Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
29


__ADS_3

"Kenapa nggak kasih kabar dulu kalau pulang jam segini, Kak?" tanya Quenby sambil membantu membuka kancing kemeja suaminya. Kegiatan itu sudah rutin dilakukannya selama mereka tinggal di Apartemen Jonas.


Jonas memperhatikan pergerakan istrinya yang kini beralih membantu melepas kemeja pria itu. "Aku harus ke Kalimantan besok pagi,"


Pergerakan Quenby terhenti. "Mendadak, Kak?" tanya wanita itu.


Jonas mengangguk. "Aku harus turun tangan, mereka minta nego kompensasi dan ingin bertemu denganku secara langsung," jelas Jonas.


Terlihat sekali wajah lelah yang terpatri di wajah tampan suaminya. Lelaki itu terlihat benar-benar lelah. "Ya sudah, lebih baik Kakak mandi dulu, air hangatnya sudah Quenby siapkan, jangan terlalu lama, nanti masuk angin,"


Selesai mandi dan berpakaian dengan baju yang sudah disiapkan istrinya, Jonas pun langsung bergabung bersama Quenby di atas tempat tidur.


"Quenby pijat kepalanya, ya? Biar nyaman,"


Jonas tak banyak bicara, dia menerima saja apa yang Qeunby lakukan padanya. Sempat Quenby tawari makan malam. Namun Jonas mengatakan dia sudah makan bersama karyawannya di kantor. Jadilah sekarang Jonas memilih langsung merebahkan tubuhnya.


"Kamu benar-benar terampil, Qeun," gumam Jonas yang memuji kepiawaian tangan Quenby saat memijat kepalanya. Jonas merasa lebih rileks sekarang.


"Ternyata ada gunanya juga Qeun baca-baca artikel," terang Quenby yang mempelajari cara pijat dari internet.


Jonas cukup ternganga mendengar fakta itu. "Kamu belajar otodidak?"

__ADS_1


"Iya, sudah lama Quenby lakukan. Mama juga senang saat Qeunby pijat" akunya menceritakan jika dia sering diminta Mama tirinya memijat tubuh gempal Kirana.


"Hati kamu benar-benar bersih, Quen" puji Jonas. Laki-laki itu kagum dengan sifat Quenby yang masih berbakti walau sering disakiti.


Melihat Jonas terlelap setelah hampir 20 menit dipijat, Quenby pun lekas menyusul untuk tidur. Sebelumnya dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Jonas sampai dada. Ingin rasanya Quenby menyelinap masuk kedalam pelukan tangan kekar suaminya. Akan tetapi Quenby belum seberani itu. Padahal mereka sudah sering melakukan hal yang lebih dari itu diatas ranjang.


Jam 2 dini hari Jonas terbangun, lelaki itu mengalami sebuah mimpi yang sudah lama tidak singgah dalam tidurnya. Sosok wanita yang pernah bersamanya tiba-tiba saja muncul dengan jelas di alam bawah sadarnya.


Menoleh ke arah sang istri yang sudah terlelap. Jonas kembali teringat saat melihat Quenby berdiri mematung cukup lama tepat didepan pintu kamar di lantai dasar.


Sebenarnya tadi Jonas sudah duluan sampai di Apartemennya, lelaki itu masuk ke dapur lebih dulu untuk minum. Namun ketika dia ingin ke lantai atas, Jonas menghentikan langkahnya saat melihat Quenby turun dari tangga dan langsung menuju kamar itu.


Cukup lama Jonas memperhatikan apa yang sedang dilakukan Quenby disana. Saat tangan wanita itu bergerak dan berniat menyentuh handel pintu, Jonas semakin curiga. Apakah wanita itu tau sesuatu.


Itulah kalimat yang Quenby katakan saat Jonas menanyakan mengapa wanita itu berdiri disana. Alasan yang aneh dan sangat tidak masuk akal. Namun Jonas iyakan saja agar tidak berbuntut panjang dan berpusat pada ruangan yang sengaja dia tutup itu.


Mungkin dari sanalah mimpi itu tiba-tiba muncul. Keberadaan kamar yang sudah lama tidak berpenghuni membuat pikiran Jonas terusik. Maka dengan langkah hati-hati, Jonas keluar dari kamar mereka dan langsung menuruni tangga untuk menuju ruangan yang sudah bertahun-tahun tidak dibukanya.


...----------------...


Quenby merasakan pergerakan di tempat tidurnya, dia tidak berani menoleh. Quenby hanya menebak saja bahwa itu adalah suaminya. Dan benar saja, tak lama kemudian pintu kamar mereka terbuka lalu tertutup dengan hati-hati. Mau kemana suaminya. Begitulah pikir Quenby.

__ADS_1


Jika pria itu ingin ke kamar mandi, bukankah di kamar mereka tersedia. Apa lelaki itu haus? dikamar mereka juga menyediakan dispenser. Lantas mau apa keluar kamar, apa lapar.


Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak wanita itu. Qeunby mencoba menunggu beberpa saat lagi, barangkali saja suaminya akan kembali. Namun nihil, sudah lebih dari 15 menit pria itu tak kunjung kembali masuk kamar.


Dengan rasa penasaran yang menggebu, akhirnya Quenby melangkah keluar kamar untuk mencaritahu apa yang suaminya lakukan.


Langkah Quenby sangat perlahan. Bahkan dia melepas sendal rumahnya agar tidak terdengar bunyi sedikitpun dari pergerakannya.


Hal yang pertama Quenby datangi adalah ruang kerja Jonas, pintu ruangan yang tidak terkunci memudahkan Quenby untuk masuk kedalamnya. Namun lelaki itu tidak ada disana.


Dilantai dua ini tidak banyak ruangan, jadi dia yakin suaminya tak ada di lantai itu. Langkahnya kembali mengayun menuruni anak tangga, begitu hati-hati saat menapaki lantai kayu yang telah di pernis kilat itu.


Perlahan tapi pasti, langkah Quenby akhirnya sampai di lantai dasar. Entah sebuah kebetulan atau tidak, tapi pandangan wanita itu langsung mengarah pada sebuah pintu yang letaknya agak kebelakang dari bangunan tangga di Apartemen itu. Sepertinya letak kamar itu tepat dibawah kamar lantai atas berada.


Saat langkahnya sudah dekat, Quenby lumayan terkejut ketika dia melihat ada sedikit celah yang menampilkan sorot cahaya dari pintu kamar yang selama ini selalu tertutup rapat.


"Apa Kak Jonas didalam?" Quenby bertanya dalam benaknya.


Sudah pasti lelaki itu yang berada di dalam 'kan? Memang siapa lagi penghuni Apartemen itu selain mereka berdua.


"Tapi sedang apa malam-malam begini?" benak Quenby kembali terusik.

__ADS_1


TBC


__ADS_2