
Berpapasan yang tidak disengaja, saling pandang walau sebentar . . itu membuat Delta terdiam walau tidak menghentikan langkah kakinya. Sejak pertama kali melihat Taksa, Delta sepertinya pernah bertemu ditempat tertentu. Tapi kenapa Delta tidak bisa mengingatnya? Apa benar ia pernah bertemu dengan Taksa sebelum itu.
Menghentikan langkah kakinya, perlahan menoleh kebelakang, tepat dimana punggung Taksa berada yang semakin mengecil di pupil matanya. Membuatnya memutar tumit, berjalan mengikuti Taksa . . tapi lagi dan lagi, Manda mencari masalah dengannya.
Delta begitu jenuh dengan sikap kekanak-kanakan Manda. Sebenarnya apa yang diinginkan Manda darinya?
"Kenapa kau tidak menemui ku? Bukankah aku menyuruhmu untuk datang ke atap sekolah? Tapi kenapa kau tidak datang?" Sekilas menaikan alisnya, menatap Delta.
"Aku bukan pesuruh mu." Tanggapnya, memilih pergi dari hadapanĀ Manda. Tapi lengannya ditahan begitu saja oleh Manda.
Mendorongnya kasar hingga kakinya mundur beberapa langkah kebelakang.
"Kau mulai berani denganku?"
"Untuk apa aku takut denganmu, jika kita sama-sama makan nasi."
Lagi, kepergiannya ditahan begitu saja oleh Manda. Itu membuat Delta membuang napas lelahnya.
"Apa kau tidak bosan merundung ku? Apa yang kau dapatkan setelah merendahkan ku? Kesenangan? Ku rasa itu juga tidak akan pernah kau dapatkan." Ucap Delta dengan nada rendah.
"Aku juga tidak berharap mendapat kesenangan itu. Tapi aku hanya ingin melihat mu menderita. Agar kau juga merasakan apa yang ibu ku rasakan."
Kening Delta mengerut tidak mengerti. Mendengar semua apa yang keluar dari mulut Manda.
"Kau dengan ibu mu itu sama, sama-sama pelacur."
"Tutup mulutmu Manda." Seru Delta yang tak tertahan.
"Kenapa? Kau tidak terima jika aku mengatakan hal seperti itu padamu? Padahal aku bicara apa adanya, itu fakta, bukan opini yang aku buat. Jadi untuk apa kau merasa malu akan hal itu?"
Diam refleks memundurkan langkahnya saat Manda mulai mengikis jaraknya. "Jika ibumu tidak datang di kehidupan ayahku, ibuku tidak akan pergi meninggalkan ku. Dan ayahku akan memilih tinggal bersamaku ketimbang dengan ibumu. Tapi nyatanya, ibumu itu seorang penghasut . . hingga ayahku mengabaikan ku sebagai putri kandungnya."
Diam sejenak, menelan ludahnya. "Apa kau belum cukup puas melihat kehancuran yang aku terima selama ini? Apa kau masih bertanya? Apa alasanku merundung mu mati-matian? Kuharap kau tahu, apa alasanku melakukan hal itu padamu."
Sebentar menatap Delta sebelum pergi dari hadapan gadis itu dengan menyenggol pundak Delta . . hanya diam, meluruskan pandangannya yang sulit sekali dibaca.
Sedangkan Vallen yang berjalan pelan di lorong itu hanya diam melihat mereka. Kedua matanya sempat bertemu dengan milik Manda . . yang berjalan begitu saja melewatinya dengan tampang biasa.
Membuat Vallen menghentikan langkahnya melihat kepergian Manda, walau sebentar. Sebelum mengikuti kemana Delta pergi. Tanpa menunjukkan rasa curiga pada gadis itu.
.
__ADS_1
.
.
Belum ada satu hari Taksa begitu berani merokok dalam lingkungan sekolah barunya. Untung saja Delta datang diwaktu yang tepat, hingga bisa menghentikan apa yang akan dilakukan Taksa.
"Kau masih murid baru? Kenapa kau begitu berani melakukan hal itu disini?"
Tersenyum hambar sembari memainkan sebentar lidahnya didalam mulut, sebelum mengadahkan pandangannya menatap Delta dengan sekilas menaikan alisnya.
"Kau mengenalku?"
"Apa perlu aku mengenalmu lebih dulu sebelum melarang mu?" Sahut Delta.
Membuat Taksa berdiri dari duduknya tepat di hadapan Delta yang spontan memundurkan beberapa langkahnya kebelakang.
