Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
55


__ADS_3

Kecupan demi kecupan Jonas sapukan diwajah Qeunby yang semakin memerah. Jemari panjangnya bergerak turun menarik gaun tidur sutra milik wanita yang berada dibawah kungkungannya. Kini tersisalah pakaian dalam sang istri yang masih menutupi area sensitifnya.


Quenby cocok memakai warna coklat karamel, pikir Jonas.


Seiring kecupan yang semakin turun membelai tengkuk istrinya, telapak tangan Jonas pun dengan perlahan menurunkan penutup yang masih menempel pada tubuh istrinya. Tanpa melepasnya, Jonas hanya menyelipkan kain berenda itu untuk menyanggah gumpalan kenyal milik Qeunby yang terlihat semakin besar dan padat.


Dengan gerakan lembut, jari-jari Jonas kembali bermain untuk membelai buah dada ranum milik sang istri yang sudah lama tidak dirasakannya.


"Semakin besar, aku suka," desis Jonas sambil mencecap pucuk ranum yang beberapa bulan lagi akan menjadi penghilang dahaga.


Qeunby melenguh lirih saat lidah suaminya masih bermain-main dibagian area ujung paling sensitif yang mengencang dengan warna yang semakin menggelap.


Tak lama, jemari panjang dan kuat milik suaminya bergerak turun dengan lembut seringan bulu menelusuri perut, pinggang, panggul dan berhenti untuk menarik turunkan kain berenda terakhir yang menutupi area sensitifnya.


Dengan niat mempermudah sang suami, Quenby pun menekuk kedua lututnya agar benda itu terlepas.


Merasa sudah tak ada penghalang. Jemari Jonas kembali membelai area pusat tubuh Qeunby. Gerakan sensual dengan tatapan memuja dari sang suami membuat Qeunby terjebak pada masa lalu saat pertama kali bercinta dengan lelaki yang tengah mendamba dirinya.


Inilah sosok Jonas yang Qeunby ingat dulu, begitu lihai, mahir dan sangat lembut memperlakukan dirinya. Serta begitu mengerti bagian-bagian mana saja yang bisa membuat seorang Quenby melayang setinggi awan.


Ah! Quenby semakin bergairah.


"Eung ... emmh" Qeunby melirih geli saat jari suaminya tertanam perlahan masuki lubang seng gamanya dengan tekanan ringan namun mematikan. Padahal baru satu jari.


"Kamu basah," desis Jonas parau.


Melihat tubuh istrinya telah siap disertai kabut gairah dikedua mata indah sang istri, Jonas pun beranjak untuk melepas kaos putih yang dia kenakan.


Quenby yang melihat otot-otot tubuh suaminya yang terbentuk liat hanya bisa puas memandangi. Kali ini Qeunby hanya akan mengikuti permainan yang disajikan suaminya untuk mengajak serta dirinya menuju puncak yang hangat.


Tak lama setelah itu, Wanita yang masih memuja bagian tubuh kekar suaminya kembali menelan saliva saat melihat benda bertuah yang menyembul tegak menjulang sesaat lelaki itu menurunkan celana bahan kain miliknya sendiri.


kejantanan suaminya sudah pulih sepenuhnya. Quenby turut bahagia.


"Aku ingin dia merasakan kehadiranku," desis Jonas yang terdengar meracau di telinga Qeunby.

__ADS_1


Tanpa peduli apa yang diucapkan suaminya, kedua lengan Qeunby segera memeluk tubuh Jonas agar keduanya semakin tertempel erat.


Dan permainan pemberi kenikmatanpun dimulai dengan ritme pelan dan penuh kehatia-hatian.


...----------------...


"Kakak, sudah tau?" Quenby bertanya takut-takut.


Wanita itu duduk bergelung dibalik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.


Dia tidak bisa pura-pura tak mendengarnya saat sang suami begitu jelas menanyakan tentang calon buah hati mereka ditengah-tengah percintaan tadi.


Jonas meraih nakas untuk mengambil secarik foto yang dia yakini adalah gambar janin yang tengah dikandung istrinya. Lalu menaruhnya diatas ranjang diantara mereka.


Qeunby terbelalak melihatnya.


'Kok bisa sama dia?' batin Qeunby yang panik.


"Saat kamu pingsan dan dibawa kerumah Tante Dewi waktu itu, aku meminta Ibu Sara untuk kembali ke Apartemen. Kamu ninggalin tas kamu, aku suruh dia bawain semua itu, kecuali surat keterangan dokter dan gambar janin kita," jelas Jonas dengan wajah datar.


"Apa Mommy tau, kamu hamil?" Qeunby tak berani menatap Jonas. Dia hanya mengangguk untuk menjawab. "Pantas saja Mommy gigih banget bantu kamu. Terus siapa lagi yang tau?" tanya Jonas. Tidak ada nada marah, hanya ada luapan kecewa yang terlihat jelas.


