
Ditempat yang sangat jarang sekali Delta kunjungi, kini terlihat begitu asing dikedua matanya. Sesering mungkin hembusan napas gusar dari hidungnya membuat pemuda di sampingnya melihat gadis itu. Sebelum mengikuti arah pandang Delta-- yang melihat banyaknya pengunjung disekitarnya yang jauh sekali berbeda dengannya, karena itu terlihat jelas dari pakaian yang mereka kenakan. Itu membuat Delta merasa minder sendiri, tidak seharusnya ia pergi ke tempat seperti ini yang sama sekali tidak cocok dengannya.
Dan ternyata itu disadari oleh Satya, apalagi kepala gadis itu yang perlahan menunduk melihat sepatu putih yang melekat di kaki Delta.
"Barang apa yang ingin kau berikan pada Taksa?" Tanya Satya yang ingin mengubah suasana hati Delta, agar gadis itu tidak merasa insecure pada perempuan yang dia lihat.
Melihat Satya dengan raut wajah yang sedikit murung. "Aku tidak memiliki banyak uang untuk membelinya."
"Kau bisa menggunakan uang ku lebih dulu." Tawar Satya pada Delta.
"Dan ginjal ku sebagai jaminannya?" Sekilas menaikan alisnya dengan rasa emosi yang mulai membara.
"Itu terdengar tidak terlalu buruk." Melihat kearah lain dengan kening mengerut samar, memikirkan apa yang dikatakan Delta.
"Ternyata dia jauh lebih sialan dari yang aku kira." Gumam Delta begitu pelan tapi__
"Aku masih bisa mendengarnya."
Tersenyum geli akan raut wajah yang dilihat kan oleh Delta. Sorot mata gadis itu menatap Satya begitu horror, sebelum berjalan lebih dulu meninggalkan Delta yang begitu kesal dengan Satya. Rasanya Delta ingin menenggelamkan pemuda itu di laut selatan.
Tanpa menyadari jika sepasang mata yang sendiri tadi melihat kedua insan itu dengan sorot maya yang sulit sekali diartikan. Kedua tangan bersedekah dada, raut wajahnya terlihat benar-benar tidak menyukai akan seorang gadis yang bersama Satya.
"Kenapa dia malah mengajaknya pergi daripada mengajakku? Apa dia benar-benar menyukainya?" Tersenyum getir dan memilih berjalan pergi dari tempat pembelanjaan itu.
Sedangkan dilain sisi dimana kedua insan yang tengah sibuk sendiri akan banyaknya miniatur yang terpanah rapi didalam toko itu. Membuat rasa takjub singgah dibenak Delta.
"Wow, seandainya aku memiliki sedikit banyak uang, aku akan membeli kalian." Gimana Delta yang hanya bisa berharap, dengan kepala sedikit mengangguk kecil.
Sebelum mengalihkan pandangannya melihat dimana Satya yang kini telah berdiri di hadapannya dengan sebuah kotak music di tangannya yang berbentuk biola.
"Kenapa dia menginginkan barang seperti ini? Apa dia seorang perempuan?" Oceh Satya yang ditunjukkan pada Taksa, tapi yang terkena imbasnya Delta. Karena Satya tidak habis pikir dengan Taksa, kenapa pemuda itu menginginkan barang seperti ini?
"Tidak semua perempuan menyukainya." Tanggap Delta dengan pandangan sedikit sinis.
__ADS_1
"Tapi kebanyakan perempuan menyukainya." Cepat Satya yang terlihat tidak ingin kalah berdebat dengan Delta.
"Pendengaran ku begitu buruk saat benda itu dibunyikan." Akhir Delta yang kini memilih pergi menjauh dari Satya. Karena entah kenapa dirinya merasa malu sendiri akan sikap pemuda itu yang seperti ibu-ibu di perumahannya.
Tidak butuh waktu lama mereka telah membeli barang untuk Taksa, rapat, hanya Satya yang membelinya. Karena Delta tidak ingin memiliki hutang pada siapapun. Ia akan datang ke acara itu, tapi bukan sekarang Delta membeli kado untuk Taksa.
"Kau benar tidak ingin meminjam uang ku lebih dulu? Tenanglah, aku tidak akan menagihnya.
