
Menjadi pusat perhatian karena dipandang rendah itu sudah biasa bagi Delta, gadis itu akan bertahan, entah sampai kapan itu. Delta juga tidak tahu. Delta hanya__ lupakan, jika hatinya benar-benar lelah, dan Delta tidka lagi harus berbuat apa . . Delta akan mengakhiri hidupnya, tanpa mengakhiri semua masalahnya. Mungkin itu lebih baik daripada terbunuh secara perlahan, itu sangat menyakitkan.
Berdiri sebentar diambang pintu kelas, melihat semua teman sekelasnya dengan pandangan biasa.. sebelum berjalan kearah dimana bangkunya berada. Tapi saat melewati meja Renjana, tanpa menyadari jika kaki gadis itu terjulur keluar.. hingga membuat Delta jatuh di atas lantai karena tersandung kaki jenjang milik Renjana. Itu membuat gelak tawa dari beberapa murid di sana.
Taksa yang melihatnya langsung membantu Delta berdiri. "Kau tidak apa-apa?"
Hanya anggukkan pelan dari Delta sebagai jawabannya.
Beralih menatap Renjana yang tersenyum remeh. "Bisakah kau menjaga sikap mu? Apa yang kau lakukan itu sangat berbahaya? Bagaimana jika kakinya patah? Kau siap tanggung jawab?"
Membalas tatapan Taksa, "untuk apa aku tanggung jawab? Aku tidak memiliki banyak uang sepertinya."
Diam sejenak, "kenapa kau merendahkannya?"
"Aku? Merendahkannya?" Sekilas menaikan alisnya, beralih menatap Delta. "Sejak kapan aku merendahkannya? Bukankah harga dirinya sudah rendah sebelum dia masuk kesini?"
"Hei? Seru Taksa yang jauh dari luar dugaannya.
"Apa?" Tak kalah serunya Renjana menyahutinya.
"Apa yang kalian ributkan? Kembali di bangku kalian masing-masing." Suara familiar dari sosok wanita cantik dengan kacamata yang melekat di tukang hidungnya itu. Membuat semua mata tertuju pada sang wanita dengan raut wajah yang berbeda.
Lain halnya dengan Vallen, yang masih melihat Taksa dengan pandangan tidak percaya. Karena setahunnya Taksa tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi jika itu menyangkut seorang perempuan. Tapi pemandangan yang baru saja Vallen lihat, benar-benar menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya. Walaupun begitu, Vallen tidak ambil pusing, dan memilih fokus pada materi yang mulai disampaikan guru didepan kelasnya dengan damai.
Dua jam telah berlalu, pelajaran sejarah usai begitu saja, membuat semua murid membuang napas lega . . saat sang guru telah berjalan pergi, hilang dibalik pintu kelas yang kembali tertutup rapat.
Menciptakan suasana kelas menjadi sedikit bising, yang membuat Vallen kembali membuang napas lelahnya . . bukan karena gadis itu tidak suka menyukai kebisingan dari teman-teman, hanya saja, Vallen lebih menyukai ketenangan. Itu bisa membuat pikirannya menjadi sedikit terang.
__ADS_1
Menyumpal kedua telinganya dengan earphones-nya yang dipenuhi alunan musik sedikit melow, sebelum membaca pesan dari ibunya yang baru saja masuk kedalam handphonenya.
Setelah pulang sekolah kau tidak perlu pergi ke bimbel, karena ibu sudah memutuskan semua. Ibu sudah menyiapkan guru privat di rumah, agar kau tidak keluar rumah setelah pulang dari sekolah.
Hanya diam, tidak membalasnya, kembali meletakkan handphonenya di atas meja samping bukunya itu. Begitu tidak mengerti lagi dengan pikiran ibunya yang senang sekali mengatur hidupnya. Apa wanita itu tidak tahu? Jika nilai bagus belum tentu bisa sukses.
Tapi biarlah, Vallen akan terus mengikuti kemauan ibunya yang entah sampai kapan akan bertahan. Jika semuanya sudah selesai, Vallen akan pergi kembali dari rumah. Vallen hanya ingin tahu semua data milik guru musik, hanya itu.
