
Berjalan cepat hingga surai panjangnya tertiup kebelakang, membuat semua murid yang lajang di lorong sekolah dengan cepat memberikan jalan untuk Vallen . . hanya karena raut wajah gadis itu terlihat tengah menahan emosinya yang membobol ingin keluar.
Menghentikan langkah, sedikit berjalan, berdiri tepat diambang pintu kelasnya. Melihat ruangan itu untuk mencari keberadaan Taksa, tapi Vallen tidak menemukan pemuda itu.
Kembali melangkahkan kakinya dimana kantin sekolahnya berada. Sebelum kepalanya mengingat dimana tempat yang jarang sekali ditanyai siapapun di sekolahnya, itu membuat kakinya terhenti begitu saja.
Memilih jalan yang akan mengantarkan Vallen dimana, taman belakang sekolahnya berada . . karena hanya tempat itu para murid nakal bisa melakukan hal membuat pikiran mereka tenang.
Mengabaikan semua mata yang kini tertuju pada Vallen, dengan sorot mata yang berbeda. Itu tidak akan mempengaruhi Vallen sedikitpun-- terus saja melangkahkan kakinya, hingga langkahnya kembali terhenti di tempat tujuannya.
Langsung mendapati punggung familiar dimatanya, yang duduk sendiri dengan gumpalan asap yang berterbangan di udara. Membuat napas lelah Vallen terhembus begitu saja dari hidungnya.
Menelan ludahnya lebih dulu, sebelum berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Duduk begitu saja di samping Taksa.
Membuat pemuda itu tersentak saat melihat kehadiran Vallen. Dengan cepat mematikan barang rokok di tangannya sembari menurunkan kaki kirinya yang berada di paha kaki kanannya.
"Berhentilah mengejutkan ku, jika kau tidak ingin kehilangan ku." Ucapnya yang sedikit bercanda. Tapi tidak membuat sudut bibir Vallen tersungging, akan perkataan dari Taksa.
Dan itu ampuh membuat suaranya menjadi canggung, tapi itu hanya berlaku untuk Taksa.
Berdehem pelan, sembari membenarkan posisi duduknya. Kembali melihat Vallen yang masih saja meluruskan pandangannya, tidak menoleh sedikitpun kearah Taksa.
"Kau, kau tadi tidak masuk kelas. Apa kau bolos bersama Delta?"
"Emm.. aku pergi dengan Delta. Aku hanya ingin tahu hal yang belum aku tahu."
Mengerutkan samar keningnya, hanya karena tidak mengerti dengan perkataan yang terlontar begitu saja dari mulut Vallen. Sebelum mengangguk pelan, mencoba memahami setiap kaya yang dicetuskan Vallen.
"Aku memiliki saran untukmu, berhentilah mencari hal yang seharusnya tidak perlu kau ketahui . . karena itu akan membuat mu sakit hati."
"Aku tahu," cepat Vallen. Perlahan menoleh kesamping kirinya menatap Taksa dengan sorot mata yang begitu sendu. "Tapi jika aku terus saja mengubur rasa penasaran itu, bukankah itu rasanya lebih menyakitkan?"
Mengangguk pelan, kembali melihat ke depan. "Biarlah aku merasakan sakit hati setelah mengetahuinya, daripada aku mati dengan rasa penasaran." Sambung Vallen dengan senyum kecilnya. Itu membuat Taksa menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa kau pernah main kemari sebelum kau pindah?" Sekilas melihat Taksa.
Tersenyum pahit seraya menyenderkan punggungnya kembali dengan pandangan lurus ke depan. "Kenapa? Kau meragukan ku?"
"Tidak!! Hanya, sulit sekali untuk mempercayai seutuhnya."
Taksa paham dengan itu. Apalagi kesalahannya dimasa lalu yang mungkin benar-benar membuat Vallen takut pada dirinya, slalu waspada saat berada di sampingnya. Dan, menghilangkan kepercayaan yang telah Vallen berikan padanya.
"Aku tidak pernah datang kemari, kecuali dihari kepindahan." Menoleh kesamping kanannya, melihat wajah Vallen dari samping.
"Memangnya apa yang membuatmu curiga padaku? Apa ada petunjuk yang mengarah padaku? Akan teman-teman mu."
