Psycho

Psycho
33


__ADS_3

Helaan napas gusar keluar begitu saja dari mulutnya yang sudah kehabisan cara untuk menghentikan Vallen agar tidak memaksanya, memberikan semua data milik para guru disekolah. Walaupun gadis didepannya saat ini akan mengambil alih semuanya, tapi ia tidak bisa memberikannya begitu saja tanpa persetujuan orang-orang yang bersangkutan.


"Masuklah kedalam kelas mu, kau akan tertinggal pelajaran."


"Nilai ku tidak akan turun jika tidak mengikutinya sekali." Sahut Vallen yang masih dalam pendiriannya. Membuat sang pria merasa frustasi sendiri.


Membuang napas pelan dengan melepas kacamata yang bertengger di tukang hidungnya, kembali menatap Vallen. "Tapi kau akan melewatkan hal yang teman-teman mu dapatkan saat ini."


"Aku bisa meminta wanita itu menerangkan ulang padaku secara privat. Bukankah itu lebih baik? Aku mendapat apa yang tidak mereka dapat." Tak kalah cepatnya Vallen menanggapi apa yang dikatakan sang pria.


"Benar, kau mendapat apa yang tidak mereka dapat. Tapi, aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja padamu. Kau mengerti? Jadi keluarlah. Aku tidak perduli apa yang akan aku dapatkan nantinya, setelah mengusir mu seperti ini." Final sang :pria yang mau tidak mau membuat Vallen mengalah.


Memilih membalikkan tubuhnya berjalan pergi dari ruangan itu dengan raut wajah biasa, walau dalam hati Vallen begitu kesal . . karena tidak mendapatkan apa yang dirinya mau.


Menutup rapat pintu ruangan itu dengan pelan, dan tidak langsung pergi dari tempatnya berdiri. Vallen malah membuang napas beratnya.


"Jika dia tidak memberikannya, maka ku pastikan dia yang akan memberikannya sendiri padaku." Ucapnya dalam hati, sebelum berjalan kearah dimana ruang musik berada. Dan untuk saat ini, Vallen begitu enggan kembali kedalam kelas. Karena itu percuma saja, karena mau sampai kapanpun dirinya memohon, wanita itu tidak akan mengijinkan Vallen masuk kedalam kelasnya yang tengah berlangsung saat ini.


Sampainya di lorong ruang musik yang sepi, Vallen menghentikan sebentar kakinya di samping jendela ruangan itu. Menyempatkan diri untuk melihat kedalam dari balik jendela. Sebelum masuk kedalam ruangan itu yang tidak dikunci, itu membuat senyum pahit terukir dibibir Vallen begitu saja.


Membiarkan pintu ruangan itu terbuka, karena Vallen tidak ingin terjadi sesuatu lebih dulu padanya sebelum ia menemukan siapa pelaku itu sebenarnya.


Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu, hingga kedua matanya terhenti pada sebuah ruang lain didalam ruangan itu. Begitu yakin melangkah mendekat, dan membuatnya begitu saja yang hanya mendapati beberapa alat musik yang masih terlihat baru.


"Delta tidak mungkin membohongi ku?" Gumam Vallen yang terus saja melihat-lihat ruangan itu dengan teliti. Karena Vallen yakin, sedikitpun bukti pasti ada yang tertinggal.


"Apa yang kau lakukan disini?"

__ADS_1


Walaupun begitu Vallen kenal siapa pemilik suara itu, tapi Vallen dengan spontan menoleh kebelakang dengan kedua kaki sedikit memundur dengan napas yang sedikit memburu.


"Seharusnya kau kembali ke kelas, bukannya malah kesini." Ucapnya kembali sembari mendekati Vallen-- yang menelan ludahnya.


"Untuk apa aku masuk kedalam kelas? Jika dia tidak mengijinkan ku masuk kembali." Membuang napas pelan, dan kembali melihat-lihat ruangan itu. Melangkah masuk untuk mencari suatu hal yang masih abu-abu.


"Bagaimana dengan mu?" Sekilas melihat kearah Delta yang berdiri diambang pintu. "Kenapa kau bisa disini?"


