Psycho

Psycho
37


__ADS_3

Hanya ingin tahu apa yang tengah dilakukan sang peringkat pertama, karena tidak masuk kedalam kelas musik. Apalagi pelajaran segera dimulai. Dan entah kenapa perasan tidak enak mulai menyerang benaknya, saat mengingat niatnya yang ingin menyusul kepergian Vallen tadi.


Setia mengarahkan pandangannya dimana pintu satu-satunya ruangan musik itu berada. Berharap Vallen datang tepat waktu. Tapi nyatanya, hingga sang guru tiba dengan pintu yang ditutup rapat oleh pria itu . . membuat Satya membuang napas pelannya dan mau tidak mau fokus pada pelajarannya. Walau sesekali matanya melihat kearah pintu, masih berharap jika Vallen hadir masuk ke dalam kelas.


Tapi sampai sesi absen selesai pun, tidak ada tanda-tanda sedikitpun dari Vallen.


"Apa ada surat ijin dari Vallen?" Tanya sang pria melihat semua murid didepan matanya yang hanya diam, saling pandang.


Karena ada sebagian dari mereka yang sempat bertemu dengan Vallen tadi. Mereka juga tidak dapat bicara akan Vallen yang tidak-tidak, jika tidak ingin berurusan dengan keluarganya.


Sedikitpun kalian menyentuh Vallen, masa depan kalian yang akan menjadi sasarannya.


"Manda?" Panggil sang pria yang membuat sang gadis sekilas menaikan alisnya tanpa membuka suaranya sedikitpun. "Kau dekat dengan Vallen, bukan? Kau tahu dia ada dimana?"


"Bukankah anda memiliki nomor orang tua Vallen? Kenapa anda tidak menanyakan langsung pada mereka?" Bukannya menjawab apa yang dikatakan sang pria, Manda malah balik bertanya dengan nada bicara yang begitu enteng menyapa indera pendengaran siapapun di sana.


Saat sang pria ingin membuka mulutnya, pintu ruangan terbuka begitu saja tanpa adanya ketukan lebih dulu. Menarik semua mata didalam sana, yang mengarahkan pandangannya pada pintu ruangan.. perlahan terbuka, menampilkan sosok Vallen yang spontan menghentikan kakinya diambang pintu.


Melihat sekitarnya lebih dulu yang terfokus pada dirinya, sebelum berjalan kearah bangku yang kosong . . dimana kursi itu berada dibelakang samping Taksa dan bagian tengah samping Manda dan Satya. Tapi Vallen memilih tempat duduk di samping Taksa, melewati Satya begitu saja.


Menimbulkan tanda tanya besar di kepala mereka, karena Vallen tidak pernah duduk dibelakang selama ini. Tapi untuk detik ini, pemandangan yang benar-benar langkah dimata mereka. Ingin sekali mengambil foto dimana Vallen duduk, tapi mereka juga tahu waktu, tempat, dan kondisi . . tidak mungkin mereka memotret Vallen saat ini juga.


Lain halnya dengan sang pria yang hanya bisa membuang napas pelan dan menutup kembali pintu ruangan itu.


Diam, duduk di samping Taksa yang tersenyum akan sikap Vallen yang benar-benar tidak berubah sejak dulu. Dan memilih menidurkan kepalanya kembali, tidak perduli dengan apa yang dikatakan pria didepan sana. Karena Taksa tidak begitu tertarik dengan musik, dan bukan berarti Taksa tidak menyukainya.


Merogoh saku jas sekolahnya yang mendapati lembar kertas yang terlipat menjadi empat, kini dibuka oleh Vallen . . yang untung saja terhalang pada siswa yang duduk di depannya.

__ADS_1


Tapi itu tidak luput dari penglihatan Delta, hanya diam dan kembali melihat ke depan . . agar pria itu tidak mencurigainya ataupun mencurigai Vallen. Walau rasa takut masih terperangkap di benaknya akan kejadian malam itu.


Masih tidak mengerti dengan data pria itu, kenapa berbeda sendiri dari yang lain? Apa dia membuatnya dengan sengaja? Jika iya, kenapa pihak sekolah tidak menyadarinya? Apa ada orang dalam yang mengijinkan pria itu mengajar di sekolahnya?


Siapa orang itu.


Beralih pada sang pria yang terus saja meceritakan seorang penyanyi yang ternama di jaman dulu. Tidak membuat Vallen tertarik, karena pria itulah yang membuat rasa penasarannya menjadi-jadi.