Membalas tatapan Taksa dengan bibir yang sedikit terbuka.
.
.
.
"Kau datang menemui Saka bukan? Apa yang kau lakukan di sana?"
"Bukankah keadaan Saka saat ini sudah menjawab semua apa yang kau tanyakan? Jika aku melakukan hal buruk padanya, bukankah dia sudah mati sejak kemarin?" Sekilas menaikan alisnya, sebelum berjalan pergi dari hadapan Manda. Karena Delta akan slalu ingat apa yang dikatakan Vallen, jika sudah berurusan dengan Manda.
Abaikan, abaikan, abaikan. Tutup telingamu saat Manda berusaha menjatuhkan mu. Gadis itu akan lelah sendiri dengan sikapnya.
"Hei?" Seru Manda yang menarik semua mata di kantin, yang ditunjukan untuk Delta.
Menghentikan langkahnya diambang pintu, tanpa menoleh kebelakang melihat Manda.
"Kau benar-benar tidak tahu diri, kenapa kau masih ada disini? Padahal kau seorang ******, rela menjual diri hanya demi uang."
Tersenyum miris akan perkataan Manda. Bagaimana jika Manda tahu yang sebenarnya? Apa dia akan meminta maaf padanya? Ah, Delta rasa itu sangat mustahil sekali, jika Manda melakukan hal itu padanya.
__ADS_1
Menelan ludahnya, sebelum berjalan pergi dari tempat itu. Tidak perduli dengan apa yang dikatakan Manda. Karena tujuannya saat ini, hanya ingin tahu siapa yang membunuh Runa . . karena rasa bersalahnya yang seharusnya Delta menolong Runa malam itu.
Berjalan terus ingin menemui Vallen, tapi langkahnya kembali terhenti saat berada didepan kelasnya. Karena dia teman sekelasnya begitu santai memberinya tumpukan buku tugas.
"Berikan buku itu pada guru bahasa Indonesia, itu tugas mu karena bolos tadi." Celetuk salah satu siswi itu, sebelum menggandeng tangan temannya . . berjalan pergi begitu saja dari hadapan Delta.
Diam, membuang napas pelannya. Membenarkan tangannya yang menyanggah tumpukan buku tugas itu, sebelum berjalan kearah ruang guru berada.
Tanpa mengetuk pintu ruangan itu yang slalu dibuka saat jam kerja berlangsung. Delta melangkah masuk, berjalan dimana meja guru bahasa Indonesia berada.
Tersenyum meletakan tumpukan buku itu, yang dibantu oleh sang guru.
"Terimakasih kau sudah membawanya kemari."
"Saya juga terimakasih pada ibu, karena tidak
idak memberi saya maupun Vallen hukuman."
Wanita itu mengangguk paham, "Vallen sudah mengatakannya padaku sejak awal. Jika kalian butuh bantuan, katakanlah . . karena ibu juga masih penasaran. Siapa yang melakukan itu pada Runa? Dan apa pelaku itu orang yang sama dengan apa yang terjadi pada Saka."
"Jika kita tiba melakukan pelakunya, setidaknya kita bisa menghentikan apa yang dia lakukan." Tanggal Delta dengan senyum tipisnya. Yang mendapat anggukkan pelan dari sang guru.
"Saya permisi." Ijinnya yang begitu sopan.
"Pergilah, kau harus menemui Vallen. Diskusi kan dengan gadis itu, apa yang sebaiknya kita lakukan."
Mengangguk sekilas, sebelum berjalan pergi dari ruangan itu tanpa ragu.
Saat berada diambang pintu Delta berpapasan dengan seorang guru musik yang membuat Delta menyunggingkan senyumannya untuk disapa. Guru itu masih dibilang masih muda.
Spontan menghentikan langkah kakinya didepan pintu ruangan guru, perlahan menoleh kearah dimana punggung guru musik itu . . yang entah kenapa terlihat begitu familiar dimatanya. Bukan karena dirinya diajar guru itu, tapi, ada hal lain yang mengarah pada satu objek familiar. Tapi Delta tidak tahu apa itu.
Menggelengkan pelan kepalanya, dan kembali berjalan pergi mencari keberadaan Vallen yang entah dimana. Delta tidak tahu. Tapi Delta akan menemukan Vallen sebelum belum kembali di bunyikan.
__ADS_1