
Sesekali menelan ludahnya duduk berdampingan dengan seorang murid yang menjadi bahan rundungan di tempat sekolahnya berada. Tapi itu tidak masalah bagi Vallen, jika tidak memperngaruhi nilainya. Ia akan menerima siapapun didalam hidupnya, jika orang itu tidak mengusiknya dalam hal nilai.
Mengabaikan semua mata yang melihat kearahnya dengan sorot mata yang berbeda. Sibuk dengan pikirannya yang masih memikirkan sikap Taksa yang kembali Vallen lihat. Walau itu sudah lama sekali, tapi Vallen masih mengingatnya . . dimana Taksa menarik tapi sepatu yang mengapung dileher tetangganya waktu itu.
Mungkin saat itu niat Taksa memang baik, menolongnya dari usikan pemuda itu. Tapi, cara Taksa benar-benar salah. Tidak seharusnya Taksa melakukan hal seperti itu.
Dan, yang jadi pertanyaannya selama ini . . kenapa Taksa tidak pernah ditahan oleh pihak polisi? Tidak mungkin jika keluarga Taksa bermain kotor? Untuk membebaskan Taksa dari hukumannya itu.
Menelan ludahnya kembali, sembari mengadahkan sedikit pandangannya akan kehadiran Satya-- berdiri dihadapan kedua gadis itu dengan napas sedikit memburu.
Mengeluarkan dua botol minuman dingin dari dalam paper bag sedang di tangannya itu, yang kini diberikan pada Vallen maupun Delta yang menerimanya.
"Makasih.." Pelan Delta sembari mengambil alih botol minuman itu. Menatap Satya yang tersenyum tipis sebagai respon.
Sedangkan Vallen hanya diam menerimanya, tidak mengatakan apapun pada Satya yang duduk di atas kursi yang terbuat dari semen itu. Tidak lagi terbawa suasana akan sikap Vallen yang sering sekali tidak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Merogoh pelan saku rok rempelnya yang mendapati selembar foto lusuh yang sedikit tertekuk.saja Disodorkan pada Delta begitu saja.
"Itu," gantung Vallen yang membuat Delta menoleh kearah Vallen. Melihat gadis itu sebentar sebelum menurunkan pandangannya, tepat dimana selembar foto ditangan Vallen berada . . membuat kedua matanya sedikit membulat, tidak percaya.
Dengan ragu mengambilnya dari tangan Vallen, mendengar apa yang dikatakan Vallen. "Darimana kau mendapatkan foto itu?" Sambung Vallen yang berharap Delta mengatakan yang gadis itu tahu.
"Itu__"
Hanya dalam sekejap perkataan Taksa kembali di kepalanya, yang membuat sang empu menundukkan sedikit kepalanya dengan menelan ludahnya yang sangat getir. Perlahan mencengkeram selembar foto di tangannya dengan botol minum di tangannya itu, tidak perduli rasa dingin menghampiri tangannya.
"Jika kau sudah mengatakan semuanya, apa hidupmu akan aman setelah itu?" Sekilas menaikan alisnya.
Mengikis jaraknya lebih dekat dengan Delta. "Mereka tidak akan berhenti merundung mu, walaupun kau sudah mengatakan apa yang kau tahu. Tapi," menelan ludahnya lebih dulu, sebelum membuka suaranya kembali.
__ADS_1
"Itu semua belum tentu benar." Menampilkan smrik-nya, sembari menjauhkan tubuhnya dari Delta.
Menoleh kesamping kanannya, dimana Delta masih setia pada posisinya. Itu membuat sudut bibir Vallen sedikit tersungging. Kembali meluruskan pandangannya. "Jika kau tidak ingin mengatakannya, aku tidak masalah. Karena itu hak mu, mengatakannya atau tidak. Tapi, jika kau terus diam . . semuanya akan menjadi-jadi. Orang yang tidak bersalah akan menjadi korban akan rasa candu yang sudah melekat dalam tubuhnya."
Kembali melihat Delta sebentar dengan senyumannya. Dan itu mendapat anggukkan pelan dari Satya, menyetujui apa yang dikatakan Vallen.
"Maaf," pelan Delta, memberanikan diri melihat Satya maupun Vallen.
"Untuk apa kau meminta maaf? Kau tidak memiliki kesalahan apapun disini. Seharusnya kita yang mengatakan hal itu padamu. Karena," diam sejenak menelan ludahnya dengan menundukkan sekilas kepalanya.
