
...Adik Yang Dicuri dari Sangkar Emas...
...(Berliana Ralyn Wijaya)...
...Kisah singkat Ibu Kandung Quenby...
Heru Wijaya. Seorang Konglomerat yang menjadi incaran Perusahaan Bawera untuk mendapatkan kepercayaan kerjasama, ternyata memiliki hubungan dekat dengan istrinya.
Bagaimana bisa?
Beberapa saat sebelumnya.
"Tuan Heru?" Jonas tercengang saat mendapati sang Konglomerat itu berada di lokasi yang sama dengan dirinya.
Jangan bilang jika seorang Heru Wijaya juga sedang mengincar Townhose yang menjadi salah satu proyek yang sedang di kerjakan Bawera.
Alih-alih menjawab sapaan Jonas, nyatanya Heru Wijaya dan seorang wanita yang dipastikan adalah istri dari pria sepuh itu berjalan menghampiri sang istri.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini, Sayang," kata Artanti, istri Heru Wijaya.
Qeunby hanya tersenyum canggung pada sikap lembut yang lagi-lagi Artanti tunjukkan padanya. Beberapa hari lalu setelah dirinya dianggap mirip seseorang yang bernama Ralyn, akhirnya Quenby mengenalkan dirinya pada sepasang suami istri sepuh itu yang masih terlihat segar.
"Anda mengenal istri saya, Nyonya Artanti?" tanya Jonas.
Heru yang sedari tadi memperhatikan Qeunby dengan tatapan sendu langsung menoleh tajam kearah Jonas. "Mari kita bicara ditempat yang lebih nyaman."
...----------------...
Dan disinilah mereka. Di Kediaman Heru Wijaya.
Ini adalah pertama kalinya Jonas memasuki Kediaman Heru Wijaya selama mengenal profil pria itu sebagai Konglomerat.
Kesan anggun, elegan, mewah dan klasik adalah hal pertama yang Jonas lihat dari Kediaman Heru Wijaya. Desain keseluruhan dari bangunan itu mirip Kastil-Kastil di era Victoria pada abad ke-19. Ternyata hunian seperti ini masih ada disudut padatnya Kota Jakarta. Heru memang memiliki selera kelas atas. Wajar saja, mengingat lelaki keturunan Wijaya itu masih menjunjung tinggi paham-paham budaya Bangsawan.
Lihat saja sikap tunduk dan patuh para pelayan yang mengenakan seragam khusus. Tidak ada diantara mereka yang berani mangangkat pandangan apalagi membuka suara jika tidak diperintah. Menandakan bahwa di Kediaman megah itu masih kental akan perbedaan status.
Berbeda di Kediaman Keluarga Sagala. Sang ayah--Hermawan Sagala, tidak begitu kaku memperlakukan para asiten yang bekerja padanya. Hermawan termasuk majikan yang tidak terlalu peduli pada aturan-aturan baku. Bagi sang Ayah, semua manusia sama. Yang membedakan hanyalah nilai kejujuran.
__ADS_1
"Lihatlah, foto-foto ini, Sayang,"
Suara Artanti mengalihkan perhatian Jonas pada album foto yang diangsurkan wanita itu kepangkuan istrinya.
"Ini ...," suara Quenby tertahan seiring matanya yang membeliak. Kemudian Quenby meraih tasnya untuk mengambil dompetnya. Dari sana dia menarik selembar foto yang sudah digunting mengikuti gambar yang ada. Lalu dia menyamakannya. "Mirip dengan Ibu saya," akunya.
"Boleh Aku melihatnya, Nak?" Quenby langsung memberikan secarik foto yang ditunjuk Heru. "Ini, Ralyn, saat anak itu baru kuliah di Paris. Apa tidak ada foto lain yang kamu miliki?" tanya Heru. Dan Qeunby menggeleng.
Heru dan Artanti saling pandang. "Kurang ajar si Aksa itu! Bahkan tidak memberimu foto terbaru Ralyn." Maki Heru yang terlihat murka.
Quenby paham siapa yang dimaki pria didepannya. Aksa, atau nama lengkapnya Hadiaksa Agatha. Dia adalah Ayah kandung Quenby. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Quenby sekarang. Akan tetapi dua sosok orang tua didepannya inilah yang membuat Quenby bertanya-tanya. Ada hubungan apa mereka dengan almarhum kedua orangtuanya.
"Apa Anda mengenal Papa saya?" tanya Qeunby pada Heru.
