Psycho

Psycho
19


__ADS_3

Gedoran pintu yang tidak begitu jelas masuk ke indera pendengaran, membuat langkah Vallen perlahan terhenti tepat di samping jendela ruang musik. Mendekat tubuhnya pada jendela itu, melihat kedalam ruangan yang tidak menemukan siapapun, beralih pada pintu yang tidak ada orang satupun. Membuat kening Vallen mengerut samar.


Memundurkan langkahnya kebelakang saat gedoran itu tidak lagi terdengar di telinganya. Berniat berjalan pergi, tapi gedoran itu semakin jelas di pendengarannya. Kembali melihat kedalam ruang musik, meliar-kan pandangannya, hingga terhenti pada satu ruangan yang berada didalam ruang musik.


Vallen tidak tahu itu ruangan apa, karena tidak semua murid di sekolahnya tahu. Guru musik atau guru seni di sekolahnya juga tidak mengijinkan siapapun masuk kedalam sana. Ruangan itu slalu di kunci. Itu membuat rasa penasaran Vallen mulai singgah didalam benaknya.


Daripada merasa penasaran terus-menerus, apalagi harus menyimpannya. Vallen berjalan kearah pintu ruangan musik yang terkunci rapat. Itu membuat mulut Vallen spontan mengumpat perkataan kasar yang jarang sekali dicetuskan oleh Vallen, walau itu tanpa suara.


Mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya yang tidak mendapati siapapun, kecuali sosok pria perut baya yang tengah sibuk dengan pel ditangannya itu . . yang berada di ujung koridor.


Tidak berpikir apapun atau mengatakan sepatah kata saja, Vallen berlari menghampiri dengan raut wajah yang terlihat begitu serius . . hingga siapapun yang melihat ekspresi itu, pasti akan memilih menghindar daripada harus berurusan dengan seorang Vallen.


Pendiam, tapi sekalinya marah, seluruh penghuni sekolah mungkin akan musnah.


Dan entah kenapa Vallen menjadi se penasaran itu, tidak sesuai sekali dengan dirinya. Apa hanya karena ingin tahunya? Membuat emosinya menjadi naik. Tapi mau bagaimana lagi, Vallen hanya ingin tahu apa isi didalam ruangan itu. Hanya itu, tidak lebih. Mungkin.


Walaupun itu akan berakhir nihil, tidak ada apapun didalam ruangan. Bukankah itu lebih baik, dan mengurangi rasa penasarannya.


"Paman?" Panggil Vallen yang telah berdiri didekat sang pria-- menghentikan pekerjaannya, menatap Vallen dengan sorot mata tanya.


"Ada apa? Apa kau butuh bantuan?"


"Itu_"


"Kau terlihat gelisah sekali. Apa ada yang melecehkan mu?" Cepat sang pria dengan raut wajah khawatir.


"Bisakah paman membuka pintu ruang musik?" Ucap Vallen sekilas menunjuk ruangan itu berada. Membuat sang pria mengikuti arahnya sebentar.


"Kau ada pembelajaran di sana?"

__ADS_1


"Tidak!!" Sedikit menyerukan suaranya, Vallen mengatakannya.


"Apa?" Pelan sang pria yang sedikit tersentak akan hal itu.


"Jika paman yang memegang kunci ruangan musik. Bisakah paman membukanya untukku? Vallen mohon."


Diam sejenak, wajah pria itu terlihat begitu jelas tengah berperang dengan isi kepalanya sendiri . . yang membuat Vallen merasa geram akan pria didepan matanya saat ini.


"Paman tahukan aku siapa? Aku tidak Ana menggunakan koneksi orang tua ku hanya karena masalah sepele seperti ini, jika paman membuka pintu ruangan itu."


"Bukan itu yang aku maksud. Tapi," menggantungkan perkataannya dengan helaan napas berat.


"Tapi?" Sekilas menaikan alisnya dengan mengulang apa yang keluar dari mulut pria itu. Sebelum mengikuti arah pandang sang pria yang melihat dimana pintu ruang musik berada.


"Hanya ruangan itu, kuncinya dibawa oleh guru musik."


"Bukankah seharusnya paman yang bawa?" Kembali melihat sang pria dengan perkataannya.


