Psycho

Psycho
21


__ADS_3

Hal apa yang membuat kalian penasaran? Hingga kalian tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Dan berhenti tidak mencari tahu apa yang seharusnya tidak kalian tahu. Tapi rasa penasaran itu telah mengalahkan segalanya, logika dalam kepalanya, perasaan yang setia singgah didalam hati. Dan itu, tidak berlaku sama sekali untuk saat ini.


Terus berjalan pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Mengikuti sosok itu yang mengarah pada belakang sekolah. Seketika langkahnya terhenti, belakang sekolah? Apa yang akan pria itu lakukan?


Spontan menyembunyikan tubuhnya dibalik pohon besar yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, saat sosok itu menghentikan langkahnya . . menoleh kebelakang, merasa ada yang mengikutinya. Tapi sosok itu tidak menemukan siapapun di belakangnya.


Kembali melanjutkan langkahnya dengan tangan yang menyeret tas besar itu, benar-benar menghabiskan tenaganya. Seharusnya ia mencari yang lebih kecil dulu. Tapi ya sudah, itu sudah terlanjur.


Sedangkan dilain sisi, Delta yang masih berdiri diruang musik. Gadis itu begitu ragu untuk membuka pintunya yang sedikit terbuka, tanpa harus menggunakan kunci dari Vallen.


Membuang napas pelan, dan memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan itu. Gelap, tidak ada penerangan sedikitpun. Membuat Delta kembali menutup ruangan itu dengan rapat. Berjalan dengan pandangan mengedar, walaupun itu tidak begitu jelas dimatanya, tapi Delta masih bisa melihat sekelilingnya . . yang tidak begitu banyak alat musik, kursi yang dinaikan di atas meja.


Mengingat kembali jika sosok itu menyeret tas, membuat pandangan Delta dengan perlahan mengarah kelantai yang saat ini gadis itu pijak ki. Tidak menemukan noda merah di sana, itu membuat rasa ragu mulai singgah di benaknya.


Tapi, saat kedua matanya tidak sengaja melihat kearah pintu lainnya. Membuat Delta menoleh kearah pintu utama ruangan itu sebentar, sebelum berjalan mendekat. Tanpa adanya rasa ragu ataupun takut, Delta membuka begitu saja ruangan itu yang benar-benar membuat Delta terdiam seperti patung . . sulit sekali untuk menelan ludahnya.


Perlahan memundurkan langkahnya dengan kaku. Tapi dengan kesadaran yang membuyarkan Delta dari lamunannya, dengan cepat gadis itu keluar dari dalam ruangan itu.


Berjalan cepat melewati lorong gelap itu untuk mencair keberadaan Vallen. Karena Delta, Vallen berada dalam bahaya. Jangan sampai kehadiran Vallen diketahui sosok itu, sebelum ia menemukan keberadaan Vallen.


Menghentikan kakinya tepat diambang pintu utama gedung sekolahnya dengan pandangan mengedar. "Kemana aku harus mencari mereka?"


Mengurungkan langkahnya gitu saja saat ingin berjalan kearah parkiran sekolah. Membalikkan badannya berlari kearah dimana taman sekolahnya berada, karena dari taman Delta bisa melihat semua atap gedung sekolahnya . . mungkin saja sosok itu berada di salah satu atap sekolahnya.


Mengadahkan pandangannya yang liar, melihat semua atap sekolahnya yang tidak menemukan siapapun . . itu membuat rasa resah mulai menghampiri Delta.


Membuang napas gusarnya, dan kembali berlari ke sembarang arah untuk menemukan Vallen secepat mungkin.


.


.

__ADS_1


.


Bagaimana bisa orang yang selama ini dihormati seluruh murid di sekolahnya? Melakukan hal gila yang jauh sekali dari dugaannya.


Apa dia punya alasan?


Benar,


Apapun yang kita lakukan, entah itu buruk ataupun baik, entah itu melukai orang lain atau tidak . . semua itu pasti ada alasannya. Tapi, bukankah setidaknya mengatakan sejujurnya? Bukannya bersikap baik tapi begitu buruk aslinya.


"Bagaimana bisa dia sekejam itu?" Gumam Vallen yang kehabisan kata-kata, kedua matanya yang sudah berkaca-kaca sedari tadi.


