
Pukul 9 malam Jonas masih berada di Kantornya. Pembicaraan dengan Briana siang tadi membuat Jonas berpikir keras tentang apa yang wanita itu katakan.
"Semua ini salahmu, Jo! Seandainya kamu tidak ugal-ugalan, maka aku tidak akan kehilangan janinku, terlebih aku kini tidak bisa hamil lagi!"
Perkataan demi perkataan yang Briana lontarkan, seakan memenjarakan Jonas dalam rasa bersalah yang kian membuncah.
Jonas masih ingat betul bagaimana saat sebelum kecelakaan itu terjadi.
Sore itu saat dirinya masih sibuk mendampingi sang ayah di perusahaan, dia mendapati pesan dari Briana yang mengatakan sedang dalam perjalanan menuju Kediaman orangtuanya.
Wanita itu mengatakan akan berbicara pada Luisa dan memohon agar hubungan mereka mendapatkan restu, padahal sebelumnya Jonas sudah melarang keras agar Briana tidak datang lagi kerumah orangtuanya. Namun diluar dugaan, ternyata wanita itu malah mengatakan tentang kehamilan yang sesungguhnya baru Jonas ketahui.
Dalam emosi yang bertumpuk, Jonas menyeret Briana keluar dari kediaman orangtuanya secara paksa, dan membawa wanita itu pergi menggunakan kendaraannya dalam kecepatan maksimal, kemudian tanpa diduga sebuah mobil dari arah depan dengan muatan besar bertubrukan langsung dan menimpa mobil yang sedang Jonas kendarai.
Insiden itu membuat Jonas koma selama dua minggu. Dan saat dia siuman, Jonas mendapati sebagian besar tubuhnya mengalami kerusakan, salahsatunya adalah dibagian fungsi alat vitalnya.
Disfungsi ereksi yang Jonas alami selama bertahun-tahun ini bisa jadi karena Tuhan sedang menghukum pria itu.
Akan tetapi disaat Jonas mengalami keputusasaan dititik akhir dalam usahanya untuk sembuh, tiba-tiba seorang gadis yang dulu pernah Jonas manfaatkan untuk kemudian ditinggalkan--malah datang dan menjadi penolongnya.
Bolehkah hal itu Jonas sebut sebagai pengampunan?
Terdengar egois memang.
Akan tetapi nyatanya sosok Quenby Agatha yang datang padanya dengan suka rela telah menjadi penyelamat untuk hidup Jonas yang sudah sekarat.
Sial!
Mengingat nama wanita itu, Jonas langsung melihat jam tangannya. Dia berjanji pulang sore pada istrinya, akan tetapi hingga pukul 9 malam dia masih duduk meratapi perkataan Briana dan malah melupakan sang istri yang pasti sedang menunggunya karena Jonas tak sempat mengabari wanita itu.
Jonas pun bergegas keluar kantor yang sudah terlihat sepi, hanya ada beberapa penjaga keamanan saja yang sengaja menunggu lelaki itu keluar dari ruangannya untuk segera menguncinya.
Dalam perjalanan pulang, Jonas berkali-kali menelpon istrinya, bahkan sampai mengirim banyak pesan teks yang jarang sekali Jonas lakukan. Namun tetap tak ada jawaban.
Apa mungkin wanita itu marah?
Tapi setahu Jonas, istrinya itu jarang sekali memperlihatkan emosinya. Raut wajah dan tatapan Quenby kadang begitu datar, bahkan terkadang senyuman wanita itu terlihat membingungkan, sehingga Jonas tidak dapat menyelami apa yang wanita itu pikirkan.
__ADS_1
Dua puluh lima menit adalah waktu tercepat yang bisa Jonas lakukan untuk bisa sampai di Unit Apartemennya. Rasa khawatir pada sang istri karena telpon dan pesannya tak terbalas, membuat Jonas cemas.
Melangkah masuk kedalam Apartemennya, yang Jonas dapati pada ruangan itu adalah senyap. Hanya terlihat sorotan berwarna emas dari lampu hias disetiap sudut ruangan itu.
Saat langkahnya membawa Jonas ke ruang tengah, ternyata sosok yang dikhawatirkannya sudah terlelap di atas sofa bed dengan posisi duduk.
Jonas menaruh tas kerjanya dengan hati-hati, kemudian lelaki itu mengambil duduk di atas lantai yang beralaskan karpet bulu empuk berwarna cream.
Dia menatap wajah Quenby yang sedang tertidur. Sorot lampu hias keemasan itu membuat Bulu mata hitam panjang dan lentik milik istrinya tercetak jelas dalam bayangan. Bibirnya yang ranum dan terbelah berwarna peach itu sedikit terbuka. Ingin sekali Jonas mengecupnya, tapi dia tidak ingin membangunkan wanita itu.