Kembali melihat lembar kertas didepan matanya tepat dimana alamat yang tertera di sana. Tanpa menyadari jika sang pria mengarahkan pandangan melihat Vallen, walau sebentar. Berjalan pelan kearah dimana Vallen berada dengan kedua mata yang melihat murid lainnya dan mulut yang masih saja menerangkan materi pelajaran.


Dan entah kenapa saat itu juga Taksa menegakkan punggungnya karena dirinya tak kunjung pergi ke alam mimpi. Menoleh kesamping, dimana Vallen berada yang fokus pada kembar kertas ditangan gadis itu. Sebelum beralih pada sang pria yang semakin mendekat kearahnya, dan kembali melihat Vallen . . lebih tepatnya pada lembar kertas di tangan gadis itu.


Tanpa mengatakan apapun lebih dulu, dengan santai Taksa merebut begitu saja lembar kertas itu yang dilipat dengan asal, kini masuk kedalam saku celananya. Yang membuat Vallen tersentak dengan mulut sedikit terbuka, melihat Taksa yang tersenyum simpul pada Vallen. Sebelum menidurkan kembali kepalanya.


Saat itu juga sang pria berdiri di samping bangku Vallen, hanya diam mengadahkan sebentar pandangannya tepat pada pria itu. Sebelum kembali melihat kearah buku pelajarannya yang terbuka, mengabaikan kehadiran pria itu yang menutup bibirnya, menatap Vallen dengan sorot mata yang sulit sekali diartikan.


.


.


.


Menjauhkan tangannya dari pergelangan milik Taksa, menelan ludahnya sekilas. "Kembalikan kau ambil dariku." Pinta Vallen dengan nada pelan.


"Sebenarnya apa yang kau cari?" Tidak langsung memberikan apa yang diinginkan Vallen, Taksa bertanya lebih dulu.


"Kembalikan padaku?" Kembali meminta apa yang dirinya miliki dengan tangan kanan mengadahkan didepan mata Taksa.

__ADS_1


Dengan helaan napas pelan, tangan kekar milik Taksa merogoh saku celananya.. kini memberikan lembar kertas yang terlipat dengan asal pada Vallen.


"Terimakasih." Hanya itu yang dicetuskan Vallen, sebelum menuruni anak tangga, pergi dari hadapan Taksa.


Hanya diam, mengarahkan pandangannya pada punggung Vallen yang hilang dibalik pintu transparan bangunan sekolahnya.


Berdiri dari duduknya saat bel pergantian pelajaran dibunyikan. Sekilas melihat kearah sang guru, sebelum benar-benar keluar dari ruangan musik itu . . hingga kakinya terhenti dibelikan koridor.


Melihat teman-teman sekelasnya yang berjalan melewatinya begitu saja, sebelum mengarahkan kakinya dimana lokernya berada untuk menyimpan buku di tangannya.


Meletakkan begitu saja semua buku di tangannya didalam loker, sebelum merogoh saku celananya. Melihat lipatan kertas itu, membukanya hingga kedua matanya menatap tidak menyangka. Apalagi saat foto yang tertempel di sana.


Mengedarkan sebentar pandangannya, sebelum memotret lembar kertas itu . . kini dikembalikan kedalam kantong celananya. Menutup pintu lokernya dan berjalan pergi untuk membeli minuman dingin.


Tersentak akan rangkulan yang begitu tiba-tiba dari Satya. "Apa yang kau lihat?"


Mendengus kesal, menjauhkan tangan Satya dari pundaknya. "Kau menyukaiku?" Sekilas menaikan alisnya.


"Oh, aku menyukai mu." Asal Satya yang benar-benar ambigu.


Itu membuat bibir Taksa menipis, dan memiliki menuruni anak tangga itu satu persatu. Tidak perduli dengan Satya yang mengikutinya.


"Apa yang kau inginkan?"


Mengerutkan samar keningnya tidak mengerti dengan apa yang baru saja Satya katakan.


"Aku tidak menginginkan apapun." Tanggal Taksa tanpa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin aku memberimu kado mini dress." Spontan Satya menghentikan langkahnya saat Taksa berhenti begitu saja. Menoleh kearah Satya yang tersenyum begitu saja.


"Kado?" Sekilas menaikan alisnya.


__ADS_2