Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
42


__ADS_3

"Usia kandunganmu memasuki 3 minggu," papar wanita didepannya. Dia adalah dokter Monic, Ibu dari Ryan, mantan kekasih Quenby.


Quenby tidak terlihat terkejut mendengar berita kehamilannya, akan tetapi usia janin yang berumur 3 minggu membuat wajah Qeunby terpaku.


Tepat satu hari setelah ulangtahun suaminya, Quenby melakukan tes kehamilan secara mandiri dengan menggunakan tes pack yang dia beli di Minimarket yang ada di kawasan Apartemennya.


Qeunby mulai curiga dengan siklus menstruasi yang terlambat bulan ini, dan setelah membaca beberapa artikel online, akhirnya dia mencoba melakukan saran untuk melakukan tes kehamilan. Tidak hanya satu alat jenis tes yang dia beli, Qeunby memborong setiap alat yang berbeda dari setiap merek yang ada di Minimarket itu.


Saat tau dia positif hamil, perasaan Quenby senang bukan main. Dia bahkan berencana akan memberitahu suaminya. Dan rencana itu akan dia lakukan saat sang suami pulang kerja kemarin sore. Namun sayang, kabar pahit yang dibawa Endrew tentang rencana suami dan kekasihnya yang bernama Briana sudah lebih dulu Quenby ketahui. Sehingga dia mengurungkan rencananya untuk memberitahu Jonas.


Jujur saja. Saat mendengar rencana bahwa anaknya akan diambil setelah lahir, Qeunby merasa takut. Dia tidak bisa jika anaknya diambil begitu saja. Qeunby tidak mau nasib anak yang dia kandung akan berakhir sama seperti dirinya.


Kalau memang Jonas ingin menceraikannya, Qeunby siap. Wanita itu cukup percaya diri untuk hidup berdua dengan anaknya kelak. Sebab Luisa sang Ibu mertua akan menjamin kehidupannya jika Quenby memberikan penerus bagi keluarga Sagala. Tapi sebelum itu terjadi, Quenby harus memastikan terlebih dulu bahwa sang Mertua ada dipihak siapa. Begitulah rencana Quenby.


"Akan tetapi tekanan darahmu terlalu rendah, Qeunby. Usahakan jangan terlalu banyak pikiran," Pesan Dokter Monic membuat Quenby kembali menatap wanita berkacamata tersebut.


Ternyata wanita yang pernah disakiti oleh Mama tirinya masih memperlakukan Quenby dengan lembut. Wanita itu selalu tersenyum dengan tatapan yang hangat sepanjang berbicara padanya.


"Tante ...," ucap Quenby. Dia menyentuh tangan Monic yang tersampir di meja. "Maafkan Qeunby," katanya lagi dengan wajah tertunduk.


Quenby masih ingat betul bagaimana Mama tirinya mengusir dan menghina Ryan beserta Ibunya yang datang untuk melamar Quenby secara baik-baik.


Monic membalas sentuhan tangan Quenby. Dia sudah tau arah pembicaraan wanita muda yang gagal menjadi menantunya. "Itu sudah berlalu sangat lama. Dan Tante bersyukur karena Mamamu tidak menjadi mertua Ryan, kalau hal itu terjadi, Tante tidak siap jika seumur hidup Putra Tante akan dihina terus menerus ...," kata Monic. Tidak ada nada marah dalam kalimat yang diutarakan wanita itu. Malah terkesan jenaka.


Quenby tersenyum melihat raut wajah Monic yang terkesan mengajaknya bercanda. Quenby tau betul rasa kecewa dan malu yang keluarga Ryan terima akibat hinaan itu.


Tetapi benar yang Monic bilang, Ryan beruntung karena tidak jadi bagian dari keluarga Agatha. Karena siapa juga yang mau punya Mertua seperti Mama tirinya. Terlebih status Quenby yang lahir dari Istri kedua dengan stempel anak haram yang melekat kuat. Pastilah hanya akan membuat nama baik Keluarga Ryan tercoreng karena menanggung aib yang mereka tidak ketahui.


"Iya Tante, Quenby juga berpikir demikian. Siapa yang mau punya Mertua seperti Mama," kata Quenby. Dia terlalu berterus terang, padahal ada Sara yang tidak tau apa-apa.


"Berarti hanya orang-orang terpilih. Buktinya suamimu mau menanggung resiko punya Mertua galak," kata Monik dengan tawa ringan.

__ADS_1


Mendengar itu, Quenby ikut tertawa. Hal ini malah sebaliknya, Mama tirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa pada Suaminya. Buktinya sampai detik ini, sang Mama tidak lagi mengganggunya apalagi menyuruhnya untuk kembali menemui wanita itu di Butik.


Ah, berbicara tentang Mama tirinya. Bagaimana kabar wanita itu sekarang?


