Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
51


__ADS_3

"Hai, My Wife?"


Melihat sosok wanita yang sudah tiga hari ini tak dilihatnya, tentu saja membuat Jonas tersenyum senang. Akan tetapi respon wanita didepannya terlihat berbanding terbalik dengannya, Qeunby terlihat datar. Bahkan senyum yang biasa terpatri di wajah kecil wanita itu tak terlihat. Justru wajah menahan muak lah yang malah terpampang jelas di wajah istrinya.


"Hooek!"


Kedua mata Jonas membeliak saat melihat istrinya menutup hidung dan mulut menahan mual. Segera Jonas berjalan mendekati istrinya itu.


"Kamu sakit?" tanya Jonas.


"Bau kamu nggak enak, Kak!"


Jonas mematung mendengar perkataan istrinya. Baru kali ini ada wanita yang mengatainya seperti itu. Terlebih dari sang istri yang biasanya mendusel padanya saat tidur "Ya udah, nanti aku mandi lagi."


Tanpa menghiraukan keluhan sang istri, Jonas langsung membopong tubuh Quenby dan berjalan menuju kamar. Jika dilihat dari gerakan impulsif pria itu, sepertinya Jonas sudah terbiasa dengan tata letak di rumah itu.


"Ibu Sara, tolong buatkan minuman hangat!" perintah Jonas pada wanita yang tadi berdiri tidak jauh dari istrinya.


Setelah membaringakn istrinya di atas ranjang, Jonas pun menelisik wajah Qeunby. "Kamu pucat, Qeun. Apa kita periksa ke Rumah Sakit--"


"Nggak usah! Quenby cuma butuh tidur," tolak istrinya.


Tak lama Sara masuk membawa nampan dengan dua cangkir teh hangat diatasnya. Kemudian Sara mengambil satu cangkir lagi untuk sang Nyonya. Namun sebelum itu, Jonas mengambil alih cangkir dari tangan Sara dan mendekatkannya pada sang Istri.


"Ayo, minum dulu," kata Jonas. Dia membantu istrinya untuk duduk.


Setelah memastikan istrinya minum beberapa teguk, Jonas mengembalikan cangkir yang isinya tinggal setengah pada Sara. Dengan perintah melalui mata, Jonas meminta Sara untuk meninggalkan dirinya berdua saja dengan sang istri di dalam kamar itu.


Blam!


Pintu kamar ditutup perlahan oleh Sara. Namun Quenby masih bergeming dalam keterdiamannya. Jonas yang tidak tahan langsung membuka suara,


"Apa bertemu denganku membuatmu mual, sekarang?" Pertanyaan sindiran itu tak membuat istrinya buka mulut.

__ADS_1


Qeunby masih terdiam dengan menatap ke sembarang arah. Kemanapun, asal bukan wajah suaminya.


"Maaf ...." Quenby baru menatap wajah suaminya. " ... Aku sangat menyesal karena terlalu lama menyelesaikan kesalahpahaman diantara kita"


Tanpa sadar Quenby mengangguk. Dia setuju dengan pernyataan terakhir yang suaminya katakan.


"Ya ... setidaknya sekarang Kakak datang disaat Quenby terjaga, bukannya datang diam-diam dan menyelinap masuk seperti maling," sindiran itu membuat Jonas mengusap tengkuknya sendiri.


Dia juga baru mengetahui bahwa sang istri telah memergoki aksinya saat wanita itu tinggal dirumah sang Tante. Ibunya yang menceritakan itu. Bahkan Luisa berkata bahwa Quenby merasa tidak nyaman dengan sikap Jonas yang menyelinap tidur tanpa membicarakan lebih dulu permasalahan diantara mereka.


"Aku hanya takut kamu tidak menerima kedatanganku--"


"Kakak pikir sekarang Quenby menerima kehadiran, Kakak?" sela Qeunby. Jonas kembali ciyut.


Seketika suasana kamar menjadi hening. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Qeunby masih terlihat menunggu suaminya menjelaskan kedatangan pria itu. Sedangkan Jonas masih kesulitan merangkai kata.


Entah kenapa kalimat yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari jadi luntur seketika saat melihat sikap istrinya yang seolah tak peduli.


"Percuma! Kakak mau buang atau bakar sekalipun, kalau dihati Kakak masih mengharapkan dia. Enggak ada gunanya, Kak." Jonas mengangkat pandangannya ke arah sang istri. "Lagipula siapa yang sudi balik ke tempat yang memang disiapkan untuk orang lain!" Jonas tersentak mendengar kalimat itu dari bibir istrinya.


