
"Aku, akan merebut Jonas kembali!"
Quenby menggigit bibir bawahnya sekeras mungkin saat mengingat perkataan Briana. Bohong jika dirinya tidak peduli pada suaminya. Jonas adalah lelaki pertama dan satu-satunya yang benar-benar bisa mengisi jiwa dan raganya. Berkat Jonas pula lah dia bisa terbebas dari cengkraman keluarga tirinya.
Hanya karena seseorang menginginkanmu, bukan berarti mereka menghargaimu.
Mungkin kalimat itu lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaan Jonas padanya. Lelaki itu hanya menginginkan Quenby menjadi istrinya untuk meluruskan skandalnya yang bengkok. Akan tetapi laki-laki yang telah menjadi suaminya itu seperti tidak pernah benar-benar menghargai Qeunby.
"Usia kandunganmu memasuki 3 minggu"
Saat terbayang perkataan dokter Monic, perasaan Qeunby semakin tak menentu . Bagaimana dengan nasib janin yang tengah di kandungnya?
Mulutnya berkata sanggup jika hidup hanya berdua saja dengan anaknya kelak. Tetapi apa hatinya sanggup jika sang anak nantinya menanyakan dimana keberadaan ayahnya jika Quenby memutuskan menyudahi perannya sebagai Istri?
Qeunby semakin dilema. Beginikah kekhawatiran yang dirasakan orang-orang yang tidak berdaya seperti dirinya?
Padahal dia selalu memberikan yang terbaik untuk setiap peran yang dia lakoni. Menjadi anak, menjadi menantu dan kini menjadi Istri. Akan tetapi semua itu tetap saja tidak berguna dan tidak ada artinya.
Quenby benci dengan dirinya yang seperti ini. Sangat lelah menjadi orang yang punya hati dan mati-matian seolah tidak peduli. Kemanapun dia berlari, rasa sakit pasti selalu mengikuti jika hatinya terus dikedepankan.
Mungkin ...
Jika Jonas jujur dan mengatakannya semua pada Quenby tentang masalalu lelaki itu yang masih terpatri, Quenby bisa mengambil tindakan preventif untuk melindungi dirinya. Tapi sayang, laki-laki itu memilih menutupinya hingga detik ini sampai masalalu dari lelaki itu hadir diantara mereka.
Qeunby harus bertemu Ibu Mertuanya. Yang dia butuhkan sekarang adalah jaminan untuk hidupnya kedepan. Dia tidak memiliki keluarga untuk dijadikan tempat bernaung, tidak juga memiliki teman untuk sekedar berbagi rasa. Manusia macam apa yang menjalani hidup sepertinya. Quenby benar-benar putus asa.
"Kamu dari tadi diem aja, ada apa?" tanya Jonas sambil mengelus bahu istrinya yang sedang mengemudi. Quenby menoleh sekilas lalu tersenyum.
Sejak dokter memperbolehkan suaminya pulang, Quenby melarang lelaki itu untuk berkendara. Qeunby tidak mau mengambil resiko jika dipertengahan jalan terjadi apa-apa pada mereka, terlebih kini Quenby sedang mengandung.
"Em ... Kak?" Quenby menoleh sekilas. Ternyata Jonas masih menatapnya.
"Hmm?"
"Perempuan yang tadi itu ... bukan temen biasa 'kan?" Quenby bertanya impulsif. Mulutnya sudah gatal ingin mendengar jawaban suaminya.
"Apa yang membuatmu berkesimpulan seperti itu?"
__ADS_1
Qeunby hanya merutuk dalam hati saat Jonas malah balik bertanya.
"Gestur kalian saat saling menatap punya arti yang berbeda, Kak. Dan respon wanita itu terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai teman biasa," sahut Qeunby berusaha bersikap tenang.
"Kamu cemburu?" goda Jonas.
Seandainya Qeunby belum mengenal apalagi mendengar rencana Briana, mungkin momen ini akan terlihat manis. Tapi sayang, apa yang Jonas sangkakan tidak sepenuhnya benar. Qeunby lebih merasa khawatir akan nasibnya.
"Qeunby hanya merasa terancam."
...----------------...
"Hoek ... Hoek ..."
