Psycho

Psycho
delapan


__ADS_3

Ketidak sengajaan itu membuat satu fakta mulai diketahui oleh Vallen, kini mengedarkan pandangannya sebentar sebelum masuk kedalam rumah Delta yang tidak dikunci sama sekali. Itu memudahkan Vallen untuk mencari sesuatu yang seharusnya di ungkapkan.


Melihat sekelilingnya rumah yang begitu terlihat tidak terurus, membuat Vallen membuang napas beratnya. Melepas tas putihnya, kini diletakkan di atas sofa.


"Apa perlu aku membersihkan tempat ini?" Gumamnya. Sebelum mengikat bawah surai panjangnya itu.


Mulai merapikan tempat yang baru kali pertama Vallen masuki. Walau tidak ada ijin yang Vallen terima, tapi gadis itu tetap merapikan ruangan itu hingga rapi. Membersihkannya hingga tidak ada sampah yang tersisa.


Sedangkan sang pemilik rumah kini sudah berdiri didepan bangunan yang entah kenapa selalu mengingatkan gadis itu pada kejadian tiga tahun yang lalu.. masih terlihat begitu sangat jelas di kepala Delta. Dan dari tempat itu, sebuah dendam mulai muncul didalam benaknya.


Sebenarnya Delta ingin berhenti, tapi entah kenapa egonya selalu menang dari kata hatinya? Bukankah seharusnya Delta lemah akan isi hatinya


Membuang napas beratnya hanya untuk menyakinkan dirinya, jika ia bisa melanjutkan niat awalnya.


Sesekali mengembungkan kedua pipinya, berjalan terus melewati beberapa orang asing yang lalang disekitarnya.. dengan kedua tangan terkepal. Hingga langkahnya terhenti didepan salah satu ruangan pasien rawat inap.


Dengan ragu mengarahkan tangan kanannya pada knop pintu depan matanya yang terhenti begitu saja saat suara familiar menyapa pendengarannya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Spontan menjauhkan tangannya sembari mengarahkan pandangannya pada seseorang yang menatap Delta dengan sorot mata biasa, walau terlihat tidak suka akan kehadiran Delta.


"I-itu_"


"Kau ingin melihatnya?" Tidak perduli dengan apa yang akan dikatakan Delta.


Sedikit membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suaranya yang tertahan di tenggorokannya. Hanya karena sebuah lontaran kalimat tercetus kembali dari mulut Manda.


Memilih diam, mendengar apa yang dikatakan Manda.


"Atau kau ingin membunuhnya dengan melepas selang pernapasannya?" Sekilas menaikan alisnya dengan kedua tangan bersedekap dada. Senyum kecil terukir di bibirnya.


"Kenapa mulut mu itu senang sekali menuduh orang yang belum tentu melakukan hal konyol seperti itu?" Sahut Delta begitu tenang.


"Aku tidak menuduh mu, aku hanya bertanya. Tapi kenapa reaksi mu sangat berlebihan seperti ini?" Sekilas menaikan alisnya. "Apa, perkataan ku tadi benar? Kau berniat melakukan hal itu?"

__ADS_1


"Tutup mulut mu Manda." Seru Delta dengan tatapan sedikit tajam.


"Apa?" Pelannya yang tidak menyangka akan seruan Delta.


"Berani sekali kau meninggikan suaramu saat bicara denganku. Memang kau siapa?" Sambung Manda dengan menaikan oktaf nada bicaranya, yang menarik sebentar beberapa pasang mata di sekitarnya itu.


"Kau tidak jauh beda dari sampah, jadi tundukkan kepalamu saat bicara denganku." Semakin meninggikan suaranya, yang malah tidak membuat Delta mundur.


"Kenapa? Kau merasa harga dirimu jatuh saat aku berseru padamu?" Tersenyum miring, mengikis jaraknya dengan Manda yang mulai tersulut emosi.


"Walaupun kau lebih kaya dariku, tapi kau bukan siapa-siapa jika kakek mu bukan orang yang dikenal di kota ini." Diam sejenak. "Jabatan yang dipegang kakek mu saat ini, tidak selamanya akan menjadi miliknya. Jadi jangan sampai kau mendapat tuntutan atas perilaku mu selama ini."


