Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
24


__ADS_3

Memasuki Apartemen milik suaminya, mulut Quenby menganga lebar. Hampir semua desain interior itu di ubah dari yang terkahir dia ingat saat pertama kali kedatangannya kesini belasan tahun yang lalu.


Dominasi warna coklat pekat dengan lantai berbahan kayu halus menyambut hangat mata Quenby. Selera Jonas memang berkelas, cocok lah dengan profesi lelaki itu yang memang masih berkaitan dengan urusan properti.


"Kakak, renovasi total?" tanya Quenby yang masih terperangah melihat sekeliling.


Jonas yang sedang menarik koper istrinya pun menoleh ke belakang dimana sang istri terlihat menelisik setiap sudut pada Apartemen miliknya.


"Nggak semua," Jawaban Jonas membuat Quenby menoleh lalu wanita itu berdecak lirih.


"Kayanya semuanya di renov deh." Quenby merasa memang tidak ada yang tersisa dari bayangan Apartemen milik Jonas saat lelaki itu masih SMA dulu.


"Kamu mau langsung istirahat?" tanya Jonas yang mengabaikan perkataan istrinya.


Qeunby melihat jam tangannya. "Udah jam 11, Kak. Kita istirahat aja, besok Kakak kerja 'kan?" Padahal Quenby ingin melakukan kegiatan lain. Akan tetapi kegiatan mengemas barang-barangnya saat akan pindah kesini, membuat Quenby lelah.


Jonas pun mengangguk dan kembali melanjutkan menarik koper istrinya ke kamar yang ada dilantai 2.


Quenby mengikuti langkah suaminya yang kini sedang menenteng koper miliknya. Mata Quenby tak henti-hentinya jelalatan dengan berkali-kali terperangah saat matanya menelusuri setiap detail desain bangunan itu.


Ceklek!


Sampai tanpa sadar Jonas sudah membuka kamar yang menjadi tujuan suaminya.


"Mau mandi dulu apa langsung tidur?" tanya Jonas yang menaruh koper Quenby di dekat sofa.


Quenby yang masih melihat seisi kamar itu teralihkan oleh pertanyaan suaminya. "langsung tidur aja, Kak."


Setelah mendengar jawaban istrinya, Jonas pun menuju pintu lain yang masih berada didalam kamar itu. "Kalo gitu aku mandi dulu," ujar Jonas yang langsung menggeser pintu tanpa kembali menutupnya.


Wanita itu masih melihat setiap sudut kamar itu dengan sesama. Seingat Quenby disinilah tempat mereka pertama kali melakukannya. Tapi jelas kamar itu terlihat berbeda dari yang dulu, semua desain kamar ini jelas diubah total dan mengikuti tema woody seperti di lantai bawah, dan tentu saja semakin luas. Sampai-sampai tidak terlihat jejak masa lalu.


Melihat suaminya belum keluar dari tempat yang tadi pria itu masuki, Quenby melangkah ke arah pintu yang terbuka lebar. Tidak mungkin itu kamar mandi, pikirnya.

__ADS_1


"Masa mandi nggak di tutup sih pintunya, apa sengaja biar aku lihat?" gumam Quenby masih dengan asumsi mesumnya.


Perlahan dia memasuki ruangan yang tadi Jonas masuki, disana dia melihat banyak pakaian yang tergantung di sisi kanan dan kiri, serta tegelar karpet bulu bermotif binatang dan juga sofa dengan warna hitam.


Melihat jajaran pakaian yang tergantung, Quenby mencari sesuatu. "Ah, ini kali ya?" gumamnya saat menemukan jajaran baju yang terlipat rapi.


Sreeek!


Tak lama Quenby mendengar suara pintu yang tergeser. Ternyata Jonas keluar dari arah sana dengan balutan handuk yang melilit di tulang panggul pria itu.


Melihat tubuh atas suaminya yang polos serta abs pada pria itu yang terlihat liat. Qeunby menelan saliva. Seksi sekali pikir Qienby.


"Kamu keramas?" tanya Quenby yang melihat rambut hitam suaminya basah dan sedikit meneteskan setitik air.


