
Di sebuah restoran fast food, seorang perempuan berbaju biru muda sedang memesan satu set fast food. Saat sedang menunggu pesanan ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"May kamu kapan pulang? sidah hampir larut."ucap seseorang di handpone.
"Iya mom, sebentar lagi aku akan pulang kok."balas May.
"Hati-hati ya. Sekarangkan lagi ada kasus pembunuhan. Mom takut kamu kenapa-kenapa."
"Iya, May bakal hati-hati kok. Udah dulu ya mom."
May mematikan ponselnya kembali, Pesanannya sudah datang. Dia memberikan uang kepada kasir lalu pergi keluar setelah mendapatkan kembalian. Saat hendak berjalan menuju gang yang biasa dia lewati tiba-tiba gang itu di tutup oleh palang. Dia melihat sebuah catatan.
"Lewat jalan itu untuk menuju komplek A."
Tanpa ragu May mengikuti apa yang catatan itu tulis. Namun saat May sudah berjalan agak jauh dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. May mempercepat langkahnya. Entah kenapa jalanan semakin gelap. Lampu-lampu hanya memancarkan cahaya remang. May mulai merinding, dia berlari karena ketakutan. Ketakutannya bertambah ketika tahu di depannya adalah jalan buntu.
Tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. May ketakutan tubuhnya seperti mati rasa. Tiba-tiba terdengar tawa seseorang.
"He he he. Hai May, apa kabar? he he he."
"Apa kau senang bertemu denganku? he he he."
Dengan perlahan May memutar tubuhnya. Betapa terkejutnya dia melihat sosok di depannya. Di antara cahaya remang, sosok itu menyeringai. Di ambilnya benda kesayangan di balik rok putih.
"K..k..kau."
May tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu kaget dengan sosok di depannya.
__ADS_1
"He he he. Aku mendekat. He he he."
May mundur ke belakang, dia ketakutan. Sosok itu semakin dekat, sementara May terus mundur ke belakang hingga punggungnya menyentuh permukaan tembok.
"Aku ingin kasih kau hadiah loh. Hadiah yang sepesial. He he he."
May menggeleng kuat sementara sosok itu semakin mendekat dengan sebuah pisau di tangan kanannya.
"He he he. Maaf ya, tapi hadiah aku nggak bisa di tolak."
Dengan sebuah pisau di tangannya, sosok itu bisa kapan saja menusuk ataupun merobek tubuh May. Saat jarak antara May dan sosok itu hanya tinggal beberapa langkah, tangan kanannya bersiap untuk menyerang May.
"Selamat tinggal May, aku menyayangimu."
May membulatkan kedua matanya. Pisau itu sudah berada tepat di atas kepalanya.
"Toloooooooooong!"
Jleb
***
Pagi yang cerah membuat semua orang memulai aktivitas mereka dengan semangat 45. Tak terkecuali Valeri, dia sedari tadi tersenyum-senyum sendiri. Karena apa? yang pastinya berhubungan dengan Velic lah.
Sesampainya di rumah Velic dia mendengar bentakan lagi.
"Dasar anak tak tahu di untung!"
Kemudian terdengar suara barang pecah. Valeri terkejut dan jatuh terduduk. Pintu terbuka dan tampak wajah ceria Velic.
__ADS_1
"Selamat pagi Valeri."sapa Velic
Valeri masih melongo, dia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Lalu seorang perempuan keluar dari dalam.
"Oh ini ya Valeri, kamu lebih cantik dari yang tante dengar."ucapnya ramah
"I..iya tante saya Valeri."
"Oh kalian mau berangkat bareng ya?"
"Iya bu Velic berangkat dulu ya."pamit Velic.
Di perjalanan tak henti-hentinya Velic mengoceh. Entah kenapa dia hari ini cerewet sekali. Namun berbeda dengan Valeri yang hanya diam. Baginya keluarga Velic sangat aneh. Kenapa ibunya Velic tiba-tiba berubah ramah saat bertemu dengan Valeri. Padahal tadi dia mendengar suara keributan. Valeri sunggu penasaran dengan apa yang barusan terjadi. Ya, dia harus bertanya kepada Velic.
Saat hendak bertanya Valeri menutup mulutnya kembali. Dia tidak berani untuk bertanya. Bagaimana kalau Velic marah kepadanya. Tapi dia juga penasaran. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Velic."panggil Valeri.
"Ada apa?"tanya Velic dengan wajah cerianya.
"Tadi aku.."
"Ya."
Valeri menguatkan diri pokonya dia harus bertanya.
"Tadi aku...."
Velic tersenyum menantikan apa yang akan di ucapkan Valeri.
__ADS_1
"Ah nggak jadi, ayo nanti telat."
Akhirnya Valeri tidak jadi bertanya.