Ingat Jonas. Kedatanganmu adalah untuk menyelesaikan masalah. Bukan memperkeruhnya.


Jonas tidak punya penjelasan untuk menyangkalnya. Karena perbuatannya yang masih menyimpan kenangan bersama mantan kekasihnya tidak bisa dibenarkan. Apapun alasannya.


"Aku nggak bisa menyangkal. Aku memang salah. Dan aku terlalu bodoh. Tapi sungguh, aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya!" tekan Jonas.


"Kalau memang seperti itu, kenapa Kakak dan dia merencanakan untuk mengambil anak Qeunby?!" Jonas melihat istrinya yang mulai tersulut emosi.


"Itu hanya rencana gilanya! Aku tidak pernah mengiyakan apapun--"


Quenby menatap Jonas dengan derai air mata. "Tapi kenapa Kakak seolah menyetujuinya! Bahkan Kakak seperti sependapat dengan wanita itu untuk memberikan kompensasi pada Quenby! Kenapa?!"


"Aku tidak bisa langsung menjawabnya dan terpaksa mengikuti permainan wanita itu. Karena nasib Perusahaanku ada ditangan Dia!" ungkap Jonas.

__ADS_1


Qeunby tersenyum pedih. Ternyata nilainya sebagai seorang istri tidak lebih berharga dari sebuah lembar-lembar perjanjian Bisnis.


"Qeunby tau Kakak tidak pernah menaruh hati pada Qeunby. Bahkan pernikahan ini terjadi karena kita memiliki tujuan untuk keuntungan masing-masing. Tapi apa Kakak nggak punya hati sampai mau merebut anak Quenby dan memberikannya pada wanita itu untuk Kalian urus?!"


Baiklah Jonas. Kamu adalah pria yang buruk. Tamatlah riwayatmu.


Jonas berpindah duduk kesamping istrinya. Dia memegang bahu sang istri dengan kedua tangannya. Lalu matanya memaku netra madu istrinya. Dia berharap perkataanya kali ini tidak disalah artikan.


"Aku akui bahwa Aku salah dan terlalu pengecut saat itu. Aku hanya masih mencerna semua saat dia bilang kecelakaan itu membuat dia tidak bisa hamil lagi. Dan dia menyalahkanku atas semua yang terjadi. Pikiranku kosong. Terlalu banyak fakta yang baru aku tahu. Sehingga aku tidak tau harus merespon apa saat dia mengatakan ide gilanya!"


...----------------...


Udara dingin terasa menusuk kulit lembut Qeunby. Sinar terang pun telah masuk ke dalam celah gorden dikamarnya.


Mengerjapkan kedua mata yang Quenby lihat pertama kali adalah sosok suaminya yang tertidur pulas sambil mendekapnya.


Teringat perbincangannya dengan sang suami semalam, membuat Qeunby sulit tidur. Tadi malam Jonas menceritakan semuanya tentang kisah Briana dan Endrew. Tanpa ada yang ditutupi lagi.


Dari cerita yang suaminya katakan semalam, yang dapat Qeunby tangkap adalah nasib Quenby masih bisa dibilang beruntung dibanding Briana. Dan hal itu juga lah yang membuat Quenby bisa menerima mengapa suaminya baru bisa menjelaskan sekarang.


Membuka aib seseorang bukanlah hal bijak untuk dilakukan. Apapun alasannya; termasuk untuk meluruskan kesalahpahaman diantara mereka. Terlebih Jonas juga terlibat didalamnya. Namun alih-alih mengungkapkan kebenaran, nyatanya semalam sang suami lebih terdengar seperti tengah melakukan pengakuan dosa.


Entah hati Qeunby yang terlalu rapuh, atau karena dia memang sudah menaruh hati pada suaminya. Sehingga apapun kesalahan yang dilakukan lelaki itu mudah sirna seperti debu yang tertiup angin.


"Udah nggak mual lagi?" suara serak Jonas menarik Qeunby dari pikirannya. Lelaki itu menatap istrinya yang berbaring seperti anak kucing dipelukannya.


"Hm?" Qeunby mendongak menatap suaminya yang terlihat setengah sadar. Dia tidak mengerti dengan apa yang suaminya tanyakan.


Jonas menutup mulutnya karena menguap. Lelaki itu jelas masih mengantuk, lalu dengan posesif dia memeluk tubuh istrinya lebih erat dari sebelumnya.


"Semalam kamu bilang aku bau, sampe mual-mual gitu. Sekarang udah nggak, nih?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2