Qeunby berani menaikkan pandangannya untuk menatap sang suami. Lalu dia berkata, "Dokter Dion," sahutnya.


"Sialan tuh orang!" maki Jonas geram. Dia akan membuat perhitungan pada sahabatnya satu itu karena sudah berkomplot menutupi kehamilan istrinya.


Qeunby yang baru pertama kali mendengar sang suami benar-benar mengumpat murka, hanya ketakutan.


Akankah Jonas menyalahkannya lalu memukulnya?


Jonas yang melihat raut pias di wajah istrinya langsung melembutkan tatapannya. Kemudian dia menggeser duduknya agar bisa memeluk tubuh sang istri.


"Aku bukan marah sama kamu, aku cuma kecewa. Kenapa bukan aku dulu yang kamu kasih tau, hm?" tanya Jonas hati-hati. Dia tidak mau disalah artikan.


"Dokter Dion dan Mommy juga bukan Qeunby yang kasih tau, Kak. Tapi Ibu Sara, dia terpaksa bilang saat ditanya sama Dokter Dion," beritahu Quenby.

__ADS_1


'Ternyata ada gunanya juga mulut ember Bu Sara,' batin Jonas.


"Kamu nutupin hal sepenting ini dari Aku karena khawatir dengan omongan wanita itu?" tebak Jonas pada perkataan Briana. Dan Qeunby mengerti apa yang dimaksud, lalu dia mengangguk. "Ya Tuhan, Sayang ..., Aku bukan orang gila," kesah Jonas sambil mengecup kepala istrinya. "Aku benar-benar minta maaf. Semua memang berawal dari kesalahanku," lanjutnya lagi sambil memeluk.


"Qeunby juga minta maaf, Kak," lirih wanita itu yang merasa bahwa keputusannya yang dia ambil salah.


"Kamu nggak usah khawatir, lagipula semua orang berpihak sama kamu kalau aku aneh-aneh. Apalagi Mommy, bakalan gampang banget nendang Aku sekarang. Soalnya apa yang Mommy nantikan terjadi. Dia bakalan jadi Oma dan punya penerus yang pastinya lebih fresh." Qeunby tersenyum mendengar kalimat jenaka sang suami. Mirip sekali apa yang Ibu mertuanya katakan.


Jonas menarik dagu Qeunby lalu mengecup bibir wanita itu. "Makasih ya, Sayang. Sudah sabar banget ngadepin Aku yang banyak kurangnya ini. Dan Aku benar-benar bersyukur Tuhan menitipkan anak kita di rahim kamu," ungkap Jonas penuh haru.


Kehadiran Quenby adalah bala bantuan nyata dari Tuhan. Segala Kebahagiaannya bermula dari wanita ini. Tentu Jonas tidak akan menyia-nyiakan wanita yang ada dipelukannya.


"Besok cek ulang ya ke Dokter, Aku mau lihat langsung," pinta Jonas. Qeunby pun mengangguk senang.


Jonas akan ke Kantor lebih siang besok. Momen melihat janinnya lebih penting daripada merayu Konglomerat sekelas Heru Wijaya untuk berinvestasi di proyek besar miliknya.


"Besok kita kembali ke Jakarta ya?" itu bukan pertanyaan, melainkan permintaan.


Qeunby mengerutkan dahinya. Tanpa sadar Jonas mengusap kerutan buatan itu.


"Bukan ke Apartemen, kok. Kita tinggal di rumah Orangtuaku dulu," Qeunby lekas mengangguk. Dia juga tak tega melihat Jonas berkendara lumayan jauh dari Puncak Bogor ke Jakarta untuk pulang pergi bekerja setiap harinya. Walaupun ada supir, tapi tetap saja.


"Setelah periksa anak kita, Aku mau nunjukkin sesuatu sama kamu,"


"Apa itu, Kak?" tanya Qeunby penasaran.


"Surprise dong," sahut Jonas dengan senyum lebar yang memperlihatkan kedua lesung pipi pria itu.


"Jangan yang bikin jantungan ya, Kak? Quunby nggak siap," kata Qeunby. Jonas hanya tersenyum misterius.


"... Kalau aku minta satu ronde lagi, kira-kira anak kita marah nggak diganggu Papanya terus?" Pertanyaan random dari suaminya membuat Qeunby tergelak. Aneh-aneh saja suaminya, pikir Qeunby.


Lalu Qeunby terdiam. Dia lupa menanyakan ini pada Dokter Monic. Kemudian Qeunby mengalihkan tatapannya pada sang suami lalu berkata, "Kalau gitu tahan dulu, bisa?" Jonas melongo mendengarnya. "Besok tanyakan dulu dengan Dokter Monic, boleh nggak ditengok sering-sering," ujar Qeunby yang membuat Jonas mengehela napas.


'Nyesel aku tanya. Harusnya langsung gas aja tadi,' rutuk Jonas dalam hati

__ADS_1


TBC


__ADS_2