang keluar dari mulut Taksa, karena itu bisa menjebaknya masuk kedalam lautan selatan.


Sedangkan Taksa hanya diam, merogoh saku jaketnya yang mendapati benda pipih warna hitam miliknya. Kini tersambung untuk menghubungi seseorang di seberang sana yang kemungkinan besar tidak akan menerima panggilan telepon darinya. Tapi, dugaannya salah, seseorang itu menerima panggilannya.

__ADS_1


"Sepertinya kau tidak memiliki pekerjaan lain menghubungi ku malam-malam seperti ini. Apa yang kau inginkan?"


Terkekeh pelan mendengar suara familiar yang menyapa telinganya. Kembali meluruskan pandangannya dengan senyum khas di bibirnya.


"Kau belum tidur?" Pertanyaan yang benar-benar bodoh, terlontar dari mulut Taksa.


"Jika aku sudah tidur, telpon darimu tidak akan aku terima." Terdengar begitu lelah nada bicara itu.


"Kau ingin bertemu denganku?"


"Tidurlah, aku malas berdebat denganmu."


"Ada hal yang ingin aku katakan padamu."


"Kau bisa mengatakannya sekarang juga, tanpa harus bertemu denganku."


"Kau di apartemen?" Bukannya mengalah, Taksa akan terus bicara hingga orang itu meng'iya'kan kemauannya yang begitu sederhana itu.


"Kenapa kau senang sekali memancing emosi ku?"


"Aku akan menemui mu di rumah." Tanpa menunggu tanggapan dari orang di seberang sana, Taksa memutuskan panggilannya secara sepihak. Dan Taksa juga tahu, jika orang itu tengah menahan kesal akan tingkahnya yang benar-benar ke kanak-kanakan.


Menyimpan kembali handphonenya, berjalan pergi, membuang lebih dulu waduh minumannya didalam tong sampah. Sebelum menutup kepalanya dengan tudung jaketnya itu, hingga wajahnya tidak sepenuhnya biasanya dilihat . . apalagi kepala Taksa sedikit menunduk.


Berjalan terus, tanpa melihat sekelilingnya. Sampai tanpa sengaja tubuhnya ditabrak begitu saja oleh seorang perempuan yang berlari. Menoleh kearah Taksa dengan kepala mengangguk pelan untuk meminta maaf. Dan perempuan itu kembali berlari dengan wajah yang ketakutan. Membuat kening Taksa mengerut samar penuh tanya.


Menoleh kebelakang, mencari objek yang membuat perempuan itu takut. Tapi Taksa tidak menemukan siapapun. Apa hanya perasannya saja?


Mungkin, mungkin saja gadis itu baru mendapat pesan dari keluarganya untuk pulang secepat mungkin. Karena malam semakin karut.


Membuang napas pelan dan kembali berjalan dengan kepala sedikit menunduk, tanpa memperdulikan mobil hitam yang melintas melewatinya dengan kecepatan tinggi . . tapi entah kenapa saat mobil itu melaju di samping Taksa, gerakannya begitu pelan-- sepertinya dewi waktu tengah mempermainkan jarum jamnya.


Tidak membuat Taksa penasaran akan hal itu, karena bagi Taksa itu sudah hal biasa. Terus saja berjalan dan memilih jalur berbeda dengan arah pergi mobil itu. Karena tujuan Taksa saat ini, ingin bertemu dengan Vallen. Mungkin saja gadis itu akan mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2