Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
28


__ADS_3

Quenby menatap nyalang ke arah pria yang baru saja mengatainya 'anak haram' dengan wajah remeh. Dibawah meja, tangan Quenby meremat dress sifon yang dikenakannya sekuat tenaga.


Kemudian netra bulat berbulu lentik itu terarah pada secangkir kopi yang tinggal tersisa setengah yang ada didepan lelaki kurang ajar itu. Quenby berdiri cepat dan dengan gerakan kilat dia meraih cangkir kopi itu lalu menyiramkannya tepat kewajah Endrew.


"Brengsek!" Makian yang terdengar lantang itu menguar dari bibir Endrew yang terkena basah oleh cairan kopi yang sudah dingin.


Semua mata pengunjung maupun pekerja tertuju pada kejadian itu dengan mulut menganga.


"Video-in cepet! Pasti viral deh, mayan bisa nambah followers."


"Gila! Pasti ketauan selingkuh tuh!"


"Duh sayang banget, muka gantengnya jadi kaya Dakocan, hihihi"


"Cewenya sadis banget, untung kamu nggak gitu Babe ..."


Suara-suara sayup terdengar dari mulut orang-orang yang ada didalam Coffee Shop itu. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mulai mengambil dan merekam gambar dari kekacauan itu bak seorang Kameramen saja.


Quenby sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian. Amarahnya tak bisa dibendung lagi, mulut pedas lelaki lemes ini harus diberi pelajaran. Jika tidak, lelaki bernama Endrew itu akan semakin menginjaknya.


"Anda sudah melewati batas!" desis Quenby yang masih memberikan pelototan tajam pada pria itu.


Endrew yang sudah berdiri dan mengelap wajahnya dengan tisu itu tak mengalihkan pandangannya menatap bengis Qeunby yang juga berdiri menantangnya.


"Apa jangan-jangan Anda menyukai suami saya? hm?"


Kalimat Quenby yang cukup lantang itu terdengar jelas, sehingga pengunjung disana mulai kembali berkasak-kusuk.


"Ih! GGG!"

__ADS_1


"Apaan tuh?"


"Ganteng-ganteng Gay"


"Oh! Jeruk makan jeruk?"


"Yaaah! Stok cowo cakep makin tipis dong,"


Quenby masih menatap nyalang pada sosok Endrew yang juga terlihat seperti ingin memakannya. "Saya nggak tau alasan apa yang membuat Anda sangat membenci Saya!" desis Quenby dengan amarah yang belum reda.


"Aku akan pastikan Jonas mengetahui perbuatan bar-bar kamu ini!" ancam Endrew. Jika saja bukan di tempat umum, sudah dipastikan Endrew akan menarik kasar rambut panjang hitam wanita didepannya.


"Adukan saja! Saya tidak takut. Malah bagus ... karena saya bisa dengan cepat mengetahui apa yang Anda rencanakan pada suami saya!" tantang Quenby.


Endrew seperti tidak mau kalah, lelaki itu berjalan mendekati Quenby. "Bukan aku yang merencanakan. Tapi Jonas. Aku hanya mendukung niat lelaki itu," desis Endrew dengan senyum sinis yang terpatri di wajahnya yang kacau.


Quenby menatap tak percaya dengan ucapan lelaki itu. Dia hanya bergeming tanpa berniat membalas ucapan yang keluar dari pria pesolek didepannya.


"Kalau kamu tidak percaya. Periksa saja setiap ruangan yang ada di Apartemennya. Aku pastikan bahwa kamu hanyalah alat untuk mencapai tujuan Jonas."


"Aku tidak akan membalas perbuatanmu ini! Aku hanya memperingatkan. Jangan terlalu percaya dengan sikap manis Jonas. Kecuali kalau kamu memang siap untuk dibuang!" Setelah mengucapkan kalimat provokasi itu, Endrew pun berlalu dari hadapan Quenby dan berjalan keluar dari tempat itu dimana setiap mata tak lepas memperhatikan langkahnya.


...----------------...


Quenby terlihat sedang duduk di balkon kamar Apartemen milik Jonas di lantai 23. Apartemen yang berlokasi di pusat kota ini langsung mengarah pada gedung-gedung bertingkat lainnya. Cukup gemerlap jika diperhatikan pada malam hari seperti sekarang.