Heru mengangguk. "Dia adalah lelaki yang telah mempengaruhi adikku. Ralyn." Kemudian Heru menerawang ke puluhan tahun silam.
Saat itu adik kandung satu-satunya dari Heru wijaya baru saja akan menempuh pendidikan di ESMOD Internasional, sebuah Universitas dengan jurusan Fashion desain terbaik di Perancis.
Belum dua bulan sang adik tinggal di Negara yang melahirkan para Perancang Ternama Dunia tersebut, nyatanya wanita bernama Ralyn itu ingin membatalkan kuliah di jurusan yang memang sudah lama diimpikannya. Sang adik berkata ingin membuka bisnis sendiri.
Heru yang memang sangat menyayangi adiknya yang terpaut 15 tahun itu pun tidak dapat menolak. Ralyn sudah seperti anaknya sendiri. Sejak kepergian kedua orangtua mereka, Heru lah yang bertanggung jawab atas semua wewenang di Keluarga Wijaya. Maka dengan alasan itu, dengan mudahnya Heru menggelontorkan nominal fantastis demi membantu bisnis yang adiknya rencanakan.
Tidak sampai disana saja kemurkaan itu berlangsung. Nyatanya lelaki yang biasa dipanggil Aksa telah memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan yang berusia 5 tahun saat itu.
Heru yang merasa kecewa dengan tindakan bodoh adiknya pun memilih membuang Ralyn dari daftar keluarga Wijaya. Lelaki itu tidak mau nama besar Wijaya tercemar karena perbuatan Zina yang telah mencoreng muka Keluarga. Dan setelah kejadian itu, Heru pun meninggalkan Indonesia untuk fokus mengembangkan perusahaannya di Luar Negri.
"Kenapa Anda baru mencari keberadaan Ibu saya sekarang?" tanya Quenby setelah menyimak Kisah singkat sang Ibu dari lelaki tua didepannya.
Heru menunduk kalut. "Ralyn mendatangiku dalam mimpi. Dia selalu menangis dan memohon untuk diberi belas kasih berupa kata maaf." Mata Heru terlihat berkaca-kaca.
"Bagaimana Anda bisa yakin bahwa saya adalah anak dari adik Anda?" tanya Qeunby lagi. Dia mengingat pertemuan pertama dirinya dengan wanita tua yang selalu terlihat anggun. Artanti. Wanita itulah yang salah mengenali dirinya sebagai Ralyn.
"Pertemuan itu bukan rencana kami. Aku yakin itu adalah kehendak Tuhan, Sayang." ujar Artanti. "Aku mengenal Ralyn seperti halnya Pamanmu, Mas Heru. Dia bahkan lebih cocok kami panggil anak daripada seorang adik. Dan saat pertemuan kita di Butik waktu lalu, aku yakin bahwa kamu memiliki hubungan dengan Ralyn kami yang sudah diambil paksa oleh lelaki tak bermoral itu! " tukas Artanti menahan emosi.
"Tapi adik yang Anda cari sudah meninggal. Bahkan saya belum sempat merasakan belaiannya yang nyata. Saya bahkan tidak pernah ingat wajah apalagi suaranya. Hanya foto itu yang membuat saya merasa bahwa Ibu saya selalu ada bersama saya," ungkap Quenby.
Artanti tak kuasa menahan air matanya. Heru hanya menundukkan kepala. Qeunby yakin ada genangan air mata dipelupuk mata tua pria itu.
__ADS_1
"Kami sudah tau." kata Heru. "Setelah kita bertemu di Butik itu, Aku sengaja mengikutimu. Dan keesokan harinya aku menemui Istri Aksa. Wanita yang sudah membesarkanmu dengan tangan besinya."
Qeunby terbelalak tak percaya. Dia ingat betul, setelah dari Butik, Qeunby ditemani Ibu Sara langsung menemui Mama tirinya, untuk memberikan tas seharga belasan juta dari uang yang suaminya berikan sebagai buah tangan.
"Apakah Mama yang menceritakan langsung?" tanya Quenby.
Heru mendengkus. "Jangan memanggil perempuan kejam itu dengan sebutan Mama. Dia lebih pantas disebut Monster. Wanita tak tau malu itu bahkan tanpa berdosa berfoya-foya dengan uang milik Ralyn. Hasil suami wanita itu menipu adikku!" Qeunby terkejut dengan kenyataan yang dikatakan Heru.
"Maksud, Anda?"