Sebelum mengadahkan kembali pandangannya melihat Delta, yang diam menunggu kelanjutan apa yang ingin dikatakan Satya. "Selama ini kau menderita karena rundungan dari kita."
Membuang napas gusarnya. "Seharusnya kita tidak melakukan itu padamu," mengangguk pelan dengan melihat kebawah.
"Tidak apa-apa." Cepat Delta, tidak menunggu kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut Satya.
Menarik kembali sudut bibirnya sebelum melontarkan perkataannya. "Posisi, yang membuatku sadar diri. Kehadiranku di antara kalian itu seperti debu yang tak terlihat. Jadi kalian tidak perlu khawatir."
Mengangguk pelan, melihat kedua insan itu secara bergantian. "Bukankah itu sudah menjadi hal biasa? Orang seperti ku akan mendapat hadiah saat berani masuk kedalam istana yang seharusnya aku pijakki lantainya." Sambungnya tanpa beban, tanpa melunturkan senyumannya sedikitpun.
"Tapi seharusnya kita juga sadar diri, karena tidak selamanya kita berada diatas mu. Mungkin saja, detik berikutnya kau berada di atas kita." Tanggap Vallen dengan nada rendah. Sekilas melihat Delta.
"Jujur, aku juga benci kalian. Kenapa kalian melakukan itu padaku? Memangnya kesalahan apa yang pernah aku buat pada kalian?" Diam sejenak. "Tidak mungkin jika kalian merasa tersaingi . . cantik? Wajah kalian jauh lebih enak dipandang daripada milik ku. Pintar? Aku saja kesulitan memasukan namaku dalam 50 besar. Jadi dari sisi mana kalian tidka menyukaiku?"
Menoleh, melihat Vallen dengan senyumannya, sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Itu yang sering sekali aku tanyakan pada diriku sendiri saat malam tiba. Dan, aku memilih untuk merelakan apa yang terjadi pada diriku. Karena bagiku, itu lebih baik . . daripada harus berpura-pura tidak merasakan apapun."
Tanpa menyadari sepasang mata milik Manda yang sendiri tadi melihat kearah tiga remaja familiar di matanya itu, membuat api membakar jiwanya. Apalagi saat melihat senyum dari Delta.
Tersenyum kecut, sembari mengedarkan pandangannya sebentar. "Bagaimana bisa dia tersenyum di atas penderitaan ku selama ini? Apa dia pantas untuk mendapat kebahagiaan? Disaat ibu kandung mu menghancurkan kehidupan ku."
__ADS_1
Menguraikan kedua tangannya yang terlipat didepan dada, sembari berjalan mendekati ketiga insan itu dengan raut wajah yang tidak suka.
"Kukira kalian membencinya,"
Suara familiar menyapa indera pendengaran mereka yang dengan kompak menoleh kearah dimana Manda berada.
Tersenyum hambar melihat itu semua dengan sorot mata tidak percaya. "Apa kalian hanya berpura-pura baik padanya? Agar kalian tahu, apa yang kalian tidak tahu."
"Pergilah, jika kau mengacaukan segalanya." Tanggap Satya yang sudah malas sekali dengan sikap dari Manda.
"Ubahlah kalimat yang kau katakan, karena tidak hanya satu makna saja yang bisa diambil dari perkataan mu." Sahut Manda yang tidak ingin kalah.
"Kenapa harus aku yang mengubahnya? Seharusnya kau yang memperbaiki sifat mu itu." Ucapnya sembari berdiri dari duduknya, menatap Manda tidak seperti biasanya.
"Tidak mungkin kau terus-menerus dengan sifat mu itu." Sambungnya.
"Kau__"
"Berhentilah," sarkas Vallen dengan nada rendah. Melihat kedua temannya itu secara bergantian. "Apa kalian tidak capek berdebat terus? Dalam mengambil keputusan."
Berdiri dari duduknya. "Aku akan kembali ke kelas." Tanpa menunggu tanggapan dari siapapun, Vallen melangkah pergi dari tempat itu. Yang diikuti Delta begitu saja.
"Kau juga ingin pergi?" Cetus Manda melihat Satya.
Dan gumaman dari Satya sebagai respon, sebelum berjalan pergi dari hadapan Manda-- tersenyum hambar, melihat kepergian mereka.
"Satu persatu, mereka juga pergi dari hidupku." Menyunggingkan senyum mirisnya, sekilas menundukkan kepalanya.
"Hah, bukankah itu sudah biasa Manda. Kau akan berakhir sendiri pada akhirnya. Tidak akan ada yang menemani mu."
__ADS_1