"Aku nggak bisa tidur dengan kondisi lengket dan gerah," beritahu Jonas. Quenby baru tahu fakta itu. "Ini kamu yang siapin?" tanya Jonas saat melihat kaos berwarna putih dan celana panjang hitam dengan motif kotak berbahan katun.


"Sini, Kak, Quenby bantu keringkan," ucap Quenby yang sudah memegang pengering rambut.


Jonas pun mendekat ke arah istrinya dan duduk di sofa bulat tanpa punggung dan menghadap standing mirror.


Quenby tersenyum. "Ini juga salah satu fungsi istri, Kak," sahut Quenby yang masih fokus mengeringkan rambut suaminya dengan alat itu.


"Aku kira kamu tipe yang cuek,"


"Mana ada orang cuek nguntit suaminya sampe ke puncak," Quenby menjawab dengan tawa renyah. Jonas tergelak saat mengingat hal itu.


Gerakan Quenby yang sedang menyisiri rambut Jonas terhenti. Dan matanya mengarah pada punggung suaminya.


"Kenapa?" Jonas bertanya saat melihat sikap diam sang istri.


"Aku baru tau kamu punya tato," ujar Quenby saat melihat sebuah gambar yang sepertinya seorang wanita bersayap yang memeluk seorang pria. Gambar itu besarnya hanya sekepal tangan saja dan terletak di tengah bagian punggung tepat dibawa tulang leher.


Jonas berbalik menghadap istrinya, lalu memeluk erat perut ramping wanita itu sambil mendongak. "Bisa pakaikan aku baju?" kata Jonas dengan manja.

__ADS_1


Quenby tersenyum sambil mengelus rambut suaminya yang sudah kering. "Pakein Kakak boxer juga bisa, kok," ucap Quenby dengan nada jenaka.


...----------------...


Pagi pertama Quenby di Apartemen suaminya, dia gunakan untuk membuat sarapan. Pilihannya adalah roti panggang dan sup krim jamur yang sudah tersedia didalam kulkas.


"Kukira Asisten rumahku, ternyata istriku,"


Suara Jonas mengalihkan fokus Quenby yang sedang menghidangakn sup serta roti panggang ke meja makan.


Quenby melihat suaminya memakai setelan kerja yang tadi dia siapkan. Pilihan jas dan dasi berwarna biru pekat memang cocok dipakai lelaki itu, tanpa sadar Quenby pun tersenyum.


"Makasih ya, sudah nyiapin semuanya," Jonas memeluk wanita yang masih memakai celemek dapur. Lalu dia mengecup kepala istrinya.


"Kamu mau punya kegiatan tambahan?" Jonas bertanya pada Quenby sambil menikmati sarapan paginya.


Wanita yang ditanya pun langsung menggeleng. "Nggak, Kak." jawab Quenby tanpa pikir panjang.


"Aku hanya takut kamu bosan,"


"Justru Quenby mau menikmati jadi istri full time"


"Seperti saran Mommy?" Jonas yakin apa yang diucapkan Quenby adalah permintaan ibunya.


"Quenby juga sudah lelah bekerja, Kak. Quenby mau menikmati jadi Istri Direktur," gurau Quenby yang terselip makna serius didalamnya.


Wanita itu benar-benar lelah dengan rutinitas pekerjaan yang selalu dilakukannya sepanjang hidup sebelum dia menikah.


"Tapi kamu punya bakat, sayang kalau tidak dikembangkan," Jonas merasa bahwa wanita didepannya memiliki potensi besar. Itu terbukti dengan Butik yang berhasil dijalankan Quenby sampai bisa sebesar sekarang.


Quenby terlihat diam sejenak. Bukan untuk menimbang perkataan lelaki itu untuk mengembangkan bakatnya. "Quenby mau mengasah bakat yang lain aja," ujarnya kemudian.


"Wah, kamu Multitalent?" Jonas benar-benar takjub jika Istrinya memiliki banyak kebisaan. Dan apapun itu Jonas akan siap membantu mendampingi. "Aku akan dukung apapun keinginan kamu. Katakan, bakat apa yang mau kamu kembangkan?" tanyanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Jadi istri kesayangan!"


TBC


__ADS_2