Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
23


__ADS_3

Di Kediaman Keluarga Sagala


"Kamu yakin Kakak iparmu tidak titip pesan atau apa gitu, Jen?" Luisa terlihat khawatir. Sejak tadi dia menatap ponsel pintarnya untuk mastikan sesuatu.


Sejak kedatangannya dari Luar Kota kemarin malam, wanita paruh baya yang masih terlihat sangat modis itu tak melihat keberadaan Quenby, begitupun dengan putranya, terlebih keduanya sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Mom, Kak Quenby sama Kak Jo udah gede, mereka nggak mungkin tersesat. Paling lagi short holiday, ini kan weekend, Mom." Jeny sangat gemas melihat tingkah Ibunya yang seperti kehilangan dua balita di Pusat Perbelanjaan.


Apa yang dikatakan anak bungsunya ada benarnya. Bisa saja mereka sedang menghabiskan waktu berdua. Dan seharusnya Luisa tidak perlu bersikap overprotektif pada putra dan menantunya, karena mereka sudah bukan anak kecil lagi, benar yang dikatakan Jeny.


"Nah! Itu yang lagi diomongin udah dateng ...," tunjuk Jeny pada sepasang suami istri yang baru saja memasuki ruang keluarga.


Luisa berdiri dan berjalan menghampiri menantunya. "Ya Tuhan, Mommy pikir kamu kemana, nggak pulang dari malem." Menatap Jonas lalu berkata, "Aah ... ternyata habis short honeymoon ya?" ujarnya dengan nada jahil.


Quenby yang mendengar perkataan mertuanya jadi salah tingkah.


"Maaf ya Mom, Quenby nggak pamit sama orang rumah kalau nggak pulang,"


Niat hati hanya ingin menguntit sang suami, ternyata malah jadi sandera ranjang dari suaminya sendiri. Sesuatu yang tidak bisa Quenby prediksi.


Tiba-tiba Luisa menangkup wajah menantunya. "Loh ... ini kenapa?" Quenby salah tingkah saat Ibu mertuanya menyadari memar dan juga luka pada wajahnya.


Kemudian Luisa menatap tajam ke arah Jonas. "Kamu KDRT, Jo?!" tuduh sang Ibu.


"Ya Tuhan! Memangnya Jonas Monster,"


"Tapi ini ..."


Jonas menatap mata Ibunya dengan penuh permohonan. "Biarkan kami istirahat dan mandi dulu ya, Mommyku sayang, kasihan Quenby kecapean. Katanya mau punya cucu," Jonas mengedipkan sebelah matanya pada Luisa sebelum menarik Quenby menuju kamar mereka.


Di dalam Kamar.

__ADS_1


Jonas memeluk posesif tubuh istrinya yang sedang membuka gorden kamar. "Mau aku mandiin, nggak?" bisik lelaki itu dengan suara parau.


Quenby tersenyum geli mendengar bisikan maut dari bibir Jonas, suaminya terlihat jauh berbeda, sangat agresif sekarang. Benar-benar sosok Jonas yang Quenby kenal saat mereka masih duduk di bangku Menengah Atas.


Quenby berbalik menghadap suaminya. Jonas semakin tampan, pikir Quenby. "Yakin cuma mau mandiin aja?" godanya dengan pelukan yang tak kalah erat.


Jonas melirik kebawah dimana buah dada istrinya menyembul gemas disela-sela tubuh mereka. "Kalau kaya gini sih, kayaknya akan jadi mandi basah,"


Quenby terkikik geli mendengar ucapan suaminya. "Mandi, ya basah. Kalau kering, ya mandi kucing, cuma guling-guling manja di atas pasir," Jonas tertawa mendengar kalimat istri.


Kemudian Quenby merangkul leher kekar suaminya. Sekarang pose itu adalah salah satu gaya favoritnya. Apa yang dia bayangkan beberapa hari lalu menjadi kenyataan. Yaitu menjadikan leher kekar sang suami sebagai tempat dimana kedua lengannya bertumpu.


