Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
39


__ADS_3

Selama rapat berlangsung, Jonas berusaha untuk fokus pada presentasi yang dilakukan oleh para karyawannya. Dia tidak ingin kehilangan investor besar sekelas Heru Wijaya karena dianggap tidak profesional.


Kehadiran Briana bersama Heru Wijaya memang sesuatu yang sangat mengejutkan dan tidak dia duga. Terlebih wanita itu kini adalah orang kepercayaan dari calon investornya itu. Bagaimana bisa Briana mencapai posisi penting sebagai salah satu anggota dewan pertimbangan pada perusahaan sekelas Wijaya Group.


"Bagaimana kabarmu?" Briana bertanya dengan wajah yang tenang. Wanita itu duduk dengan anggun tepat dihadapan Jonas.


Setelah melakukan rapat tadi, Briana meminta waktu pada Jonas untuk berbicara empat mata. Awalnya Briana meminta pertemuan itu dilakukan di luar perusahaan milik Jonas. Namun lelaki itu menolak dengan dalih efisiensi waktu. Dan akhirnya Briana mengalah dan menerima pembicaraan itu dilakukan didalam ruangan lelaki itu saja.


"Aku baik," sahut Jonas seperlunya. Bahkan pose duduk lelaki itu terbilang sangat santai dengan punggung yang bersandar di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Selamat atas pernikahanmu," Briana meremat kedua tangannya yang terpangku saat mengatakan itu.


"Terimakasih," sahut Jonas singkat dengan tatapan datar.


Kehadiran wanita dari masalalunya yang begitu tiba-tiba membuat Jonas tak sabar ingin bertanya. Terutama setelah kejadian kecelakaan yang keduanya alami beberapa tahun silam, membuat Jonas penasaran dimana keberadaan wanita itu selama ini.


Tepat setelah Jonas sadar dari komanya selama dua minggu, lelaki itu tak pernah tau lagi tentang kabar wanita didepannya. Yang dia dapati hanyalah sosok Endrew yang kemudian dia ketahui ternyata adalah sepupu dari Briana.


Kehadiran Endrew pasca kecelakaan itu memang banyak membantunya, tapi alih-alih membantu, ternyata niat Endrew mendekatinya karena pria itu tidak ingin Jonas lepas tanggung jawab begitu saja pada sepupu pria itu.


Dan setiap kali Jonas menanyakan kabar perihal Briana, Endrew selalu mengelak dengan mengatakan urus dan fokus pada kesembuhan dirinya dulu, dan baru setelah itu Endrew berjanji akan mengatakan dimana Briana berada.


Namun semakin berlalunya waktu, Endrew tidak juga memberitahukan dimana keberadaan Briana. Bahkan sampai Jonas memutuskan menyerah dan mencoba mencaritahu sendiri tapi nihil. Sampai pada akhirnya kejadian di Villa beberapa waktu lalu yang membuat emosi Jonas meluap, lelaki bernama Endrew itu menghilang bak ditelan bumi.


Keduanya masih terdiam, tidak ada satu pun dari mereka yang kembali berbicara. Briana dengan kebungkamannya. Sedangkan Jonas dengan rasa penasaranya yang masih terkubur.


Sampai pada sebuah bunyi panggilan dari ponsel Jonas yang berdering, barulah keduanya memutuskan tatapan mata yang sempat menenggelamkan mereka dalam keheningan.


Jonas meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja, nama kontak istrinya yang telah dia ubah menjadi 'My Qeun' tertera disana. Dan seulas senyum tergambar diwajah Jonas yang sempat terlihat tegang sebelumnya, Briana menyadari itu.


"Hm ...," sahut Jonas dengan suara lembut.


|" ..."|


"Nggak usah, kamu istirahat aja ...,"

__ADS_1


|" ..."|


Jonas tersenyum. "Aku pulang sore."


|" ..."|


"Hm ... iya Quen."


Jonas pun menutup telponnya setelah sang istri menutupnya lebih dulu. Dan senyum itu masih terukir jelas diwajahnya yang rupawan. Sudah dua hari ini setelah sang istri memberinya hadiah ulangtahun, hubungan mereka jadi semakin lebih intim.


Jonas tidak menyangka bahwa mantan adik kelasnya bisa memberi warna baru dalam kehidupan rumah tangga mereka, terutama dalam hubungan diatas ranjang yang membuat pria itu selalu cepat-cepat ingin pulang.


"Istrimu?" tanya Briana dengan senyum yang hanya sampai pada bibir saja. Jonas mengangguk menyahuti. "Kalian tinggal di Apartemen?" tanyanya lagi.


Jonas tak menyahuti apapun kali ini. Dia hanya menatap lekat wajah Briana yang terlihat sendu.


"Apa ... kamu sudah menyingkirkan barang-barangku dari sana?" tanya Briana menyelidik.