Heru menatap Quenby. "Aku menyelidiki latar bekakangnya. Semua harta yang dimiliki mereka berasal dari modal yang aku berikan untuk ibumu. Dan yang membuatku semakin geram, Ternyata kamu telah diperlakukan buruk oleh keluarga sampah itu! Aku menyesal! Sungguh, Aku menyesal ...," Heru mulai terisak. ".... Seharusnya Aku tidak meninggalkan Ralyn disaat dia mengalami banyak tekanan. Apa yang aku lakukan sekarang memang sudah tidak bisa mengembalikan adikku beserta nama baiknya. Tapi aku pastikan, mereka yang telah membuatmu dan adikku menderita, akan mendapatkan balasannya! Aku akan mengembalikan mereka pada tempat yang seharusnya!" tukas Heru dengan mata menyalak. Tidak ada keraguan dalam setiap perkataan yang terlontar dari suara tua yang masih terdengar otoriter itu.
Setelah hari dimana Heru dan Artanti membuntuti Quenby, mereka mendatangi rumah Kirana, Mama tiri Quenby. Dengan didampingi beberapa pengacara, Heru mengancam akan mengambil semua hak yang seharusnya dimiliki anak Ralyn, yaitu Quenby.
Heru juga mengecam tindakan Kirana yang sengaja menggusur makam Ralyn. Sehingga jejak Ralyn benar-benar hilang ditelan bumi.
"Tapi Mama adalah orang yang sudah membesarkan Quenby,"
Heru menatap tajam kedua mata Qeunby yang persis seperti milik sang adik. "Sudah kubilang jangan menyebut Monster itu dengan sebutan Mama! Dia tidak pantas menyandang status Mulia seorang Ibu. Aku masih bisa mentolelir saat mereka mencuri semua harta milik Ibumu. Tapi perbuatan mereka yang menyiksamu dan meratakan kuburan Ibumu sungguh tidak bisa Aku maafkan!"
Quenby terbelalak. "Apa?"
"Pernahkah kamu mengunjungi makam Ibumu?" Qeunby menggeleng lemah. "Sudah Aku tebak. Bahkan hanya untuk sebuah nama dari Ibumu saja mereka tidak memberitahukanmu!" tukas Heru.
Quenby seketika teringat. Ya, dia selama ini memang tidak pernah tau dimana makam Ibunya berada. Saat Qeunby bertanya pada Kirana, wanita itu selalu menjawab bahwa makam Ibunya berada jauh di pulau lain. Dan Quenby percaya saja saat itu.
Dan tentang nama Ibu kandungnya, sesungguhnya Quenby tidak diberitahu siapapun secara jelas. Bahkan sang Ayah pun hanya pernah menyebutkan satu kali saat memberikan selembar foto yang sampai sekarang masih Qeunby simpan. Dan dengan alasan inilah, mengapa setiap Quenby berbicara, dia selalu menyebutkan namanya sendiri. Hal itu karena dia takut tidak akan ada orang yang mengingat dirinya sebagai Qeunby. Seperti nasib sang Ibu yang samar-samar Quenby ketahui namanya.
Seketika Qeunby menangis tergugu. Nasibnya dan nasib sang Ibu kandung sungguh miris. Dia tidak menyangka bahwa hari ini kebenaran akan terungkap. Walau kenyataan yang dia dengar baru dari pihak Pamannya, akan tetapi Qeunby merasa tenang, karena nyatanya sang Ibu bukanlah wanita pela cur yang selama ini di gong-gongkan keluarga tirinya.
Jonas yang sedari tadi hanya menyimak dibuat diam dengan kenyataan mengejutkan. Dan saat melihat istrinya menangis terisak-isak, sungguh dia tak tega. Maka dengan penuh kelembutan, Jonas membawa Quenby dalam pelukannya untuk memberikan kenyamanan.
"Dan kamu!" Heru menunjuk Jonas dengan matanya. "Aku akan memberikan dana berkali-kali lipat dari nilai proposal yang Bawera ajukan padaku--"
Jonas membeliak tak percaya. Nominal pengajuan dari proposal Perusahaanya pada Wijaya Group saja sudah mencapai ratusan triliun rupiah. Jika pria Konglomerat itu bilang akan memberikan berkali-kali lipat dari dana awal, maka dapat dipastikan proyek Bawera bisa mengcover semua kegiatan pembangunan yang sedang dilakukan di beberpa Negara saat ini. Maka dengan hal itu, kedua orangtua Jonas bisa pensiun lebih awal.
"Tapi dengan satu syarat ... kembalikan Qeunby pada kami."
__ADS_1
TBC