
Jonas duduk gelisah di ruang keluarga sambil menunggu kedatangan Ibunya. Sudah dari semalam tingkah Penerus dari Bisnis Bawera itu terlihat kacau balau. Bahkan kemeja yang dikenakannya saja belum diganti. Sudah dipastikan lelaki itu tidak sempat mandi.
Terdengar suara sendal yang terketuk beradu dengan lantai marmer. Jonas langsung berdiri dan melihat kedatangan sang Ibu yang sedang menuruni tangga dan berjalan santai ke arahnya.
"Kamu tuh ya, nggak sabaran!" bentak Luisa yang melihat putranya hendak protes.
Sedari malam anak lelakinya itu menghubungi Luisa berkali-kali. Meminta penjelasan tentang keberadaan istrinya yang tidak ada di Kediaman sang Tante. Dan sebab itulah Luisa kembali lebih cepat ditengah kesibukan menemani suaminya dalam melakukan negoisasi. Padahal harusnya Luisa kembali pulang dua hari lagi.
Sungguh minggu-minggu yang melelahkan bagi wanita paruh baya itu. Berkat ulah putranya, Luisa harus bolak-balik Surabaya - Jakarta dalam sepekan ini. Beruntung tipe akomodasi yang dia gunakan adalah yang terbaik, sehingga rasa letih tidak begitu terasa.
"Kasih tahu Jonas dimana keberadaan Qeunby, Mom?" todong Jonas dengan wajah pucat pasi.
Luisa menghela napas perlahan. Sungguh geram dia dengan lambatnya sikap Jonas dalam menyelesaikan masalah. Padahal anak lelaki satu-satunya itu cukup cekatan dalam menangani urusan pekerjaan. Tapi mengapa jika menyangkut masalah pribadi, anak itu sulit peka sekali. Pikir Luisa.
"Kemana aja sih Kamu? Kok baru tanya sekarang?" tanya sang Ibu dengan sarkastik.
Jonas menatap sendu wajah wanita yang telah melahirkannya. Walau terlihat gurat kecewa di wajah keriput Ibunya, akan tetapi Jonas tahu bahwa wanita itu akan selalu mendukung dirinya.
"Banyak yang harus Jo selesaikan, Mom. Tidak bisa ditunda terlalu lama," sahut Jonas dengan wajah lelah.
Selama dua hari ini Jonas belum lagi melakukan aksi mengendap-endap menemui istrinya di tengah malam.
Setelah menyelesaikan masalalunya dan menutup seluruh akses komunikasinya dari Endrew serta Briana, Jonas langsung disibukkan oleh banyak rencana, salahsatunya menyewa pekerja untuk merombak dan membersihkan semua jejak masalalu pada kamar dilantai dasar Unit Apartemennya.
Pria itu juga sedang bekerja keras mengambil kepercayaan Heru Wijaya agar bersedia menjadi Investor utama dalam proyek yang sedang direncanakannya.
"Minimal kamu itu bicara dulu sama Quenby, Jo. Bilang kèk 'tunggu aku, kalau semua udah selesai baru kita bicara' atau perkataan apalah yang bisa bikin hati istri kamu itu tenang. Bukan ditinggalin gitu aja! Mana istrimu tau kalau kamu lagi menyelesaikan semuanya?! Perempuan itu butuh kepastian, Jonas! Walau ujung-ujungnya cuma dikecewakan!" Luisa berbicara dengan menggebu-gebu.
Melihat Ibunya menggeram saat berbicara, Jonas merasa dia yang menjadi menantunya disini.
"Jonas nggak ninggalin Quenby gitu aja kok, Mom. Jonas sadar bahwa sikap Jonas sudah bikin kecewa banyak orang. Tapi sebelum Jo memutuskan bicara sama Quenby, Jonas perlu menyiapkan semuanya, Mom. Biar nanti langsung selesai tanpa ada pertanyaan lagi--"
Luisa berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Kamu itu kok ya kaku banget sih Jo! Mau bicara sama istri aja harus nyiapin semuanya, kaya mau presentasi sama Klien aja! Terus apa kamu bilang? Biar nanti langsung selesai tanpa ada pertanyaan lain? ... Pantas saja istri kamu kabur. Karena kamu terlalu lelet dan banyak perencanaan!" cibir Luisa.
__ADS_1
Wanita yang masih aktif bekerja diusia paruh baya itu benar-benar tidak habis pikir dengan jalan penyelesaian putranya. Menyelesaikan masalah dengan istrinya saja sudah seperti perjanjian bisnis. Mana ada wanita yang tahan.
Melihat putranya diam tertunduk membuat Luisa tak tega. Ditambah dengan raut putus asa yang terpampang di wajah putra kebanggaannya. Jonas memang masih harus banyak belajar menyikapi masalah dengan istrinya. Terutama dalam hal komunikasi.
"Jo ...." Jonas yang mendengar namanya disebut dengan lembut oleh sang Ibu langsung mencurahkan atensinya. "Sebelum kamu menemui istrimu dan meluruskan semuanya. Coba kamu pikirkan lagi alasan kamu menikahinya. "
...----------------...
