Psycho

Psycho
35


__ADS_3

Kenapa harus menyenangkan hati orang lain lebih dulu? Jika dirinya juga butuh waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri. Tidak perduli dengan ibunya yang entah ada dimana saat ini, yang penting Vallen harus membeli beberapa gantungan tas didepan matanya. Gadis itu ingin memberikannya pada teman-teman sekolahnya.


Memberikan lima lembar uang warna merah pada sang penjaga toko di sana, sebelum menerima paper bag sedang yang berisi barang belanjaannya itu.


Berjalan keluar untuk mencari keberadaan ibunya, karena tidak ingin mendengar omelan dari sang ibu . . yang akan memarahinya terus-menerus, jika tidak membantu memilih barang untuk kado ulang tahun Taksa.


Saat masuk kedalam toko pakaian, Vallen mengedarkan pandangannya yang tidak menemukan ibunya didalam sana. Membuat Vallen kembali keluar hingga langkahnya terhenti didepan toko jam, dimana punggung wanita familiar yang menarik perhatian Vallen.


Membuang napas lelahnya, berjalan masuk menghampiri. Berdiri di samping sang wanita yang sebentar melihat kehadiran Vallen dengan pandangan biasa, sebelum memperlihatkan tiga jam branded dengan merk yang berbeda.


"Kau harus memilihnya diantara ketiga ini." Pinta sang wanita


"Kenapa tidak ibu saja?"


"Taksa itu teman mu, kenapa harus ibu yang memilihnya?"


Membuang napas sabarnya akan wanita didepan matanya yang sulit sekali untuk introspeksi diri. Lebih melihat kembali tiga jam didepan matanya dan memilih warna hitam . . karena bagi Vallen, warna hitam itu warna yang netral. Jadi tidak perlu mencocokkan dengan baju yang ingin dipakai.


Senyum cerah dari sang wanita tidak membuat sudut bibir Vallen sedikit saja naik keatas. Memilih melihat kearah lain dengan helaan napas pelan, saat ibunya menyuruh karyawan di sana untuk membungkus kan jam tangan itu.


.


.


.


Sampainya di rumah, Vallen keluar begitu saja dari dalam mobilnya, masuk kedalam rumahnya mengabaikan beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya. Menaiki anak tangga satu persatu yang mengantarkannya dimana letak kamarnya berada.


Dengan perasaan lelah, Vallen menutup rapat pintu kamarnya. Melangkah dengan perasaan lesu, melepas tas punggungnya yang diletakkan begitu saja di atas meja dengan paper bag sedang di tangannya.

__ADS_1


Melepas sabuk pada rok rempel-nya yang benar-benar membuat Vallen bernapas lega, dan memilih membaringkan tubuhnya begitu saja di atas kasur empuknya. Melihat langit-langit kamarnya dalam suasana hening.


Tidak perduli dengan pintu kamarnya yang perlahan dibuka oleh ibunya. Berjalan masuk dengan paper bag sedang ditangannya kini diletakkan begitu saja di atas meja belajar Vallen. Sebentar melihat paper bag lainnya yang berada di sana dengan sorot mata sulit sekali dibaca. Sebelum membalikkan tubuhnya, melihat Vallen dengan kedua tangan bersedep dada.


"Gantilah pakaian mu. Sebentar lagi guru privat ku akan datang." Pinta sang wanita pada Vallen.


Merubah posisinya menjadi duduk, membalas tatapan sang wanita yang berdiri didepan matanya. "Ibu tidak memberiku waktu untuk istirahat sebentar saja?"


"Kau bisa langsung tidur setelah sesi belajarnya selesai. Kau mengerti?" Sekilas menaikan alisnya. Sebelum berjalan keluar dari ruangan itu dengan menutup rapat pintu kamar Vallen.


Hanya diam meluruskan pandangannya yang sulit sekali dibaca. Hatinya benar-benar lelah akan sikap ibunya yang terus saja menyuruhnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Padahal, kepalanya sudah tidak kuat lagi menampung semua materi pelajaran yang terus saja bertambah setiap harinya.


