Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
58


__ADS_3

"Tapi dengan satu syarat ... kembalikan Qeunby pada kami."


"Mas Heru!" tegur Artanti pada sang suami. Wanita yang matanya masih sembab itu benar-benar tidak menyangka bahwa suaminya kembali berbuat seenaknya disaat pertemuan ini baru saja dimulai.


Artanti hanya khawatir dengan pandangan Qeunby yang akan menilai se-arogan apa Pamannya.


"Aku hanya tidak mau Quenby mengalami hal yang sama pada Ralyn. Hanya dimanfaatkan," kesah Heru.


Jonas merasa tersentil dengan kalimat yang diutarakan Heru. Benar kalau dia juga memanfaatkan Quenby pada awalnya. Tetapi dia juga bukan lelaki gila yang berniat membuang istrinya setelah semuanya terlaksana. "Maaf, Tuan Heru, tapi kekhawatiran anda berlebihan ...," pungksa Jonas.


"Kau pikir aku tidak tau skandalmu?" tuding Heru dengan tatapan remeh. "Kau memiliki hubungan dengan bekas pegawaiku. Briana!" tuduhnya lagi.


Quenby melihat raut wajah Heru yang sengit. Dia tidak bisa diam saja saat suaminya dituduh oleh orang yang baru muncul dan mengatakan mereka adalah keluarga. Seketika dia teringat prilaku Mama tirinya.


"Masalah itu hanya salah paham. Saya dan Kak Jonas sudah menyelesaikan dengan baik," terang Qeunby.


Heru tidak menyangka bahwa keponakannya yang baru saja dia temui ternyata memiliki sifat yang begitu naif. Mirip dengan Ralyn-- adik kandungnya. Tapi Heru tidak mau kecolongan dua kali.


"Kamu tidak tau apa yang akan dia lakukan kedepannya, Sayang. Bisa saja dia mengkhianatimu!" tekan Heru pada Qeunby.


Wanita yang tengah hamil muda itu menggeleng. Lalu berkata, "Kak Jonas dan Keluarganya bukan orang seperti itu. Justru mereka yang sudah membantu Qeunby terlepas dari Mama. Mereka tulus menyayangi Quenby. Kalaupun tuduhan Anda benar, tidak mungkin mereka mau menerima Qeunby yang tidak punya apa-apa. Dibanding dengan hal itu, justru Kak Jonas dan Mommy Luisa lah yang sudah banyak memberikan apapun tanpa Qeunby pinta!" bela Quenby dengan emosi meluap-luap.


Artanti yang khawatir dengan luapan emosi keponakannya itu pun mendekat dan memeluk tubuh wanita muda itu. "Cukup, Mas. Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi jangan samaratakan semua orang. Kita bahkan belum mengenal keluarga dari suami keponakanmu. Aku mohon ... turunkan egomu, kali ini saja. Agar kita tidak menyesal untuk yang kedua kalinya." kata Artanti.


"Justru apa yang aku lakukan untuk mengantisipasi perasaannya dan juga masa depannya, Aku hanya--"

__ADS_1


"Apa Anda mau membuat anak yang saya kandung tidak mengenal orangtuanya?" sela Qeunby yang sudah tidak tahan lagi berhadapan dengan pria yang katanya adalah sang Paman. Begitu menyebalkan sikap lelaki yang menjadi Kakak dari almarhum Ibu kandungnya itu. "Mungkinkah adik Anda memilih percaya pada orang lain karena merasa tidak nyaman dengan sikap otoriter Anda, Tuan Heru?"


Heru tertegun dengan kalimat terakhir yang keponakannya katakan. Tapi kabar kehamilan yang baru didengarnya, tentu saja membuat Heru lebih tidak percaya. "Kamu hamil?" tanya Heru untuk memastikan. Dan Qeunby mengangguk dengan tatapan datar.


Heru seketika mengurut pelipisnya. "Mengapa wanita keturunan Wijaya diberkahi otak yang dangkal!" maki Heru. Quenby, Jonas, bahkan Artanti mengerutkan dahinya. Mereka benar-benar tak percaya mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan dari mulut lelaki sepuh itu.


Jonas menoleh pada istrinya. Terlihat Qeunby sudah menahan geram. Wajah istrinya sudah merah padam. Lalu tatapan lelaki itu beralih pada sosok arogan nan otoriter didepannya. "Maaf Tuan Heru. Anda benar-benar sudah keterlaluan. Saya tidak butuh dana Anda untuk menyokong proyek Bawera. Terimakasih karena sudah mengenalkan sosok hebat yang telah melahirkan istri saya," Jonas mengusap punggung Quenby yang gemetar.


Pria itu pun melanjutkan kalimatnya, "Satu hal lagi. Jika keponakan Anda berpikiran dangkal. Mungkin sudah sejak lama wanita ini bunuh diri karena penyiksaan fisik dan juga kalimat kasar yang ditujukan padanya selama hampir hidupnya. Bahkan disaat itu terjadi, tidak ada satu orang pun yang membelanya. Dan yang lebih parah, dia tidak tau harus mengadu dan meminta pertolongan pada siapa."