Dan itu ternyata tidak luput dari penglihatan Vallen yang menghentikan langkahnya, mengarahkan pandangannya pada dua insan itu.
"Sepertinya kita pernah bertemu." Senyum aneh terukir begitu saja dibibir Taksa, yang entah kenapa itu membuat Delta . . diam, tidak bergerak. Bagai terkena mantra yang sulit sekali dikendalikan.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Spontan menoleh ke sumber suara, yang langsung membuat Vallen menutup mulut Satya yang menahan tubuhnya agar tidak limbung . . saat ditarik begitu saja oleh Vallen. Pergi dari tempat itu, sebelum kehadirannya disadari oleh Taksa maupun Delta. Itu akan menimbulkan rasa curiga di diri mereka.
Melepas cekalannya pada tangan Satya, dan mulai berjalan seperti biasa dengan pandangan lurus ke depan.
"Seharusnya kau tidak datang ke sana."
"Sirene yang mengajakku ke sana." Asal Satya dengan kekehannya, sebentar melihat Vallen yang diam tidak terkecoh akan itu.
Membuat Satya berdehem pelan, agar suasananya tidak merasa canggung sama sekali. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku hanya penasaran dengan Delta, apa dia mengenal Taksa?"
"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu." Menghentikan langkahnya, membuat kaki Vallen juga terhenti . . perlahan membalas tatapan dari Satya.
"Kau mengenal murid baru itu?"
Diam sejenak, sebelum menanggapi apa yang keluar dari mulut Satya. "Emm.. aku mengenalnya. Karena dia teman kecil ku. Aku tidak menyukainya." Sekilas tersenyum, dan memilih kembali berjalan pergi.
"Dia teman kecil mu, tapi kau tidak menyukainya?"
__ADS_1
Vallen mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Kenapa kau tidak menyukainya?"
"Dia hampir saja membunuhku waktu itu." Sahut Vallen.
"Apa?" Pelan Satya yang tidak percaya.
"Dia jauh lebih gila daripada psikopat." Melihat Satya. "Ku harap kau tidak berurusan dengannya."
"Bagaimana denganmu sendiri?"
"Aku akan menghindarinya, semampu yang ku bisa." Tersenyum kecil, sekilas melihat Satya.
"Kenapa kau bisa menyebutnya sebagai psikopat?"
"Bukankah tadi sudah ku katakan, dia hampir membunuhku."
"Apa alasannya?"
Kembali menghentikan langkahnya, menatap Satya dalam diam dengan raut wajah yang sulit sekali diartikan.
Lain sisi,
Dimana Delta yang kini berusaha untuk lari secepat mungkin dari Taksa, dan untung saja dirinya saat ini masih berada di lingkup sekolah . . hingga Taksa tidak sepenuhnya bisa menangkapnya. Tapi, bagaimana jika dirinya berada diluar sekolah nanti? Apa dirinya masih aman?
Masuk kedalam kelas, yang menghentikan sebentar langkah kakinya diambang pintu, melihat beberapa penguji kelas itu. Sebelum berjalan kearah dimana bangkunya berada dengan kepala yang sedikit menunduk.
Dan itu ternyata membuat Vallen memfokuskan pandangannya pada Delta, sebelum beralih pada sosok Taksa yang baru saja masuk kedalam. Mengikuti arah pandang Taksa yang menatap insten Delta . . semakin menundukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa Delta tahu suatu hal yang tidak dirinya tahu?
Saat ingin berniat beranjak dari duduknya untuk menghampiri Delta, seorang wanita cantik masuk kedalam kelasnya. Membuat Vallen mengurungkan niatnya begitu saja, sebentar melihat Delta, sebelum fokus pada materi yang langsung disampaikan oleh guru cantik itu.
Hingga bel pergantian mata pelajaran dibunyikan, Vallen kembali menoleh dimana bangku Delta berada. Itu membuat Manda mengikuti arah pandang Vallen.
"Kenapa kau melihatnya? Apa kau ingin merundung-nya?"
"Aku bukan dirimu yang meriksa orang-orang lemah." Sahut Vallen. Beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Delta. Tapi pergelangannya dicekal begitu saja oleh Manda.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura baik di hadapannya. Ingatlah, kau juga pernah merundung-nya saat di bangku smp. Jadi untuk apa kau bersikap baik padanya, jika ada suatu hal dibalik itu semua. Kenapa kau tidak langsung terus terang padanya."
Menyentak pelan tangan Manda, sebelum menayangkan gadis itu dengan pandangan biasa. "Apa salahnya aku menebus kesalahan ku?"