Mau sampai kapan ia harus bertahan menjalani hidup seperti ini?


Membuang napas pelannya, beranjak dari duduknya untuk membersihkan tubuhnya.


Memoles bibirnya sedikit, sebelum berjalan dimana perpustakaan kecil yang ada dirumahnya . . setelah menyambar beberapa buku saja.


Menuruni anak tangga dengan pelan dengan pandangan melihat kearah ibunya yang berjalan sedikit cepat kearah pintu utama, itu membuat kening Vallen mengerut samar . . kembali menuruni anak tangga itu, bejalan kearah dimana ibunya pergi yang tengah menyambut kehadiran sosok pria muda yang begitu tampan.


Itu membuat Vallen menghentikan langkahnya didekat pintu, melihat kearah pria familiar yang spontan membuat kedua mata Vallen sedikit membuat.


"Apa-apaan ini?" Gumamnya yang tidak menyangka.


Refleks membalikkan tubuhnya, berjalan pergi dari tempatnya berdiri untuk mendatangi dimana perpustakaan kecil didalam rumahnya.


Membuka pintu ruangan yang dipenuhi banyaknya buku, membuat helaan napas gusar kembali terhembus dari mulut Vallen. Menutup kembali pintu ruangan itu, dan duduk di salah satu kursi yang telah disediakan dengan buku di tangannya diletakkan di atas meja hadapannya.


Pandangan lurus ke depan dengan sorot mata yang masih tidak menyangka akan pria familiar itu. "Tidak mungkin dia guru privat ku?"

__ADS_1


Menggeleng pelan, memilih membuka semua pukul yang ia bawa . . mengerjakan soal-soal ujian didepan matanya tanpa memperdulikan pintu ruangan itu dengan perlahan terbuka.


Sebentar menghentikan tangan kanan Vallen, tapi gadis itu tetap melanjutkan tugasnya. Bersikap tidak tahu padahal Vallen sudah tahu, agar pria itu bersikap biasa tanpa harus mengenalinya.


"Apa yang kau pelajari sebelum guru privat mu datang?" Cetus sang pria yang menghentikan tangan Vallen.


Perlahan mengadahkan pandangannya tepat pada kedua bola mata sang pria yang tersenyum khas pada Vallen.


Menarik kursi, dan duduk dihadapan Vallen tanpa melunturkan senyumannya, walau tidak mendapat balasan sedikit saja dari Vallen.


"Kau tidak ingin mendiskusikannya denganku?" Kembali membuka suaranya.


"Kenapa kau melakukannya?" Pelan tapi penuh penekanan, Vallen mengatakannya."


Bukannya menanggapi apa yang dilontarkan Vallen, pria itu mengambil alih beberapa lembar kertas yang dikerjakan oleh Vallen.


"Statistika, penyajian data_" pelan sang pria yang diabaikan oleh Vallen.


"Sungguh, kau tidak tahu malu. Setelah apa yang kau lakukan pada murid mu sendiri, sekarang kau menerima tawan dari ibuku menjadi guru privat ku." Terus saja melontarkan perkataannya dengan nada rendah, menatap sang pria dengan intens.


"Kau membiarkan Delta dirundung, dihina karena perbuatan mu . . dan kau masih diam saja tanpa melakukan apapun untuknya." Tambahnya yang berusaha untuk menahan emosi pada dirinya.


"Kau yang membahasnya lebih dulu." Pelannya. Membalas tatapan Vallen dengan sorot mata yang tajam, tidak seperti biasanya. . dan tidak membuat Vallen merasa takut.


"Jika dia tidak memintaku untuk menemuinya, aku tidak akan melakukannya padanya. Toh, bukankah aku tidak sempat menyentuh barang berharganya?" Sekilas menaikan alisnya, dengan senyum miring di bibirnya.


Memberikan lembar kertas itu pada Vallen, "kerjakan soal yang belum kau kerjakan, aku akan mengoreksinya."


"Kau pelakunya." Cetus Vallen begitu saja, yang membuat sang pria diam kembali membalas tatapan dari Vallen.

__ADS_1


__ADS_2