Tanpa ragu Jonas mengangkat kedua bokong sintal istrinya, sehingga Quenby langsung melilitkan kedua kakinya pada panggul sang suami. Lalu Quenby mencium bibir suaminya dengan sayang. Namun, Jonas malah membalas ciuman itu dengan panas, kemudian perlahan dia berjalan membawa istrinya kedalam kamar mandi untuk melanjutkan aksi basahnya.


Diruang makan Keluarga.


pukul 7 malam.


Kontan saja Luisa yang sedang menyendokkan sayur pada mangkuk suaminya, terhenti. Terlihat dramatis. Luisa memang ekspresif.


"Hah? Kok gitu?" Luisa tampak tak terima dengan pernyataan putranya.


"Ya elah Mom! Kak Jo 'kan masih Penganten baru. Mereka butuh PRI.VA.SI.!" sela Jeny. "Kaya Mommy nggak pernah muda aja, iya nggak Pi?" Jeny meminta persetujuan Ayahnya.


Hermawan mengangguk setuju dengan perkataan putrinya. "Jangan terlalu posesif, Sayang." kata Hermawan pada sang istri. "Mereka butuh ruang untuk membangun hubungan," ujar pria itu lagi.


Luisa terlihat tidak bersemangat. Baginya, keberadaan Quenby di jangkauan mata akan lebih mudah membuat menantunya cepat hamil. Seperti malam ini, Luisa sengaja meminta bagian dapur untuk memasak makanan yang dapat menyuburkan kandungan Quenby dan menyehatkan sistem reproduksi Jonas, mengingat bahwa putranya itu sudah berusia di atas 30. Luisa juga rutin memberikan minuman herbal pada sepasang pengantin baru itu selama mereka menikah.


Melihat wajah ibu mertuanya yang tampak murung, Quenby berkata, "Quenby akan sering datang kemari buat melihat Jeny, Mom. Dan kalau Mommy ada dirumah, Quenby sesekali akan menginap."


Mendengar pernyataan menantunya, Luisa sedikit tenang. Wanita itu merasa beruntung menjadikan Quenby sebagai istri Jonas, sebab Quenby adalah wanita penurut dan pengertian.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu keputusan kalian. Mommy dukung. Mungkin saja dengan kalian hidup berdua, akan lebih cepat memberikan Mommy cucu. Jadi ... kapan rencana kalian akan pindah?"


"Malam ini, Mom"


...----------------...


"Mendadak banget nggak sih, Kak?" tanya Quenby pada Jonas yang masih fokus mengemudi.


Jonas menoleh sekilas, lalu tersenyum. "Besok aku sudah mulai kerja, kalau nunggu minggu depan, akan tambah lama," jelasnya.


Bukan karena apa Quenby berkata seperti itu. Sebab saat Jonas mengatakan akan pindah malam ini juga, raut wajah Luisa terlihat tidak terima. Memang terlalu mendadak.


"Apa kita mampir dulu ke supermarket?" tanya Quenby.


"Untuk apa?"


"Ya beli perlengkapan dan juga isi lemari kulkas, memangnya besok pagi, Kak jonas nggak sarapan?" Heran sekali Quenby dengan tingkah suaminya. Pindah mendadak begini membuat Quenby ketar-ketir karena hanya baju dan perlengkapan pribadinya saja yang dia bawa.


"Semua sudah lengkap tersedia, Sayang. Jangan khawatir," sahut Jonas santai.


Tentu saja mengajak pindah sang istri sudah dia rencanakan saat mereka bermalam di Villa milik Endrew. Oleh sebab itu dia menyuruh orang yang biasa mengurus Apartemennya untuk melengkapi kebutuhan penting saja.


"Apartemen Kak Jo, masih yang dulu?" tanya Quenby.


"Kamu masih inget?"


Wajah Quenby merah merona, bagaimana dia tidak ingat, Apartemen itu adalah tempat pertama dia menyerahkan kesuciannya pada pria disampingnya.


Quenby jadi tidak sabar mengulang malam pertama itu.


'Apa aku pakai seragam sekolah ya, nanti?' pikiran Quenby sudah berkelana memikirkan kostum perangnya untuk menyenangkan sang suami.

__ADS_1


TBC


__ADS_2