
Quenby sedang bergegas menuju Rumah Sakit yang diberitahukan oleh Ibu mertuanya. Tadi saat Quenby sedang berbincang dengan Ryan, tiba-tiba Ibu dari suaminya itu menelpon dan mengabarkan jika Jonas terjatuh di kamar mandi. Ibu Sara pun turut serta menemani wanita yang tengah hamil muda itu.
Sesampainya diruang rawat suaminya, Qeunby melihat Jonas sedang bersama seorang lelaki yang seumuran dengan suaminya. Dia adalah Dion, sahabat sekaligus dokter pribadi Jonas.
"Kakak ...," panggil Quenby pada suaminya yang sedang terbaring di ranjang VVIP Rumah Sakit.
Jonas yang melihat kedatangan istrinya tentu saja terkejut. "Pasti Mommy ya yang nyuruh kamu datang kesini?" tanya Jonas saat melihat kedatangan sang istri.
"Ya memang harus begitu 'kan? Masa suami luka-luka kaya gini, istrinya enak-enakkan dirumah. Lagian Mommy sudah kembali ke Surabaya," tukas Quenby. "Kok bisa sampai jatuh?" tanyanya kemudian saat melihat perban yang tertempel dikening suaminya.
Jonas menyengir canggung. "Sepatuku licin, terus kepeleset dan terbentur ujung wastafel," jelas pria itu.
"Pasti karena lantai kamar mandinya nggak bersih nih! Besok pakai sepatu kets aja. Terus minta Cleaning Service bersihin kamar mandinya pake *Harpic*!" cerocos Quenby dengan raut wajah ketus.
Qeunby menyarankan menggunakan merek itu setelah membaca artikel online yang membahas pembersih kamar mandi yang paling ampuh.
Jonas baru kali ini melihat reaksi Qeunby yang ekspresif. Garis wajah ketus itu tergambar jelas diwajah sang istri yang biasanya sayu. Saat berbicara dengan nada ketus, bibir mungil terbelah itu terbuka tutup tanpa henti. Sangat lucu pikir Jonas.
"Kok senyum?" tanya Qeunby yang aneh melihat tingkah suaminya.
Apa benturan dikepala suaminya itu membuat otaknya geser?
Bisa-bisanya kening terluka tapi bibir tersenyum merekah. Aneh sekali suaminya.
"Aku baru tau kamu bisa ketus," ungkap Jonas.
Qeunby tiba-tiba terdiam. Benar juga yang dikatakan suaminya, sekarang dirinya mudah tersulut emosi, bahkan untuk hal-hal sepele. Seperti tadi misalnya, saat diperjalanan menuju Rumah Sakit tempat suaminya dirawat. Qeunby mendumel saat lampu merah terlalu lama berhitung, sedangkan lampu hijau hanya diberi waktu sebentar untuk eksis. Ibu Sara sampai mengatainya 'bumil galak'.
"Tuh 'kan, kamu sekarang sering melamun," kata Jonas. Pria itu mengelus lengan Qeunby yang memegang besi ranjang dimana Jonas terbaring
"Kalau begitu Aku tinggal dulu ya," ujar Dion yang tak enak hati berada disituasi itu. "Ibu Sara, bisa ikut saya?" tanya Dion pada Sara yang juga melihat interaksi sepasang suami istri itu sejak tadi.
Sara menatap ke arah Qeunby yang sedang melihatnya, sedetik kemudian wanita yang menjadi perawat Qeunby itu mengangguk dan mengikuti langkah Dion keluar ruangan.
__ADS_1
Melihat kepergian Sara bersama Dion, ada rasa was-was yang menyelimuti perasaan Quenby. Dalam hati dia berharap, semoga Sara tetap menjaga rahasianya.
"Jonas?"
Suara panik dari seorang wanita yang baru saja memasuki ruang rawat, membuat sepasang suami istri itu kompak melihat ke arah pintu.
Wanita dengan tubuh tinggi dan langsing serta kulit putih bening dengan rambut sebahu yang berwarna keemasan itu, membuat Quenby bisa menilai bahwa sosok seperti inilah selera suaminya.
"Kok bisa gini? Padahal tadi pagi kamu baik-baik aja ...," kata Briana dengan raut wajah panik.
Qeunby yang melihat sosok wanita yang terlihat akrab dengan suaminya itu hanya diam saja memperhatikan interaksi keduanya.
Jonas melirik ke arah Qeunby yang sedang menatap datar Briana.