Sudah 2 hari sejak kepulangan lelaki itu dari Rumah Sakit, Jonas tidak henti-hentinya muntah disetiap pagi. Tidak hanya itu, Jonas juga jadi lebih rewel dengan makanan. Lelaki itu sama sekali tidak bisa menyentuh nasi barang satu suap. Sehingga membuat Qeunby harus bekerja keras menyediakan menu lain.
"Tuan Muda masih muntah-muntah?" tanya Sara.
Qeunby yang sedang membuat jeruk peras mengangguk. "Makin parah, Bu Sara," beritahunya.
"Bisa jadi Tuan Jonas ngidam, Nyonya," bisik Ibu Sara.
"Hal seperti itu terjadi pada beberapa pasangan, Nyonya. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari,"
Mendengar hal itu Quenby langsung terdiam. Dia merasa takut jika ada yang sadar pada prilaku Jonas belakangan ini. Terutama Dion, sahabat suaminya yang memang rutin memeriksa kondisi Jonas.
"Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Quenby was-was.
Sara mengernyit tak mengerti. "Maksud Nyonya?"
Qeunby mendekat ke arah Sara lalu berbisik, "Saya enggak mau suami saya tau perihal kehamilan saya, Bu."
Ibu Sara merasa ada yang aneh dengan sikap wanita muda didepannya. Bukankah waktu itu sang Nyonya mengatakan akan memberi kejutan pada suaminya?
Dan sekarang malah megatakan tidak mau memberitahu perihal kehamilannya pada sang suami?
Jadi maksudnya bagaimana?
__ADS_1
"Tapi ...," ucap Sara terjeda. Dia menatap wajah pucat wanita yang tengah hamil muda itu. "dokter Dion sudah tau Nyonya,"
"Sudah tau apa?!"
Itu adalah suara Jonas. Lelaki yang sudah memakai setelan kerja yang Qeunby siapkan itu sedang berjalan mendekati dua wanita yang terlihat mencurigakan.
Jantung Qeunby berdegup kencang tak karuan. Tenggorokannya pun jadi ikut mengering saat mendapati sang suami berjalan ke arahnya dengan tatapan menyelidik.
"Bu Sara boleh pulang saja." kata Jonas. Itu adalah kalimat pengusiran yang halus.
Sara yang mendengar hal itu lantas menatap Qeunby. "Tapi, Kak, i-ini masih pagi. Lagi pula Kakak mau ke Kantor kan? Qeunby lagi buat ini," kata Quenby sambil menunjukkan segelas air jeruk hangat untuk suaminya.
"Aku nggak jadi ke kantor. Ibu Sara boleh pulang!" tegas Jonas sekali lagi. Lelaki itu terlihat tak mau ada bantahan.
Ibu Sara tak bisa berbuat apa-apa. Dia juga khawatir saat melihat raut wajah Tuan muda-nya tak bersahabat. Namun Sara lebih khawatir lagi pada reaksi Quenby saat Sara tak bisa apa-apa.
Sara hanya berharap tak terjadi hal mengerikan diantara pasangan suami istri itu.
Blam!
Setelah memastikan bahwa hanya ada mereka berdua. Jonas menarik lembut tangan Qeunby untuk mengikutinya. Bahkan air jeruk yang sudah dibuat wanita itu ditinggalkan begitu saja.
"Kakak kenapa nggak ke Kantor?" tanya Qeunby untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa beku.
Jonas tak menjawab. Dia masih mengaitkan jemari Qeunby dan membawa wanita itu ke lantai 2 menuju kamar mereka.
"Apa ada sesuatu yang kamu tutupi?" tanya Jonas. Bahkan lelaki itu tidak berniat untuk basa-basi.
Qeunby membasahi bibirnya. Dia mendongak menatap suaminya yang masih berdiri menjulang tinggi didepannya.
"M-maksud Kakak apa?"
Quenby gugup setengah mati. Dia benar-benar tak tau apa yang menjadi dasar suaminya berkata seperti itu.
Jangan bilang kalau Jonas mencurigainya. Sebab yang sempat Sara katakan tadi bahwa dokter Dion sudah mengetahui kondisinya. Kalau begini bagaimana nasib janinnya. Sungguh, dia tidak rela anaknya diambil dan dirawat oleh orang lain, terlebih itu adalah kekasih suaminya.
Membayangkan semua itu tiba-tiba air mata Qeunby menetes. Dia tidak sadar kalau dirinya menangis.
__ADS_1
TBC