Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
31


__ADS_3

Terkadang tidak banyak tahu adalah hal yang baik untuk menjaga perasaan. Terutama rasa ingin tahu pada masalalu seseorang. Terlebih itu adalah masalalu dari pasangan hidup kita.


Memutuskan menerima, berarti harus berikut dengan segala konsekuensi dan resiko yang ada. Seperti Qeunby. Saat ini wanita itu kembali termenung di Apartemen suaminya. Tidak memiliki kegiatan atau kesibukan ternyata membuat pikiran buruk sangat mudah mencemari perasaan wanita itu.


"Kalau kamu tidak percaya. Periksa saja setiap ruangan yang ada di Apartemennya. Aku pastikan bahwa kamu hanyalah alat untuk mencapai tujuan Jonas."


Ya. Kalimat itu kembali lagi menggentayangi benak Quenby. Tidak dia pungkiri bahwa apa yang dikatakan Endrew waktu itu telah berhasil mengusik pikirannya.


Terlebih bagaimana dia menyaksikan sendiri suaminya berlama-lama didalam kamar yang masih menjadi misteri.


Apakah dia harus pura-pura tutup mata?


Sama seperti waktu dulu disaat dia selalu dikatai sebagai anak haram. Bermula dari sanalah akhirnya Quenby mencaritahu seperti apa asal usulnya. Namun saat berhasil mendapati jawaban, ternyata kenyataan itu membuat Quenby merasa lebih terpuruk. Lantas bagaimana dengan hatinya yang sudah terlanjur remuk?


Disaat pikiran buruk mengacaukan kehidupannya yang sudah carut marut, tidak ada seorang pun yang bisa membantunya bangkit untuk sembuh atau sekedar menenangkan dan berkata 'semua akan baik-baik saja', yang ada dia malah semakin tahu kenyataan bahwa dirinya adalah anak diluar nikah.


Bertahun-tahun Qeunby memupuk rasa percaya dirinya dengan mengatakan 'bukan salahmu, Qeunby!'. Hanya sebaris kalimat itu yang bisa membuatnya waras. Walau perlakuan dan perkataan kasar masih kerap dia dapatkan. Quenby berhasil bertahan.


Sekarang ...


Quenby merasa berada dipersimpangan dimana dia sedang dihadapkan dengan sesuatu yang Jonas sembunyikan.


Wanita itu sadar, bahwa suaminya memang memanfaatkannya. Dan perkataan serta ancaman yang Endrew lontarkan sama sekali tidak membuat Quenby gentar.


Bagi Quenby, selama dia bisa menerimanya, selama itu juga dia tidak akan memperdebatkan. Quenby hanya ingin mengambil hal baik dari pernikahan ini. Yaitu terbebas dari perlakuan kejam keluarga tirinya. Cukup adil 'kan.


Quenby mengembuskan napas lelah. Kali ini bukan raganya yang sakit. Tapi pikirannya yang sedang rumit.


"Semua orang punya masalalu, Qeunby! Pikirkan saja kebahagianmu! Semangat!"

__ADS_1


Kalimat itu akan Quenby pakai sebagai tameng melindungi dirinya dari hal-hal buruk yang akan mengotori pikiran dan juga merusak perasaannya.


Benar. Mulai sekarang Quenby hanya akan fokus pada kebahagiannya saja. Qeunby hanya perlu menjaga hatinya agar tak terlalu jatuh kedalam perasaanya pada sang suami. Selama Luisa dan Hermawan merestuinya, maka apapun tidak masalah, sekalipun masalalu Jonas masih belum selesai.


From : My Husband


| Aku baru saja sampai. Maaf tidak bisa meneleponmu. Aku langsung mengadakan rapat. Nanti malam aku akan menghubungimu. Sampai nanti.|


To : My Husband


|Syukurlah Kakak sudah sampai. Jangan lupa makan. Sampai nanti 🥰.|


Tidak lama bel pintu Apartemen berbunyi. Quenby segera turun dari kamar dan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang.