"Ah, Sayang ... kenalkan dia teman lama ku, kami pernah satu Almamater saat berkuliah di Aussie," jelas Jonas. Dia ingin Briana bisa menjaga sikap. Terlebih ada sang Istri yang hari ini terlihat lebih garang.
Kontan saja Briana langsung menatap ke arah wanita dengan tampang datar yang masih betah duduk di kursi sebelah ranjang Jonas.
"Ah, maaf. Aku terlalu panik," kata Briana dengan canggung. Lalu dia mengulurkan tangannya pada wanita yang sudah dia tau adalah sosok istri Jonas. "Briana," katanya memperkenalkan diri.
Tak berapa lama ponsel Qeunby berdering. Wanita yang tengah hamil muda itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya.
"Ah, Mommy. Aku angkat dulu ya?" Setelah mengatakan itu, Quenby langsung keluar dari ruangan Jonas tanpa menggubris uluran tangan Briana.
Blam!
Pintu ruang rawat itu pun akhirnya tertutup seiring kepergian Quenby. Jonas hanya menatap punggung sang istri dalam diam dengan pikirannya yang kalut.
"Sialan!" maki Briana setelah istri dari mantan Kekasihnya telah menghilang.
"Jaga bicaramu!" tukas Jonas yang tak suka dengan perkataan Briana. "Untuk apa kesini? Dan siapa yang memberitahumu?" tanya Jonas.
"Di Kantormu ada mata-mata yang akan selalu melaporkan tindakanmu. Ingat, Jonas, perjanjian kita belum *clear*. Kamu belum menegaskan untuk menyetujui rencanaku."
__ADS_1
...----------------...
Setelah menerima telpon dari Ibu Mertuanya yang menanyakan kabar Putranya, Quenby tidak langsung kembali, dia pergi ke Kantin Rumah Sakit untuk meredakan kekesalannya.
Baru kali itu dia bertemu dengan Briana. Sosok yang diceritakan oleh Endrew sebagai Kekasih Jonas yang masih memiliki tahta tertinggi dalam kehidupan suaminya. Bahkan Apartemen yang kini ditempati Qeunby pun masih tersimpan rapi kenangan sang suami bersama wanita yang bernama lengkap Marsa Briana itu.
"Hai," Suara wanita yang kini mulai terdengar familiar menyapa Quenby yang sedang meminum jus alpukatnya.
Qeunby hanya melirik sejenak tanpa menyahut, lalu kembali melanjutkan minumannya.
"Ternyata penilaian Endrew ada benarnya," kata Briana, wanita itu langsung duduk di hadapan Quenby. "Kamu tidak selugu yang dikatakan Endrew."
Qeunby hanya menatap datar ke arah wanita yang bibirnya terpoles warna oranye.
"Dari sikapmu, sepertinya kamu sudah tau kan siapa aku?" tanya Briana dengan senyum sinis. "Endrew sudah memberikan rekaman suara itu 'kan?" lanjut Briana. Melihat wajah Quenby yang berubah, Briana semakin tersenyum lebar.
Raut wajah pongah dari wanita didepannya membuat Qeunby ikut tersenyum serupa dengan wanita itu. Lalu dia menatap lekat setiap jengkal dari wajah kekasih suaminya dengan tatapan remeh.
"Kenapa harus menungguku hamil? Memangnya tidak bisa mengusahakan sendiri dari rahimmu? Atau ... kamu berniat menyewa rahimku, hm?" tanya Qeunby dengan sarkastik.
Brak!
Quenby sedikit terkejut dengan sikap Briana yang tiba-tiba menggebrak meja yang menjadi pembatas diantara keduanya.
"Berani-beraninya kamu berkata seperti itu--"
"Tidak usah tunjuk-tunjuk!" sela Quenby menurunkan secara kasar telunjuk Briana yang mengarah padanya. "Kita tidak saling kenal untuk bisa berbicara seperti ini. Lagipula posisi yang 'berani-beraninya' itu adalah kamu! Bukan Aku!" tegasnya lagi. Qeunby sedang dalam mode emosi tingkat tinggi. Ini adalah kali pertamanya wanita itu melawan.
Briana terlihat murka. Seluruh wajahnya memerah bak kepiting rebus. Dia tidak menyangka wanita yang terlihat lemah malah bisa menyahuti setiap perkataanya.
"Aku akan merebut Jonas kembali. Dan aku pastikan--"
"Ambil saja! Aku tidak peduli!" sela Qeunby lagi. Dia tidak mau meladeni wanita yang gagal move on.
__ADS_1
Setelah itu Qeunby pergi dari hadapan Briana yang sudah mengeluarkan tanduknya yang tak kasat mata.
TBC