Tunggu, bukankah Vallen bisa mendapatkan data itu dari kepala sekolah?
Beranjak dari duduknya dengan menyambar handphonenya, berjalan keluar dari kelasnya. Mengabaikan seorang guru yang kini spontan menghentikan langkahnya diambang pintu saat Vallen berjalan melewatinya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah kata saja.
Sedangkan semua murid di dalam kelas itu langsung duduk di kursi mereka masing-masing, menyiapkan diri untuk menerima materi dari guru bahasa.
Satya yang kini menegakkan punggungnya kembali dengan menguap kecil, tanpa sengaja melihat kearah bangku Vallen yang tidak mendapat gadis itu. "Kemana dia pergi?"
.
.
.
Mengurungkan niatnya sebentar dengan kedua mata yang melirik ke sana kemari, hanya untuk memastikan jika tidak ada siapapun yang men lihatnya masuk kedalam ruang kepala sekolah . . karena itu akan menimbulkan rumor baru, jika dirinya sangat dekat dengan kepala sekolah.
Vallen juga tidak ingin mereka menyangkut kan nilainya karena kedekatannya dengan pria itu. Tak lain rekan ayahnya yang mendapat tugas dari kakeknya untuk mengelola yayasan itu. Jika usianya sudah memungkinkan, kemungkinan besar yayasan itu akan diambil alih oleh Vallen . . karena gadis itu cuci satu-satunya yang pria tua punya.
Menutup kembali pintu itu dengan rapat, menarik sepasang mata yang kini mengarahkan pandangannya kearah pintu dengan berkata. "Apa kau__" tidak menuntaskan apa yang ingin dikatakan oleh sang pria.
__ADS_1
"Vallen? Apa yang kau lakukan disini?" Kembali membuka suaranya, tanpa mengalihkan pandangannya dari pada Vallen-- berjalan mendekat, berdiri didepan meja kerja sang pria.
"Kau butuh bantuan?" Terus saja bertanya, yang tidak mendapat jawaban sedikitpun.
"Bisakah anda melihatkan semua data guru musik?" Pinta Vallen penuh harap, walau tidak terlihat dari sorot matanya ataupun raut wajahnya.
"Memangnya ada apa? Apa pria itu membuatmu kesal?"
"Tidak!!" Cepat Vallen.
"Jika tidak, kenapa kau ingin sekali melihat datanya?"
"Apakah itu salah jika saya melihatnya?" Sarkas Vallen dengan menahan emosinya agar tidak meledak di tempatnya berdiri saat ini.
"Vallen_"
"Kenapa anda menutup semua mulut seluruh penghuni disini akan kematian Luci? Apa anda takut jika semua murid disini pindah sekolah? Hingga anda meng-hak-paten semua orang disini. Kenapa kita mudah sekali untuk masuk, tapi sulit sekali untuk keluar?"
"Apa kematian Runa? Luci? Saka yang masih koma di rumah sakit, itu ada hubungannya dengan anda." Sambungnya yang benar-benar ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
"Peraturan tetaplah peraturan Vallen. Peraturan itu yang buat kakek mu sendiri, jadi aku tidak ada hak untuk mengubahnya. Jika kau ingin mencoret peraturan, kau bisa memintanya langsung pada kakek mu." Sahut sang pria dengan nada kalem, karena tidak ingin memancing emosi didalam diri Vallen. Itu sangat bahaya sekali baginya.
"Kenapa kasus kematian mereka slalu berakhir menjadi kasus bundir (bunuh diri)? Apa itu slalu satu peraturan disini juga? Kenapa mereka tidak menyelidikinya lebih lanjut lagi? Apa anda juga tidak penasaran siapa yang berani melakukan hal itu pada murid anda sendiri?"
"Tidak ada bukti yang mengarahkan pada siapapun. Dan mau tidak mau penyelidikan kasus itu akan dihentikan." Jawab sang pria.
"Bagaimana jika pelaku itu salah satu guru disini?" Sekilas menaikan alisnya sebentar. Vallen menatap intens pria didepan matanya.
__ADS_1