Jonas masih terdiam. Lelaki itu tidak bisa menjawab 'masih', karena nyatanya barang-barang wanita itu masih tersimpan dengan baik di lantai dasar.


"Jangan bilang kamu masih menyimpannya, Jo. Apa nanti kata istrimu?" Briana mencoba memancing reaksi pria itu. "Walau kalian menikah karena alasan--"


"Ternyata kamu banyak tau, Bri. Apa Endrew selalu melaporkan segalanya tentang hidupku padamu? Hm?" sela Jonas dengan tatapan datar.


Walaupun sedari awal Jonas yakin bahwa Endrew tidak sekedar membantunya secara cuma-cuma, akan tetapi tetap saja sangat menyebalkan ketika wanita didepannya ini berbicara seolah tau segalanya.


Tatapan Briana berubah menyesal, kemudian dia berkata, "Maafkan aku Jonas. Aku juga masih dalam masa pemulihan waktu itu--"


"Mengapa kamu tidak menghubungiku untuk berbicara jujur?" desak Jonas. "Dan sekarang tiba-tiba kamu datang sebagai orang kepercayaan Heru? Bagaimana kamu bisa menjelaskan semuanya, Bri?"


Kalau memang nyatanya Briana masih dalam masa penyembuhan, mengapa wanita itu tidak memberikan kabar padanya secara langsung.


Tiga tahun. Penyembuhan macam apa yang wanita itu jalani sampai selama itu?


Belum lagi kemunculannya yang tiba-tiba menjadi salah satu orang kepercayaan Heru Wijaya sebagai calon investor utama di Perusahannya, jelas membuat Jonas curiga.

__ADS_1


Bayangkan saja, untuk sekedar menghubungi Jonas dan berkata jujur tentang kondisinya, wanita itu memilih untuk diam. Akan tetapi wanita itu masih bisa mencapai karir sebagai salah satu Dewan pertimbangan di Wijaya Group.


Sebenarnya apa yang sedang wanita itu dan sepupunya rencanakan?


"Setelah pemulihan ...," Briana mulai buka suara, dan Jonas dengan serius mendengarkan. "Aku melanjutkan studiku di Amerika. Setelah itu aku meniti karir di Wijaya Group. Bertahun-tahun aku bekerja keras sampai bisa diposisi ini, Jonas," senyum bangga terpatri pada wajah Briana yang sendu.


Jonas masih menatap ke arah wanita itu tanpa memberikan reaksi apapun. "Kenapa setelah sembuh kamu tidak memilih untuk menghubungiku?" tanya Jonas penasaran. "Dan mengapa malah sibuk membangun karir tanpa memberitahuku?"


"Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri diatas kakiku sendiri, Jonas. Aku bisa! Aku tidak seperti yang Ibumu tuduhkan! Aku bukanlah benalu!" Pekik Briana dengan emosi pecah.


Briana masih ingat betul bagaimana penolakan dan penghinaan yang dilontarkan oleh Ibu dari lelaki didepannya. Dan Bagaimana sikap Jonas yang tidak membelanya saat itu. Briana sakit hati dan merasa tidak berarti.


"Kamu terlalu berambisi Briana, sekarang bahkan Mommy hanya menginginkan seorang cucu dari pendampingku--"


"Dan aku baru mengetahuinya!" kata Briana dengan napas tersengal.


Briana merasa seperti ditipu. Ketika dia sedang menanjak pada karir tertinggi untuk membuat Ibu dari Jonas bangga. Ternyata wanita angkuh itu malah menginginkan seorang cucu yang tidak mungkin Briana sanggupi.


"Oh, jadi Endrew juga sedetail itu memebritahumu?" Jonas tertawa remeh diujung kalimatnya.


"Ya! Endrew selalu melaporkannya padaku karena aku yang memintanya!" aku wanita itu.


"Apakah Endrew juga mengatakan bahwa istriku menyanggupi keinginan Ibuku secara suka cita?!" ungkap Jonas dengan senyum mengejek.


Briana semakin mengeratkan kepalan tangannya. Dia benci dengan pembicaraan ini.


"Sekarang apakah kamu akan merubah haluan dan berhenti dari karir yang kamu banggakan untuk mengikuti kemauan Ibuku? Hm?" tantang Jonas.


Sungguh, Briana sudah tidak bisa menahan lagi. Ucapan Jonas layaknya belati yang langsung menghujam jantungnya.


"Kecelakaan itu membuatku tidak bisa hamil lagi, Jonas!" ungkap Briana dengan wajah putus asa.


Seketika Jonas terdiam. Dia baru tau kenyataan ini. "A-apa maksud perkataanmu, Bri?" tanya Jonas dengan suara bergetar.


Briana menatap Jonas dengan mata berkaca-kaca. "Kecelakaan itu ... telah membunuh anak yang Kukandung. Dan ... rahimku pun harus diangkat."

__ADS_1


TBC


__ADS_2