Sebentar melihat Manda, sebelum berjalan pergi dari hadapan Manda.. menyempatkan menyenggol pelan pundak Manda, yang tersenyum hambar. Tidak percaya dengan cara Delta memperlakukannya.


.


.


.


Mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruangan itu yang terlihat benar-benar rapi dari sebelumnya. Semua barang miliknya tertata rapi pada tempatnya, itu membuat rasa heran dan penasaran mulai merasuki dirinya.


Berjalan kearah dapur yang terlihat sama, rapi. Tidak ada satupun barang yang tergeletak di sembarang tempat. Sebelum membuka kamar mandai yang masih sama, walau Delta hanya ingin mencari orang yang telah membereskan rumahnya. Tapi, tidak ada satupun orang didalam rumahnya, kecuali dirinya sendiri.


"Aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk membersihkan rumah ini. Tapi siapa yang melakukannya?" Keningnya mengerut samar, kembali melihat sekeliling ruangan itu.


"Tidak mungkin jika hanya orang iseng, ataupun orang yang beralasan tidak memiliki pekerjaan.


Seketika kedua matanya sedikit membulat, karena mengingat satu ruangan yang belum Delta lihat. Dimana lagi jika bukan kamarnya.


Dibuka begitu saja, yang langsung membuat Delta membuang napas lega. Karena kamarnya masih terlihat sama dari sebelumnya.


Menutup rapat kembali pintu kamarnya. Berjalan lunglai dimana sofa ruangan itu berada dengan otak yang bekerja.


"Siapa yang melakukannya?"

__ADS_1


Delta hanya tidak ingin, jika orang yang telah membereskan rumahnya itu memiliki niat terselubung dari sikap baiknya itu.


Sedangkan sang pembersih rumah Delta kini tengah menikmati mie cup sendiri didalam minimarket yang tidak jauh dari rumah Delta.


Melihat handphonenya yang tidak ada satupun notifikasi yang masuk, itu membuat sang empu menghela napas pelan.. memilih meletakkan kembali handphonenya, dan menikmati makanannya itu.


Hingga sebuah panggilan masuk kedalam handphonenya, membuat sang empu sebentar melihat nama yang tertera di sana.. sebelum menerima panggilan itu, tanpa membuka suaranya sedikit pun. Membiarkan sang penelepon memulai obrolan.


"Dimana kau? Seharusnya kau datang menjenguknya, bukannya bersantai menikmati waktu mu sendiri."


Masih diam mendengar terus cerocos-an dari orang di seberang sana.


"Kau tahu Vallen, jika Delta tadi sempat datang ke rumah sakit. Jika aku tidak menegurnya tadi, kemungkinan Saka sudah tidak bernapas."


"Bagaimana dengan saat ini? Apa dia masih bernapas?" Sedikit mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau mengeluarkan perkataan bodoh seperti itu?" Kesal Manda.


"Jika kau tidak bicara denganku, mau tidak akan mendengar perkataan ku barusan."


"Terserah apa yang kau katakan, yang jelas datanglah kemari."


Panggilan itu terputus secara sepihak oleh Manda, yang membuat Vallen mengerutkan sama keningnya.. melihat layar handphonenya yang perlahan berubah menjadi hitam.


Memilih menikmati kembali makanannya daripada menyakiti kepalanya hanya karena memikirkan perkataan Manda.. yang kerap sekali bicara omong kosong, tanpa adanya bukti ataupun fakta yang tertera.


"Untuk apa Delta datang ke rumah sakit?" Diam sejenak dengan kepala yang mulai berpikir.


"Bukankah hanya orang-orang terdekat saja, dimana Saja dirawat. Tapi, kenapa Delta mengetahui rumah sakit itu? Darimana Delta mengetahuinya?"


"Tidak mungkin jika dia seorang penguntit? Jikapun iya, kemungkinan dugaan ku memang benar selama ini. Tapi, kenapa itu tidak terlihat mudah?"?


Berdiri dari duduknya, menyimpan handphonenya didalam. Jas khas sekolahnya, dengan men-cangklong 'kan tas punggung putihnya dipundak kanannya begitu saja.


Berjalan pergi dari tempat itu dengan satu-persatu pertanyaan mulai datang menghampiri kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2