"Terimakasih atas tawaran mu." Berjalan lebih dulu meninggalkan Satya yang hanya bisa menghela napas pelan.
Sebelum langkahnya terhenti didepan toko buku, membuat Satya menarik begitu saja tangan Delta masuk kedalam sana. Yang lagi mau tidak mau membuat Delta mendesah pelan, karena Satya tidak mengatakannya lebih dulu.
"Tidak biasanya kau membeli buku. Peringkat mu tidak akan naik?" Lontar Delta begitu saja, melihat Satya yang tengah mengambil beberapa novel di rak buku hadapannya.
"Bukan untukku." Jawab Satya sekilas melihat Delta.
"Jika bukan untukmu, buat siapa?"
"Vallen." Sahutnya dengan senyum khas di bibirnya, itu membuat Delta sedikit meringis dan menganggukkan paksa kepalanya.
"Pikirannya sedikit cerah?" Sekilas menaikan alisnya. "Jadi selama ini pikiran Vallen suram?"
Seketika Satya mengurungkan niatnya untuk bicara menanggapi apa yang dikatakan Delta, karena tidak ingin gadis didepan matanya mengatakan hal yang tidak-tidak pada Vallen.
"Berhentilah memancing ku untuk bicara buruk tentang Vallen."
Mengangguk kecil. "Kau menyukainya?" Sekilas menaikan alisnya menatap Satya.
"Tidak!! Kita hanya berteman." Jawab Satya yang sedikit gugup.
"Semua orang disekolah tahu jika kau menyukainya, walaupun mereka mengira kau menyukai Runa." Sungut Delta yang tidak bisa membuat Satya berkata-kata.
"Kenapa kau tidak bisa mengatakannya pada Vallen? Jika kau menyukainya." Tambah Delta yang tanpa sadar mengikis emosi dalam diri Satya.
__ADS_1
"SUDAH KU KATAKAN JIKA KITA HANYA BERTEMAN."
Saat itu juga semua mata di sana terarah pada Satya maupun Delta yang perlahan menutupi wajahnya, karena merasa malu sendiri akan seruan dari Satya.
"Bukankah sudah ku katakan, jangan memancing ku." Semakin rendah Satya mengatakannya, sebelum berjalan kearah dimana kasir toko itu berada . . diikuti oleh Delta yang sedikit meringis.
Keluar dari bangunan itu dengan barang masing-masing, lebih tepatnya Satya yang membawa banyak barang. Sedangkan Delta hanya memegang cup minuman dingin miliknya yang dibelikan Satya. Awalnya Delta menolak dan ingin membayar sendiri, tapi Satya begitu kekeh tetap memaksanya untuk menerimanya . . yang mau tidak mau, Delta menerimanya.
Berjalan beriringan di atas trotoar pejalan kaki dengan keadaan hening, tidak ada yang memulai obrolan lebih dulu. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Satya tengah memikirkan, 'bagaimana jika ia mengatakan perasaannya pada Vallen?' sedangkan Delta yang kini tengah meminum minuman nya dengan tanda tanya besar di kepalanya akan pria itu yang kenapa menyimpan jari manusia yang telah sang pria bunuh. Memangnya untuk apa jari-jari itu?
"Kau tahu alamat rumah Vallen?" Tanya Delta begitu saja pada Satya.
Diam, sekilas menaikan alisnya membalas tatapan Delta yang menunggu tanggapan dari Satya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Berbalik bertanya Satya mengatakannya.
"Tidak mungkin jika kau tidak tahu, bukan?"
"Ku sarankan jangan pergi ke rumah Vallen, karena ada penyihir yang akan mengutuk mu."
"Penyihir itu yang kau maksud, ibunda dari Vallen?"
"Aku tidak mengatakannya." Cepat Satya yang terus saja ingin mengelak.
"Itu sama saja." Menipiskan bibirnya dan kembali meluruskan pandangannya, tanpa menghentikan langkah kakinya. "Dimana alamat rumahnya?"
"Aku akan mengantarkan mu."
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
"Kau ingin meminjam uang padanya?"
__ADS_1
Seketika menghentikan langkah kakinya, saat Satya menatapnya dengan langkah terhenti.
"Kau kira aku se-miskin itu?" Rasa kesal mulai kembali menjalar di tubuhnya, menatap sinis Satya yang tidak langsung mengatakannya saja.