"Aku ini pergi ke toilet." Jawab Delta apa adanya. Dan itu memang benar. Delta pergi ke toilet, tapi saat pergi dari sana, Vallen menarik perhatiannya saat keluar dari ruang kepala sekolah . . dan akhirnya, Delta memilih mengikuti gadis itu yang berakhir diruang musik.


Sedangkan Vallen yang menganggukkan pelan kepalanya sebagai respon.


Melihat punggung Vallen dengan pandangan sendu. "Maaf." Cetusnya begitu saja. Ampuh membuat Vallen menghentikan kedua matanya yang hanya menatap satu objek dengan pikiran kosong. Sebelum memutar tumitnya melihat dimana Delta berdiri.


"Aku yakin bukan dirimu yang menyebarkan video itu, walau kau yang menemukannya." Menyunggingkan senyum tulusnya pada Vallen-- yang diam, berjalan mendekat. Berdiri tepat dihadapan Delta.


"Jika aku marah pada mu, apa semuanya akan selesai?" Diam sejenak. "Itu malah menimbulkan masalah."


"Akun tidak perduli apa yang mereka katakan, aku akan melawan mereka. Walau, itu akan berakhir aku yang menyerah, lagi." Tambahnya yang diiringi senyum nanar-nya.


"Kau pasti memiliki alasan melakukan hal itu." Tanggap Vallen.


"Hanya kau yang mengatakan itu. Dan, kau sama sekali tidka keberatan berdiri di samping ku."


"Semua orang pasti memiliki masa lalu yang kelam, tapi bukan berarti, dimasa depan nanti kehidupannya juga kelam.


Kembali tersenyum mendengar lontaran dari Vallen. "Seharusnya aku mempercayai mu sejak dulu."

__ADS_1


"Jangan pernah percaya pada siapapun, terutama diriku. Percayalah pada dirimu sendiri, lakukan apa yang hatimu katakan. Jangan mengatakan, 'iya' jika kau tidak ingin melakukannya." Cepat Vallen yang diakhir dengan senyum kecilnya yang menenangkan.


.


.


.


Atap sekolah, dimana tempat kedua yang jarang sekali didatangi para penghuni sekolah. Padahal, atap sekolah itu terlihat benar-benar nyaman seperti taman. Ada satu kursi panjang yang ditemani beberapa tanaman pot yang berjejer rapi. Dan, rerumputan hijau yang ditata dalam satu tempat.


Ditempat itulah kedua gadis saat ini berada. Berdiri di tepi atap, walau terhalang tembok yang setinggi dada mereka. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka . . sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Seharusnya aku tidak mengatakannya, tapi entah kenapa aku ingin sekali mengatakannya." Cetus Delta dengan pandangan lurus ke depan.


Membuat Vallen menoleh ke samping kirinya. "Apa? Apa yang ingin kau katakan?" Tanggapnya, sebelum kembali melihat ke depan. Menunggu sahutan dari Delta.


Diam sejenak, menelan ludahnya dengan kepala sedikit menunduk. Sebentar melihat Vallen dari samping, dan memberanikan diri untuk mengatakan apa alasannya ia melakukan hal yang tak seonoh itu.


"Uang yang aku dapatkan dari hal itu," kembali menelan ludahnya, karena ada satu hal tapi entah itu apa yang membuat hati Delta ragu untuk melanjutkan perkataannya. Membuat Vallen menoleh kesamping kirinya, melihat Delta.


"Aku tidak pernah memaksamu, jika kau tidak ingin mengatakannya, jangan pernah paksa mulutmu untuk terus bicara." Lontar Vallen yang menyakinkan.


Mengangguk pelan, "saat itu Manda pergi ke luar kota untuk menjalani operasi. Apa kau tahu?"


"Jika dia pergi ke luar kota, aku tahu. Tapi jika menyangkut operasi, aku tidak tahu sama sekali." Diam sejenak. "Ngomong-ngomong, darimana kau tahu Manda melakukan operasi."


"Aku tidak tahu, darimana dulu aku mengatakannya. Karena itu pasti akan membuatmu terkejut." Sedikit terkekeh, Delta mengatakannya.

__ADS_1


"Kau bisa memulainya, dari Manda diluar kota." Sedikit hati-hati Vallen mengatakannya. Karena gadis itu tidak ingin melukai sedikit saja perasaan Delta.


__ADS_2