"Bulan depan kembalilah untuk periksa, dan jangan lupa minum vitamin, Tante sudah membuat resepnya," Pesan Monic sambil memberikan buku kehamilan dan hasil USG Janin ke hadapan Qeunby.


Qeunby memandangi gambar janinnya, masih begitu kecil seperti kacang polong. Lalu senyum merekah terpampang di wajah Quenby yang masih pucat.


"Kamu akan menjadi Ibu yang hebat. Tante percaya," ujar Monic. Dan Quenby mengangguk tegas. Dia akan menjadi Ibu seperti versi yang dia bayangkan selama ini.


Setelah mengucapkan terimakasih dengan saling berpelukan, akhirnya Quenby dan Sara meninggalkan ruangan Monic.


Saat pintu bergagang besi itu terbuka, tampak lah sosok pria yang mengenakan kemeja biru cerah dengan kedua lengan baju yang terlipat sampai siku. Pria itu berdiri tepat disebelah pintu dengan menenteng jas putih di tangan kanannya. Dialah Ryan. Mantan kekasihnya yang gagal menikahi Quenby.


"Bisa kita bicara?"


...----------------...


Kontan saja sepasang manusia yang sedang melakukan aksi tak senonoh itu terkejut melihat siapa yang datang.


Luisa langsung berjalan ke arah kursi dimana putranya sedang duduk bersandar dengan wajah pucat dimana terdapat sosok wanita dipangkuannya. Melihat hal itu Luisa murka membabi buta. Dia langsung menarik kerah blazer wanita yang tadi duduk dipangkuan anaknya.


"Berani-beraninya kau datang dan merayu putraku!" hardik Luisa. Tarikan keras pada blazer wanita itu membuat sang pemilik terhentak ke didinding.


"Mommy salah paham, Aku--,"


"Diam!" sela Luisa sambil menunjuk Putranya yang berdiri dengan wajah pucat pasi.


"Kau!" telunjuk Luisa kini mengarah pada wanita yang tersenyum lebar padanya. "Benar-benar tak tau malu!" maki Luisa pada sosok wanita itu. Dialah Briana, mantan Kekasih Putranya yang sangat Luisa benci.


"Bukankah penyambutan ini terlalu kasar, Mom?" kata Briana.

__ADS_1


"Cih! Dasar tidak tau malu! Kau selamanya tidak pantas memanggilku seperti itu!" decih Luisa dengan napas tersengal-sengal.


"Ah, masa sih, Tante? Apa Putra Tante belum cerita tentang rencana kami?" kata Briana dengan kesombongan yang terlihat memuakkan.


"Keluarlah, Briana!" usir Jonas dengan tatapan datar. "Please!" tekannya penuh permohonan.


Briana mengehela napas kesal. Lalu dia membenarkan blazernya yang kusut. "Baiklah, bicarakan baik-baik apa rencana kita pada Mommy mu tersayang," kata Briana. Sampai bertemu lagi, Mom." Setelah mengatakan itu didepan Luisa, Briana pun keluar dengan senyum remeh tanpa rasa bersalah.


"Apa maksud wanita itu?" tanya Luisa dengan emosi yang tertahan. "Dan bagaimana bisa kamu masih menjalin hubungan dengannya, Jonas!"


Luisa benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Putranya. Seperti tidak ada kapoknya saja menjalin komunikasi dengan ular berbisa yang menjelma sebagai sosok Briana.


Pagi tadi saat dirinya sedang menemani sang suami di luar Kota untuk pertemuan kerjasama. Luisa mendapat pesan teks dari Endrew yang mengatakan Briana tengah ada di Kantor Jonas.


Awalnya Luisa tidak menghiraukan. Dia sudah muak dengan sosok Endrew yang tidak tau malu itu. Saat dia akan memblokir nomor lelaki itu, ternyata malah dia dapati sebuah pesan gambar dengan menunjukkan foto kebersamaan Briana yang berada di ruang kerja anaknya. Dan saat itu juga, Luisa meminta sang suami untuk mengijinkannya kembali ke Jakarta dengan alasan Jeny sakit.


"Jonas bisa jelaskan, Mom. Apa yang Mommy lihat tidak seperti itu. Sungguh Mom, Jo, tidak bohong," kata Jonas. Pria itu mendekati sang Ibu untuk menggiringnya duduk di sofa.


"Kalau begitu jelaskan secara detail dan terperinci. Jangan sampai Mommy mengambil tindakan sendiri," kata Luisa yang sudah bisa mengatur emosinya menjadi lebih tenang.


"Bria--Hoooeek!"


Belum selesai berbicara, Jonas langsung menutup mulutnya, karena rasa mual itu kembali menyerangnya.


Luisa yang melihat Putranya lari ke arah kamar mandi yang ada didalam ruangan itu pun ikut menyusul dengan perasaan khawatir.


Dan tiba-tiba ...


"Jonaaas!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2