Melihat seorang siswi yang sudah tidak sadarkan diri, kini digantungkan begitu saja di atas pohon, dengan tali yang melingkar di lehernya. Walaupun tidak ada darah sedikitpun yang singgah di tubuh gadis itu. Vallen yakin, pasti ada satu luka yang tertinggal di sana. Tapi Vallen tidak bisa mendekatinya saat ini juga, itu sama saja mengantarkan nyawanya dengan cuma-cuma.


Menormalkan napasnya, duduk sendiri di halte bus yang dekat dengan sekolahnya. Sorot matanya melihat kearah jalan raya yang tidak dilintasi oleh satupun kendaraan saja.


Itu membuat sepasang kaki milik Delta perlahan terhenti didekat halte bus itu dengan napas yang memburu. Menghelanya dengan sangat lega, sebelum berjalan mendekati Vallen.


"Kau melihatnya?"


Hanya gumaman pelan dari Vallen sebagai respon, itu membuat Delta tersenyum miris dengan kepala sedikit menunduk . . Sebelumnya menganggukkan pelan kepalanya.


"Apa yang harus kita lakukan? Secepat mungkin kita harus melaporkannya, tidak mungkin kita berdiam diri terus-menerus . . itu sama saja kita mendukung apa yang dia lakukan."


Diam sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya. "Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu? Apa dia sudah gila?" Kembali menoleh kearah Vallen-- masih diam tidak merespon sedikitpun. Karena kepalanya tidak bisa diajak berpikir untuk saat ini. Entah rasa takut, atau rasa terkejut melihat kejadian dibelakang sekolah tadi.


"Apa dia ingin membunuh semua murid di sekolahnya? Apa kita punya salah dengannya?" Sambung Delta yang masih tidak mengerti dengan gurunya satu itu.


"Pasti ada alasan kenapa dia melakukan hal itu."


"Alasan?" Sekilas menaikan alisnya. "Ku kira itu semua memang dia sengaja. Ternyata ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan ku. Mungkin saja, setelah ini aku targetnya."

__ADS_1


"Tidak hanya dirimu, akupun juga targetnya. Tidak, semua orang di sekolah sebagai targetnya. Apa dia monster?"


"Lebih tepatnya psikopat." Ralat Delta dengan nada rendah. Itu membuat Vallen menundukkan sedikit kepalanya dengan helaan napas pelan.


Sampai keheningan menyelimuti mereka yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tidak perduli dengan sebuah mobil sedan yang terhenti dihadapan mereka. Tidak ada yang membuka suara, kedua gadis itu hanya diam, perlahan melihat mobil didepan mata mereka dengan sorot mata yang berbeda.


Hingga Delta spontan berisik dari duduknya saat sosok pria dewasa keluar dari dalam mobil, dengan setelan kemeja putih, lengan kemeja itu digulung hingga sikut. Berdiri dihadapan kedua gadis itu dengan wajah polos penuh tanya.


Apa dia tengah berakting? Setelah membunuh muridnya sendiri.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


"Kita hanya ingin pergi ke sekolah untuk mengambil buku di perpustakaan, karena besok kelas kita ada ujian. Tapi kita tidak bisa melakukannya." Lontar Vallen dengan pelan.


"Ke-napa?" Sekilas menaikan alisnya melihat kedua gadis itu secara bergantian.


"Saat kita sampai didepan gerbang, semua lampu disekolah mati. Jadi kita kembali kesini menunggu bus, tapi sampai sekarang bus juga tidak kunjung datang." Tanggal Delta dengan senyum simpulnya, walau dalam hati gadis itu ingin sekali melakukan  hal gila sama seperti apa yang dilakukan pria itu.


"Oh," mengangguk pelan. Menoleh ke mobilnya, sebelum melihat kedua gadis itu.


"Aku bisa mengantarkan kalian pulang ke rumah, jika kalian mau."


"Saya sudah menelpon ibu saya untuk menjemput kita." Cepat Vallen, walau itu berbohong. Karena perasaannya mulai tidak enak saat pria didepannya menawarkan tumpangan.


"Begitu," sebentar menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalian hati-hati. Jika terjadi sesuatu, jangan sampai kalian terluka. Hubungi siapapun untuk meminta bantuan."


Hanya senyum simpul dari kedua gadis itu sebagai respon. Mengangguk sekilas, saat pria itu kembali melakukan mobilnya pergi dari depan mata mereka.


Membuat Delta membuang napas lega, dan kembali duduk di samping Vallen. "Semoga dia percaya apa yang kita katakan."


"Semoga." Pelan Vallen.

__ADS_1


__ADS_2