Layar monitor menunjukkan seseorang yang tidak Quenby sangka akan datang ke tempat itu. Dengan senyum terulas, Quenby pun membukanya.


"Kak Quen!" Pekik Jeny kegirangan. Dia langsung memeluk erat tubuh Kakak iparnya.


Quenby memperhatikan sang adik ipar yang masih memakai seragam sekolah. "Kamu bolos?," wajar saja jika Quenby menyangka sang adik ipar bolos. Sebab masih terlalu dini untuk anak kelas 3 SMA pulang pada jam 10 siang.


Jeny melangkahkan kakinya untuk masuk. "Biasa, Kak. Rapat," sahut Jeny.


"Wah, ternyata Apartemen Kak Jonas nyaman banget," puji Jeny. Dia berjalan berkeliling melihat desain bangunan itu.


Quenby yang sedang menuju dapur, mengernyit bingung. "Kamu baru pertama datang ke sini Jen?" tanya Qeunby. Wanita itu meletakkan satu gelas dan juga satu botol besar minuman jus kemasan di ruang tengah.


Jeny mendekati Kakak iparnya yang sudah duduk didekat jendela lebar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung bertingkat.


"Gitu deh," Jeny meminum segelas jus jeruk dingin yang tadi dituang istri Kakaknya. "Seger banget!"

__ADS_1


Quenby memperhatikan seksama paras Jeny yang memiliki kemiripan dengan Jonas. Dulu saat lelaki itu seusia Jeny, begitulah wajah suaminya, manis dan mempesona. Apalagi jika tersenyum, kedua lesung di pipinya akan semakin mencekung.


Kalau dipikir-pikir usia Jonas dan Jeny terpaut lumayan jauh. Sekitar 13 tahun. Jika mengingat tentang kejadian Jonas yang mengalami kecelakaan, berarti saat itu usia Jeny masih sekitar 15 tahun 'kan?


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Quenby penasaran. Mengapa adik iparnya kebetulan datang saat Jonas pergi.


"Pak Mun," sahutnya. Pak Mun adalah supir keluarga. "Kak Jonas yang kirim pesan sama Jeny tadi pagi, Dia bilang suruh temenin Kakak disini," ungkapnya kemudian.


Quenby mengangguk mengerti. Mungkinkah Jonas takut dirinya kesepian? Padahal Quenby sudah akrab dengan kesendirian.


"Baru kali ini Jeny lihat Kak Jonas perhatian banget sama cewe," ungkap Jeny, jelas hal itu membuat Quenby menaikkan kedua alisnya.


Ah! Kebetulan sekali Jeny mengangkat pembicaraan ini. Tentu saja Quenby akan memanfaatkannya untuk mendapatkan sesuatu.


"Memang sebelumnya nggak pernah?" Quenby sengaja memancing Jeny untuk menceritakan sesuatu yang mungkin saja gadis itu ingat.


Gadis itu mengernyitkan dahi dengan bola matanya menatap ke arah atap. "Em ... seinget Jeny sih Kak Jonas nggak pernah bawa cewe. Dia itu Jones si Jomblo Ngenes!" Selepas itu Jeny tertawa tepingkal-pingkal. Quenby hanya tersenyum mendengar ejekan itu.


Jeny memang senang sekali mengatai Kakaknya. Apalagi saat ini tidak ada Jonas. Semakin bebas saja dia.


"Masa sih, Jen?" tanya Qeunby yang tidak percaya begitu saja.


"Serius!" Jeny menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya saat mengatakan itu. "Tapi ..." Gadis itu kembali mengernyitkan dahinya. "Dulu Mommy pernah sebut-sebut nama cewe gitu saat Kak Jo kecelakaan 3 tahun yang lalu,"


"Siapa Jen?" Kali ini Quenby tidak mampu menutupi rasa penasarannya.


"Biana... Eh bukan-bukan. Em ... kalau nggak salah sih, Bri-ana. Ah bener, Briana!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2