Jonas berkata akan pulang malam, karena ada rapat pembahasan tentang proyek di Kalimantan yang berjalan sangat alot. Terakhir karena mendapat kendala tentang perijinan yang bermuara pada sengketa lahan dengan warga asli setempat.


Quenby mengembuskan napas berat. Merenungi jalan hidupnya yang tak pernah dia duga akan se-dramatis ini. Tentu saja kondisinya yang sekarang setelah menikah dengan mantan kakak kelasnya jauh lebih baik ketimbang saat dia hidup satu atap dengan keluarga tirinya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Anak Haram.


Wanita yang memakai gaun tidur berbahan satin itu kembali menelaah sebutan 'anak haram' yang tadi diucapkan Endrew padanya.


Jika memang benar orangtuanya yang melakukan kesalahan. Lantas mengapa dia yang menanggung predikat buruk itu. Apakah ini cara Tuhan mengingatkan hal-hal yang dilarangNYA, dengan cara menampakkan akibat yang ditanggung sang anak. Entahlah, Qeunby sudah lelah.


Bertemu dengan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya saja Quenby tak pernah. Dia hanya tau wajah wanita itu dalam kumpulan foto album yang dulu Papa nya berikan saat dia masih di bangku SD.


Begitu banyak pertanyaan yang ingin Quenby ajukan tentang predikat anak haram itu. Tapi tak ada satupun orang yang dapat Quenby tanyakan tentang masalalu Ibunya. Quenby menyerah.


Kirana. Kendati wanita itu kerap menyiksanya dan merebut hak warisnya, namun Quenby tak pernah bisa membenci wanita itu. Sebab hanya Kirana lah yang mau merawatnya dan tetap menyekolahkannya. Dan sebab itulah, semua perlakuan kasar serta perkataan menyakitkan yang dilontarkan Ibu tirinya tak pernah Quenby masukkan dalam hati.


Tapi ...


Ketika orang lain dan terlebih itu adalah Endrew, yang mana lelaki itu hanyalah orang asing yang kebetulan menjadi sahabat suaminya, Quenby merasa sakit hati. Tidak berhak Endrew berkata seperti itu padanya, terlebih lelaki itu tak ada kontribusi apapun dengan kehidupan Quenby. Sungguh, menyiram satu cangkir kopi dingin kewajah pria itu adalah balasan yang ringan.


"Kalau kamu tidak percaya. Periksa saja setiap ruangan yang ada di Apartemennya. Aku pastikan bahwa kamu hanyalah alat untuk mencapai tujuan Jonas."


Tiba-tiba saja rentetan kalimat yang keluar dari mulut Endrew terngiang ditelinga Quenby. Wanita itu tidak mengerti apa yang lelaki pesolek itu maksud. Apakah Quenby harus memeriksa ruangan yang Endrew katakan.


Memang sih, dia sudah sepekan tinggal di tempat ini. Tidak pernah sekalipun Quenby jelalatan memeriksa setiap sudutnya. Kecuali adalah kamar yang mereka tempati, karena Quenby yang membersihkannya sendiri. Dan untuk ruangan lain, tentu saja bagian kebersihan yang rutin melakukan.


Quenby berdiri dari duduknya. Dia mencoba berpikir untuk melakukan apa yang Endrew katakan atau tidak. Tapi rasa penasaran itu membuat langkah Quenby menjelajahi tiap sudut ruangan yang ada.


Dilantai dua pada Apartemen itu hanya ada dua ruangan. Yang pertama adalah kamar yang dia tiduri bersama Jonas. Dan ruangan lainnya adalah ruang kerja pria itu.


Langkah Quenby turun ke lantai dasar, dimana ada beberpa sekat yang menjadi pembatas tiap ruangannya. Ada satu ruangan yang selama ini tertutup rapat, selama ini dia tidak menyadari fungsi kamar itu, Quenby pikir, itu gudang. Tapi untuk ukuran gudang terlalu strategis jika ditempatkan didekat ruang tengah yang penuh jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang gemerlap.


Quenby sudah berdiri didepan pintu dengan gaya minimalis berwarna gelap itu. Jelas dia tidak bisa membukanya, Quenby harus mencari kuncinya. Tidak mungkin dia menanyakan perihal kunci ruangan ini pada Jonas. Sangat tidak sopan sekali menurut Quenby.

__ADS_1


"Kamu sedang apa disana?"


TBC


__ADS_2