
Ting tong
Bunyi bel pintu rumah yang di tekan. Seseorang berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu. Pintu di buka daj terlihat sosok seorang laki-laki yang entah bisa di bilang cantik ataupun tampan.
"Hai Velic! maaf membuatmu menunggu lama"ucap sosok di dalam kepada Velic.
Velic hanya mengangguk kecil.
"Ini semua gara-gara mama, tadi aku disuruh menghabiskan semangkuk sup brokoli yang menjijikkan."ucapnya
Mereka terus berjalan sambil mengobrol. Tidak! lebih tepatnya orang di sebelah velic yang terus saja bicara.
"Valeri!."panggil velic.
"Apa?"tanya Valeri.
Velic tidak menjawab, tapi dia memberikan sebuah isyarat dengan menunjuk ke arah samping.
"Oh iya kelewat. Hihi, maaf velic."
Keduanya masuk kedalam sebuah sekolah favorit. Di tengah perjalanan, keduanya di hadang segerombolan anak laki-laki.
"Hai Eli."ucap mereka seperti mengejek.
"Heh! jangan coba-coba kalian membully velic!"teriak valeri.
__ADS_1
"Oi Valeri,jangan sok kau. Berani lawan kita nggak."gertak salah seorang dari mereka.
Valeri tetap menatap tajam ke arah mereka. Walaupun sebenarnya dia agak takut.
"Hei apa-apaan kalian, tentu saja Valeri akan di tolong Velic. Diakan cowoknya, eh Velic itu laki-laki apa perempuan sih. hahahahaha."mereka semua tertawa.
Valeri semakin takut. Tidak mungkinkan dia akan melawan mereka semua. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Eh kak Evan."
"Hei kalian! adik kelas kurang ajar. Jangan ganggu mereka berdua atau kalian akan aku laporkan ke BK."ancam kak Evan.
Gerombolan itu hanya bisa mendengus kesal. Kali ini korban mereka selamat. Sementara Velic dan Valeri mengucapkan terimakasih kepada orang yang di panggil kak Evan tersebut
Valeri menengokkan kepala, kedua bola matanya menangkap segerombolan anak perempuan yang sedang bergosip. Melihat Valeri menatap mereka dengan tatapan membunuh, gerombolan itu langsung bubar dan mereka duduk di tempat duduk mereka masing-masing.
"Velic."panggil Valeri.
Velic menoleh ke arah Valeri.
"Kenapa kau memakai gelang bermanik-manik. Maksudku kenapa tidak pakai yang lain."tanya Valeri.
__ADS_1
"Kau temanku, kau pasti lebih tahu tentangku."jawab Velic lalu kembali lagi sibuk dengan bukunya.Sementara itu Valeri hanya melongo mendengar jawaban Velic. Baginya jawban yang di berikan Velic seperti sebuah pertanyaan untuknya.
"Hei! tadi aku lihat kak Evan lewat di depanku. Kyaaaaaa! wajahnya tampan sekali."Ucap salah seorang anak perempuan di kelas Valeri.
"Iya iya, aku juga tadi lihat. Pokoknya dia harus jadi pacarku." timpal yang lain.
"Enggak! kak Evan punyaku."
"Punyaku."
"Punyaku."
"Punyaku."
Akhirnya kelas Valeri gaduh hanya karena satu orang yang di perebutkan. Para murid laki-laki hanya membiarkan mereka begitu saja. Toh yang mereka perebitkan-para anak perempuan-bukan para murid laki-laki di kelas itu.
Valeripun begitu, dia tidak tertarik dengan para most wanted atau para cogan di sekolahnya. Dia berdalil kalau ada orang yang lebih tampan dan selalu ada di sampingnya.(kalian pasti tahu orang yang di maksudkan).
"Eh tapi sebenarnya Velic itu lumayan tampan sih."
Terdengar lagi suara bisik-bisik, tapi kali ini menajamkan pendengarannya.
"Iya juga, tapi dia agak aneh."
"Heh denger ya Velic itu nggak aneh!"teriak Valeri yang tidak terima jika Velic di cela orang lain.
__ADS_1
"Hei! jadi orang itu punya tata krama dong."balas anak perempuan tadi.
Valeri tidak terima, diapun membalas perkataan anak tadi. Velic mencoba menahan Valeri tapi tidak bisa. Akhirnya mereka saling beradu mulut. Adu mulutpun dapat di hentikan saat miss Fela datang memulai pelajaran.