Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
53


__ADS_3

"Jadi, Mama suka dengan hadiahnya?" tanya Jonas.


Lelaki itu sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Sebuah ipad yang biasanya Jonas gunakan untuk bekerja--turut serta di ranjang mereka. Suaminya masih sibuk bahkan ketika malam sudah selarut ini, pikir Qeunby.


Qeunby menghela napas pelan. "Siapa sih, Kak, yang nggak suka dikasih hadiah tas seharga belasan juta?" Quenby berkata sarkas. "Wajah Mama yang Qeunby lihat tadi adalah wajah paling ramah selama Qeunby jadi anaknya." Quenby tersenyum getir.


Seandainya dari dulu dia punya uang, mungkin Quenby akan selalu membelikan apapun yang Mama tirinya pinta, agar wanita itu tidak terlalu membencinya.


Melihat suasana hati istrinya yang berubah muram, Jonas langsung melepaskan kacamata mata bacanya, lalu menaruh bersama dengan ipad yang sedari tadi dipegangnya ke atas nakas. Dengan posesif Jonas menggeser duduknya lalu menarik tubuh sang istri untuk direngkuhnya.


"Bukannya untuk menyenangkan seseorang memang seperti itu?" Qeunby mengernyit mendengar kalimat suaminya. "Kalau tidak luluh hanya dengan diberi hati, ya beri saja harta." tandas lelaki yang tersenyum ke arah sang istri.


Qeunby berpikir sejenak. Dia setuju dengan pernyataan suaminya. "Iya, benar. Mama memang tidak pernah kasih hatinya pada Qeunby. Tapi Mama masih sanggup kasih tempat bernaung dan juga menyekolahkan Qeunby. Kalau saja Mama memilih untuk menelantarkan Quenby yang anak tirinya di panti asuhan atau jalanan. Enggak mungkin 'kan Qeunby ketemu dengan Kakak?" Quenby membalas senyum suaminya.


Jonas merasakan sesak didalam dadanya. Ucapan sang istri menggambarkan ketidakmampuan wanita itu dalam nasib yang menimpanya.


Dipukuli, dicaci dan selalu di rendahkan karena masalalu Ibunya yang katanya adalah wanita penggoda. Jonas tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya bertahan untuk menjalani hidup selama puluhan tahun dengan menerima secara pasrah semua perlakuan itu.


Kehidupan keluarga Jonas jelas berbanding terbalik. Walau kedua orangtuanya sibuk, akan tetapi dia jauh lebih beruntung karena baik Mommy dan Papinya tidak pernah main tangan atau berkata kasar secara verbal.


Jonas mengangkat tubuh istrinya untuk didudukan dipangkuannya. Dan posisi itu membuat mereka bisa saling memandang.

__ADS_1


Tangan Jonas membelai punggung Quenby yang terbalut gaun tidur berbahan sutra. "Dulu pertama kali aku lihat kamu di Orientasi Siswa, senyum kamu paling cantik diantara siswi baru lainnya," Jonas tersenyum kala mengingat masa sekolah.


Saat itu Jonas baru saja naik ke kelas tiga SMA. Sosok gadis berseragam putih biru dengan embel-embel aksesoris--syarat murid baru, yang memenuhi rambut hitam kuncir kudanya tak membuat calon adik kelasnya itu terlihat aneh.


Dari awal pertemuan, mata setajam elang itu sudah menargetkan Qeunby sebagai gadis yang akan menempati jok motor ninjanya-- yang baru saja kosong, akibat diputuskan pacarnya karena sang mantan pacar sudah lulus dari sekolah mereka. Ya. Jonas berpacaran dengan Kakak kelasnya saat itu.


Senyum ceria dengan mata berbinar dari adik kelasnya yang bernama Qeunby tak pernah Jonas dapati untuk dirinya. Sebaliknya, sang adik kelasnya itu terlihat menunduk saat Jonas sengaja menyapanya. Namun Jonas cukup puas. Karena ternyata dari kejauhan adik kelasnya itu diam-diam memperhatikan dirinya. Dan sejak saat itu, Jonas sengaja berada di tempat terbuka, agar gadis bernama Qeunby itu bisa melihatnya dengan mudah.