"Aku tau kamu tidak mencintai wanita itu, Jo!"
Kalimat klise yang diucapkan Briana siang tadi tak digurbris oleh Jonas.
Cinta?
Dari dulu Jonas memang tidak pernah mengungkapkan kata itu pada setiap wanita yang dipacarinya. Bahkan dengan Briana sekali pun, kata pengakuan Cinta tak pernah terlontar dari bibirnya yang dingin, sekalipun mereka sedang beradu hasrat.
...----------------...
"Sudah bangun?" Suara yang tak asing itu membuat Quenby menoleh.
"Kakak?" Dia melihat suaminya baru saja selesai mandi. Quenby membenarkan rambutnya, lalu dia bangkit dari ranjang untuk menyiapkan baju kerja lelaki itu.
Tapi saat dia berdiri, lagi-lagi denyutan dikepalanya membuat tubuh Quenby terhuyung.
"Kamu masih sakit?" tanya Jonas. Lelaki itu terlihat panik, dia membantu istrinya untuk kembali berbaring. "Istirahatlah, aku akan meminta bantuan Ibu Sara untuk menemanimu, atau kita kerumah sakit saja?" tanya Jonas.
Quenby lekas menggeleng. "Nggak usah Kak. Tidur sebentar juga nanti sembuh kok. Lagian Kakak mau ke Kantor kan? Nanti telat."
Jonas duduk disisi ranjang dekat istrinya, dia merapihkan helaian rambut Quenby yang berantakan. "Maaf, kemarin aku pulang terlambat ... dan lupa memberi kabar," ucap Jonas.
Quenby melihat kesungguhan suaminya saat berkata maaf. Lagipula Quenby juga tau bahwa Jonas sedang sibuk dengan rapat pentingnya. Sebab lelaki itu bilang kerjasama dengan investor kali ini haruslah berhasil. Maka Quenby sangat memaklumi posisinya.
Sampai pada kedatangan seseorang yang tak diundang ke unit Apartemen suaminya kemarin sore.
Dia adalah Endrew. Lelaki itu datang dengan membuka sembarang pintu Apartemen milik Jonas. Sehingga Quenby yang sedang ada di dapur benar-benar terkejut karena mengira Jonas lah yang menghampirinya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa masuk?!"
Kalimat itulah yang Quenby layangkan pada kehadiran Endrew yang tiba-tiba.
"Seharusnya kamu segera pergi setelah perbincangan kita di Coffee Shop beberpa hari lalu,"
Dari awal Endrew memang tak pernah menghargai keberadaan Quenby. Didepan Jonas saja lelaki itu berani menghardik dan menyudutkannya. Apalagi sekarang disaat Jonas masih berada di Kantornya, dan kondisi Apartemen itu hanya menyisakan Quenby seorang. Tentulah Endrew semakin lancang.
"Aku akan benar-benar pergi jika Kak Jonas atau Mom Luisa yang memintaku, bukan dari mulutmu!"
Quenby membalas dengan tenang ucapan sarkas yang Endrew lontarkan. Bahkan wanita itu tak pernah menganggap serius perkataan Endrew padanya. Bagi Quenby, Endrew hanyalah segelintir parasit yang harus dicabut sampai akarnya.
"Kamu benar-benar perempuan tidak tau diri. Sudah jelas kehadiranmu hanya untuk dimanfaatkan, tetapi masih saja bertahan dan menganggap keberadaanmu begitu penting. Tapi aku tidak yakin pada keangkuhanmu setelah kamu mendengarkan rekaman ini!"
Setelah Endrew mengatakan itu, dia langsung menekan tombol 'play' pada ponselnya dan menaruhnya dihadapan Quenby.
["Ceraikan dia setelah wanita itu hamil dan melahirkan, berilah kompensasi yang lebih besar dari yang pernah kau janjikan padanya. Kemudian kita akan mengurus anak itu bersama. Bukankah ini rencana yang sempurna?"]
Quenby masih menyimak rekaman suara itu. Sebuah suara asing dari seorang wanita yang terdengar begitu riang.
Dan siapa yang sedang wanita itu bicarakan?
["Beri aku waktu, tidak mudah membuat segalanya terlihat natural, aku tidak ingin menyakitinya,"]
Quenby menelan salivanya dengan susah payah agar melewati kerongkongannya. Suara yang baru saja terdengar adalah suara Jonas. Quenby hapal betul bagaimana intonasi pria itu saat berbicara datar.
Tapi siapa wanita yang jadi lawan bicara suaminya?
"Quenby ..."
Suara Jonas disertai elusan pada dahi wanita itu membuat Quenby terkesiap dari lamunannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" elusan Jonas kembali mendarat dikening istrinya yang terlihat sedang berpikir.
"Qeunby ingin bertemu dengan Mommy, Kak,"
TBC
__ADS_1