Setelah menyampaikan apa yang menjadi ganjalan hatinya, Jonas pun langsung merengkuh bahu sang istri lalu memeluknya dengan erat.


"Kamu sanggup berjalan?" bisik Jonas pada istrinya yang terlihat lemah.


Quenby yang merasa kedua kakinya lemas sebenarnya tidak sanggup berjalan. Tapi dia tidak mau lelaki sepuh menyebalkan itu mengatainya lemah. "Ayo pulang, Kak!" seru Qeunby dengan dagu terangkat. Dia ingin Heru Wijaya tau bahwa Qeunby bukan wanita lemah yang mudah tertindas hanya dengan kata-kata sampah.


...----------------...


"Ya Tuhan! Akhirnya kalian datang juga," sambutan ceria itu berasal dari suara Mommy Luisa.


Jonas mengajak istrinya untuk kembali tinggal di Kediaman orangtuanya sampai tempat tinggal baru mereka siap ditempati.


Qeunby yang melihat keluarga Jonas telah berkumpul pun ikut mengembangkan senyumnya, lalu memeluk tubuh Luisa dengan erat. Dia tidak mau kenyamanan ini berlalu dengan cepat.


"Apa Jonas membuatmu kesal?" tanya Luisa. Quenby menggeleng dalam dekapan Ibu Mertuanya.

__ADS_1


Luisa yang melihat keanehan itu pun menatap Jonas sambil berkata 'Apa yang terjadi?' tanpa bersuara. Jonas hanya membalas dengan hal yang sama dengan mengatakan 'Nanti Jo, ceritakan'.


...----------------...


"Jadi, Heru Wijaya adalah Paman dari Quenby?" Hermawan cukup terkejut setelah mendengar cerita panjang lebar yang putranya sampaikan.


Malam itu hanya ada Jonas dan kedua orangtuanya yang berbincang-bincang di ruang kerja Hermawan. Jeny dan Qeunby sudah tidur lebih awal.


"Tidak masalah Mommy kerja sampai 50 tahun lagi. Bahkan Mommy masih sanggup bantu kamu untuk mencari tambahan investor," ujar Luisa dengan sungguh-sungguh.


50 tahun lagi usia Luisa genap 105 tahun. Bisa dibayangkan sesepuh apa dirinya menghadapi para pebisnis muda yang semakin arogan kedepannya. Membayangkan itu Hermawan dan Jonas kompak tergelak dalam hati.


Luisa benar-benar geram setelah mendengar perkataan pria sepuh yang sialnya adalah seorang Konglomerat yang sudah menuduh putranya memanfaatkan Qeunby. Kalau saja harta dan kekuasaan keluarga Sagala sebanding dengan Wijaya. Mungkin malam ini juga Luisa akan menyatroni si keriput tua bangka itu.


Hermawan tersenyum mencibir melihat sikap berapi-api yang ditunjukkan istrinya. Padahal beberapa waktu lalu saat dalam perjalanan kembali ke Jakarta, istrinya itu sudah menegaskan akan pensiun dini dan menemani menantunya selama hamil sampai melahirkan.


Wanita paruh baya yang masih begitu enerjik diusia senjanya itu tidak mau sang menantu mengalami fase kehamilan buruk yang dapat membahayakan janin. Seperti yang pernah dialaminya dulu. Lagipula Luisa lah orang yang sudah memaksa Qeunby untuk segera hamil.


"Nggak jadi nemenin menantu mu, nih?" goda Hermawan pada istrinya.


Luisa hanya menghela napas perlahan dengan raut kecewa yang begitu kentara di wajah keriputnya yang masih mempesona. "Kan ada Ibu Sara. Dia lebih tau dan lebih handal dalam mengatasi masalah yang sering dialami Ibu hamil," tukasnya yang membuat Hermawan tersenyum sambil memeluk istrinya dengan gemas.


"Nah gitu dong. Biar Ibu Sara saja yang memantau kondisi Qeunby, lagi pula masih ada Jonas dan juga Jeny. Kamu cukup memantau dan menemani aku saja, biar aku tambah semangat kerjanya," goda Hermawan dengan tatapan jahil pada istrinya itu.


Jonas tersenyum haru melihat interaksi Papi dan Mommynya yang masih mesra diusia senja. Dia benar-benar beruntung terlahir menjadi anak mereka. Kelak jika dia sudah menjadi ayah, Jonas pun akan mencurahkan segalanya untuk sang buah hati, terutama perhatian dan obrolan-obrolan ringan yang seperti orangtuanya lakukan selama ini padanya maupun Jeny.

__ADS_1


Dan untuk Quenby Agatha; gadis pertama yang melepaskan kesuciannya untuk Jonas seorang-- sang mantan adik kelasnya yang begitu pemalu-- istrinya yang penuh dengan kejutan-- serta wanita yang menjadi calon Ibu dari anak-anak mereka, tentu saja akan menjadi prioritas utama bagi Jonas untuk membahagiakan wanita itu sampai Tuhan memanggil dirinya.


TBC


__ADS_2