Sudah 3 hari Qeunby menempati rumah yang diberikan Ibu Mertuanya. Hunian sederhana yang begitu asri di kawasan Puncak - Bogor membuat Quenby betah tinggal disana.
Beberapa hari ini dia banyak merenung. Percakapan terakhir dengan sang suami menyebabkan dirinya berkata frontal. Padahal selama ini Quenby bukanlah orang yang dengan mudah memakan omongan orang lain begitu saja.
Perihal masalalu sang suami yang kembali hadir diantara mereka pun bukan sesuatu yang direncanakan. Harusnya begitu 'kan?
Atau ...
Jika memang dari awal Jonas memiliki niat untuk menikahi kekasihnya itu, mengapa dengan beraninya Jonas malah memilih Quenby yang notabene hanyalah kenalan lama yang sebatas mantan adik kelas untuk dia nikahi.
Kecuali ...
Benar. Mengingat perkataan perempuan bernama Briana itu ingin mengambil anaknya, Quenby seolah dipaksa untuk membuat benteng dari rencana keji mereka. Ya, suaminya dan wanita bernama Briana pasti punya alasan mengenai hal itu.
"Nyonya Quenby...,"
Suara Ibu Sara yang memanggil namanya membuat Quenby sadar dari lamunannya. Dia pun menoleh ke arah wanita yang memilih tinggal untuk menemaninya di rumah itu.
Dia merasa beruntung bahwa Ibu Sara bisa tinggal bersamanya. Walaupun sempat kecewa dengan wanita itu karena sudah terpancing oleh Dokter Dion untuk memberitahukan kehamilannya, akan tetapi Quenby mengerti alasan wanita itu mengatakannya. Lagipula Ibu Sara adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara.
"Ada apa, Bu ...?" tanya Quenby saat melihat ekspresi kalut di wajah wanita itu.
"A-anu, Nyonya, di bawah ada ... tamu," beritahu Ibu Sara. Wanita itu terlihat kikuk kali ini.
Tamu?
__ADS_1
Quenby belum pernah keluar semenjak dia sampai dirumah itu beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin kenalan dari Ibu Mertuanya kan. Karena yang Qeunby tau, rumah itu sudah lama tidak ditempati. Saat pertama kali datang saja yang dia temui hanya penjaga rumah dan sepasang suami istri yang bertugas membersihkan rumah itu.
"Siapa, Bu? Cari saya?" tanya Quenby penasaran.
Ibu Sara mengangguk ragu. "Iya, Nyonya," sahutnya.
"Laki-laki, apa, perempuan?" Kali ini Quenby mencoba menelisik.
"L-lelaki, Nyonya."
Qeunby memasang ekspresi takut diwajahnya. Tamu asing, datang malam-malam, dan terlebih adalah seorang lelaki. Alibi Quenby tidak bekerja dengan baik belakangan ini. Dia takut jika yang datang adalah orang jahat yang ingin menyakitinya.
Mengenyahkan segala prasangka, Quenby pun kembali bertanya, "Ada, Mang Engkus nggak dibawah?"
Kusnandar atau yang biasa di panggil Mang Engkus adalah lelaki seusia Ibu Sara yang dipercaya menjaga rumah itu. Lelaki itu punya sertifikasi keahlian beladiri silat dan juga lulus uji sebagai Penjaga keamanan terbaik. Luisa sudah mempekerjakan lelaki itu selama 3 tahun.
Seolah mengerti perasaan khawatir yang dirasakan majikannya, Sara pun mencoba meyakinkan. "Tenang Nyonya, tamu nya bukan orang aneh-aneh. Dia sudah sangat akrab dengan keluarga Sagala." beritahunya.
Quenby mengembuskan napas lega. Setidaknya perkataan Sara membuat Quenby tidak over thinking.
Berjalan mendahului Sara, Quenby masih menerka-nerka siapa tamu yang akrab dengan keluarga dari suaminya. Laki-laki pula. Untung di rumah itu bukan hanya ada dirinya saja. Jadi Quenby tidak takut. Tapi waspada tetap harus dilakukan.
Menuruni tangga dan berjalan menelusuri ruangan tamu berada, Quenby melihat sosok lelaki dengan punggung lebar serta kedua tangan yang diselipkan di saku kanan-kirinya sedang berdiri menatap ke arah luar.
Dari garis tubuhnya Qeunby merasa tidak asing. Tapi melihat tatanan rambutnya yang terlihat pendek dan tipis dibagian belakang rasanya tidak mungkin orang itu.
Tapi ...
Aroma khas yang Quenby kenali, memenuhi se-isi ruangan tamu disana. Sehingga membuat Quenby sesak dan tiba-tiba saja perutnya bergejolak. Wanita itu mual dengan baunya.
Sambil menahan napas, Quenby pun bertanya, "A-anda cari saya?"
Sepersekian detik pertanyaan itu dilontarkan, lelaki berpunggung lebar dengan kemeja hitam itu pun menoleh dan membalikkan tubuhnya menghadap Quenby.
__ADS_1
"Hai, My Wife?"
TBC