Ketika mengingat bagaimana sikap ceria Qeunby dulu, Jonas jadi penasaran untuk bertanya, "Apakah saat pertama kali kita bertemu di sekolah, Mama masih melakukan kekerasan padamu?" Jonas menatap manik madu istrinya yang menenangkan. Tatapan Qeunby mampu menenggelamkan Jonas dalam dunia wanita didepannya.


Quenby sedikit terkejut saat suaminya membahas masalalu. Kemudia tanpa sadar Quenby menerawang ke masa dimana dia baru saja menjadi murid SMA.


Gadis bertubuh kecil dengan senyum hangat yang tak pernah lepas dari bibir adik kelasnya saat itu ternyata menyimpan banyak kesakitan. Qeunby terlalu rapih menutupinya.


"Kenapa tidak mengadu, atau meminta perlindungan?" tanya Jonas.


Qeunby tersenyum getir. "Kalau Qeunby melakukan itu, lantas siapa yang bisa menjamin hidup Qeunby, Kak? Kalaupun ada, mereka nggak mungkin bisa menjamin hidup Qeunby bertahun-tahun 'kan? Walau Mama seperti itu, tapi Mama masih mau menyekolahkan Qeunby sampai lulus Sarjana. Ya ... walau setelah itu Qeunby harus kerja rodi sebagai imbalannya," ungkap Qeunby, diakhir kalimatnya dia tertawa garing.


Perihal kerja rodi yang dimaksud sang istri jelas Jonas tau. Qeunby tidak pernah diberi bayaran yang setimpal selama menjadi pengurus di Butik Ibu tirinya, bahkan mungkin tidak dibayar. Dan itu terjadi selama belasan tahun. Karena alasan itulah beberpa minggu lalu dia menemui Ibu Mertuanya untuk membuat perjanjian.


"Saya bisa saja menuntut perlakuan Anda dengan pasal berlapis. Tentang Anda yang melakukan kekerasan dan penyiksaan, juga pasal ketenagakerjaan. Tidak ada bukti transfer bayaran atau catatan apapun yang menyatakan Quenby di bayar pantas. Dan Karyawan Anda di Butik ini bisa menjadi saksinya!" ancam Jonas. "Dan untuk kekerasan, istri saya punya bukti foto," lanjutnya terpaksa berkata bohong.

__ADS_1


Kirana yang mendengar itu seketika murka. Menantu didepannya sangat berani mengancamnya. "Apa mau kamu sebenarnya?"


"Putuskan hubungan Anda dari Istri saya. Jangan membebankan kesulitan yang Anda dan anak-anak Anda alami pada anak tiri yang sudah anda perlakuan tidak manusiawi selama 29 tahun. Jika Anda menyetujuinya, maka saya tidak akan mangangkat kasus ini ke jalur hukum!"


Saat mengingat ancamannya berhasil dengan tidak diganggunnya lagi sang Istri, Jonas cukup puas. Hanya itu yang bisa dia lakukan sejauh ini untuk memutus hubungan toxic istrinya dengan keluarga tirinya.


"Jadi, dengan kata lain, kamu menerima saja perlakuan itu dan tidak berniat membalas?" pancing Jonas menanggapi pernyataan istrinya.


Qeunby menggelang dengan senyum ceria. "Hanya itu yang bisa Qeunby lakukan sebagai balasan terimakasih pada Mama karena sudah mau membesarkan Quenby. Lagi pula Quenby sudah mendapatkan banyak kasih sayang dan cinta dari Mommy Luisa, Papi Hermawan, Jeny, Tante Dewita, Nico, Chila, Angel, Luis dan Ibu Sara. Qeunby sudah sangat bah--"


"Kamu nggak menyebut namaku?" Jonas merajuk.


Bagaimana bisa ke-4 ponakannya masuk dalam daftar sang Istri. Bahkan Ibu Sara si tukang pegadu itu malah masuk dalam deretan nama orang-orang yang istrinya syukuri.


Jonas masih ingat bagaimana Mommynya datang dengan wajah murka menuju Apartemennya saat dirinya sedang membopong Qeunby dalam keadaan tak sadarkan diri. Ternyata itu ulah Ibu Sara yang menghubungi Mommynya karena mengkhawatirkan Quenby di apa-apakan olehnya.


Gila saja. Jonas bukanlah lelaki banci yang dengan ringan tangan memukul perempuan.


Quenby menatap dalam manik mata Jonas yang hitam pekat bak lautan terdalam. Lalu dia berkata, "Memangnya, Kakak punya rasa cinta sama Qeunby?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2