Diam, tidak menanggapi apapun dengan pandangan lurus menatap pintu ruangan itu dengan sorot mata yang terlihat biasa, walau terselip penuh makna.


"Memangnya ada apa?"


Lamunannya buyar saat mendengar kembali suara dari sang pria. "Oh, tidak apa-apa. Ya sudah lama, aku akan kembali ke kelas."


"Jika kau sangat ingin sekali masuk kedalam, aku punya kunci cadangannya," seketika menghentikan langkah Vallen. "Apa kau ingin meminjamnya?"


Membalikkan tubuhnya, sebelum kembali berjalan mendekat. Berdiri dihadapan sang pria, dengan anggukkan pelan. Sudut bibirnya sedikit tersungging.


.

__ADS_1


.


.


Tidak perduli dengan materi yang keluar dari mulut sang guru tampan di depan kelasnya. Walau Vallen tidak mengalihkan pandangannya dari guru itu dengan tatapan biasa, agar tidak dicurigai sedikitpun.


Membalikkan lembar buku paket di atas meja bangkunya yang mendapati sebuah kunci yang berbanding bunga-- Vallen yang memberinya, dan mendapatkan kunci itu dari pria yang bertanggung jawab berjaga di sekolahnya.


"Apa guru itu akan ku curigai?" Ungkapnya dalam hati.


Karena saat bicara dengan Taksa, sepertinya pemuda itu juga tidak tahu apa-apa. Dan, Taksa juga tidak tahu siapa itu Runa ataupun Saka. Jika bukan Taksa pelakunya, kenapa foto Taksa yang ditemukan Delta ditempat itu? Tidak mungkin juga Delta membohonginya. Kerena Delta juga tidak mengenal siapa itu Taksa, jika Delta tidak menemukan foto dan Taksa pindah ke sekolahnya.


Kembali meluruskan pandangannya, melihat pria itu yang terus saja memberikan materi didalam kelas. Hingga seorang siswa menaikan tangannya ke udara saat sesi tanya jawab.


"Kenapa guru slalu berada dikelas kita? Bukankah seharusnya kita berada diruang musik saat pembelajaran? Dan itu berlaku, semua guru yang memiliki ruang praktik pasti akan menggunakan ruangan itu saat pembelajaran."


Akhirnya, ada yang berani mengatakan hal itu. Dan tidak hanya Vallen saja yang menunggu jawaban dari guru itu, tapi semua mata di sana pun juga menunggunya. Tapi, lain halnya dengan Taksa yang tidak perduli akan hal itu. Karena ini kali pertamanya Taksa menemui pelajaran musik disekolah barunya.


"Tapi kita belum sampai dimana harus mengambil nilai praktik, jadi untuk sementara waktu kita belajar dikelas. Bukankah kalian akan merasa jauh lebih nyaman saat dikelas sendiri?" Tanggal sang guru dengan santai, ditemani dengan senyum khasnya.


"Bukannya kita merasa tidak," melihat sekelilingnya yang beralih fokus pada Vallen. "Tapi, bukankah lebih bagus jika kita mendapat suasana yang baru dan berbeda?"


"Benar apa yang dia katakan, seharusnya kita belajar diluar kelas. Aku merasa bosan didalam kelas ini." Cetus Manda yang kini menyandarkan punggungnya.


Itu membuat sang pria tersenyum aneh dengan kepala yang sedikit menunduk. Sebelum kembali mengadah 'kan kepalanya melihat semua murid didiknya didalam kelas itu. "Baiklah, pertemuan minggu depan kita akan belajar diruang musik."


Sebentar menatap Vallen yang spontan tersenyum simpul membalasnya.


"Baiklah, kerjakan tugas kalian lebih dulu. Dan kumpulkan sebelum bel di bunyikan." Akhir sang guru yang membuat semua murid didalam ruangan itu . . mulai mengerjakan tugas yang telah pria itu berikan.

__ADS_1


Dan tanpa menyadari, sejak Vallen ikut membuka suara, Delta melihat kedua orang itu dengan pandangan biasa tapi kepalanya di penuhi pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab semuanya.


Saat kedua matanya bertemu dengan milik sang guru, dengan cepat Delta mulai mencair jawaban soal didepan matanya.


__ADS_2