
Jonas sedang menatap pantulan dirinya didepan cermin sambil memakai dasinya. Sudah dua hari ini istrinya itu tidak membantu Jonas berpakaian. Bahkan saat malam hari, Qeunby selalu tidur lebih dulu tanpa memeluk dirinya. Namun begitu, sang istri tidak lalai dalam menyiapkan kebutuhan Jonas seperti baju kerja dan kebutuhan makannya.
"Qeunby hanya merasa terancam."
Kalimat penuh ketakutan yang dikatakan istrinya dengan wajah datar itu kembali terngiang ditelinga Jonas.
Alasan apa yang membuat wanita itu merasa terancam?
Jika dikarenakan oleh kehadiran Briana waktu itu, harusnya bukan persoalan. Sebab Jonas juga mengenalkan Qeunby sebagai istrinya didepan Briana. Dan Jonas juga hanya mengatakan pada istrinya bahwa dirinya dan Briana hanya sebatas teman satu Kampus.
Jonas terdiam sesaat, dia kembali mengingat reaksi ketus Quenby yang tidak menanggapi jabatan tangan Briana saat wanita itu memperkenalkan dirinya. Dan reaksi itu adalah hal yang baru Jonas lihat selama dia mengenal Qeunby. Padahal sang Istri baru kali pertama itu bertemu dengan Briana.
Setelah memakai Jas-nya, Jonas bergegas keluar dari ruang ganti. Kini dia mengambil sepatu kets yang sudah disiapkan Quenby. Walau akan terlihat aneh, namun Jonas tetap memakainya. Dia melakukan itu hanya untuk menyenangkan hati istrinya.
Dahi Jonas mengernyit saat pandangannya tertuju pada sebuah kertas berukuran kecil yang ada di bawah kaki meja. Perlahan Jonas meraihnya, lalu membacanya.
"Dokter Ryan Surya Pratama SpA? Siapa dia?"
Merasa bahwa itu bukanlah kenalannya, maka insting Jonas mengarah pada sang istri, karena hanya mereka berdua yang menempati kamar itu.
Tapi untuk apa Qeunby menyimpan kartu nama seorang dokter?
Terlebih dokter itu adalah seorang Spesialis anak.
Jika sang istri butuh dokter, tentu Dion adalah rekomendasi terbaik bagi keluarga Sagala.
Dengan rasa penasarannya, Jonas langsung turun ke lantai bawah dimana istrinya berada.
"... dokter Dion, sudah tau, Nyonya,"
Sayup-sayup terdengar suara Perawat yang dia pekerjakan sedang berbicara dengan sang istri.
Tak mau banyak menduga akhirnya Jonas mendatangi keduanya yang terlihat terkejut melihat kedatangan dirinya.
__ADS_1
...----------------...
"Kenapa kamu menangis?" tanya Jonas saat melihat mata istrinya berkaca-kaca. Bahkan satu bulir air mata yang belum pernah Jonas lihat sebelumnya menetes begitu saja. Padahal belum berbicara ke intinya.
"Sikap, Kakak, aneh," kata Quenby.
Terang saja Quenby mengatakan itu, bagaimana tidak aneh saat Ibu Sara baru saja datang tapi sudah disuruh pulang. Belum lagi jawaban lelaki itu yang tidak jadi bekerja padahal sudah rapi dengan setelannya. Terutama cara Jonas menatap dan berbicara padanya seperti sekarang, semua terasa asing.
Dalam keheningan kamar mereka, Jonas masih menatap lekat kedua netra madu istrinya yang berkaca-kaca. "Kamu habis menemui seseorang akhir-akhir ini?" tanya Jonas.
Jantung Quenby berdegub tak karuan, apakah dia sudah ketahuan bertemu dokter Monic. Terlebih pembicaraan di dapur tadi dengan Ibu Sara, jangan-jangan Jonas mendengarnya.
Melihat istrinya bergeming tanpa kata, lantas Jonas menyodorkan apa yang tadi dia temukan kehadapan Qeunby. "Siapa orang ini?" tanya Jonas.
Perhatian Quenby teralih pada sepotong kertas berwarna putih yang masih terhimpit diantara jemari suaminya. Quenby pun meraihnya, sekilas dia membaca deretan kata yang tercetak jelas disana dan sedetik kemudian wanita itu terkejut, bagaimana bisa kartu nama Ryan ada ditangan suaminya.
Jonas mengangkat kedua alisnya saat tatapan mereka beradu. "Bisa kamu jelaskan darimana kamu mendapatkan kartu nama dokter itu?" tanya Jonas.
Qeunby menelan saliva, dia bersyukur karena praduganya tidak terjadi.
Kedua mata Jonas memicing. "Kamu ... enggak lagi membalasku 'kan?" tuduh Jonas.
'Ngomong apa sih dia? Dari tadi kok nggak jelas!' rutuk Qeunby dalam hati pada sikap suaminya yang semakin menyebalkan.
"Mambalas apa sih, Kak?" tanya Qeunby dengan malas.
"Kamu memiliki hubungan apa dengan dokter itu sampai dia berani memberikanmu kartu nama?"
Quenby membuang napasnya kesal. "Kalaupun ada, itu sudah menjadi masalalu, Kak. Mas Ryan juga pasti hanya basa-basi," ungkap Qeunby.
Mendengar yang dikatakan Istrinya, sekarang Jonas mengerti. Terlebih sebutan 'Mas' yang terdengar memiliki makna berarti bagi wanita didepannya ini.
"Lain kali tolak saja jika ada lelaki yang memberikanmu kartu nama. Itu tandanya dia ingin menjalin hubungan denganmu. Kamu wanita yang sudah menikah, Qeun. Tolong jaga nama baik Keluargaku." Jonas berjalan melewati Qeunby begitu saja.
__ADS_1
Quenby masih terpaku ditempatnya. Dia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
Beberapa hari ini Quenby menahan untuk tidak mengatakan apapun tentang apa yang sudah dia ketahui. Qeunby melakukan itu karena dia merasa bahwa posisinya masih tidak aman. Namun perkataan suaminya barusan seakan menyulut emosi Quenby yang tertahan.
"Bukankah kalimat itu lebih cocok ditunjukkan untuk Kamu sendiri?!"
Perkataan Quenby membuat langkah Jonas terhenti diujung pintu. Terlebih bahasa Qeunby yang tidak lagi memanggilnya 'Kakak'. Perlahan Jonas membalikkan tubuhnya, dan dia melihat sosok istrinya tengah menatap nyalang ke arahnya.
"Apa maksud kamu?" Jonas benar-benar tidak suka dengan sikap kurang ajar yang ditunjukkan wanita itu.
"Kamu pikir aku perempuan bodoh, ya? Aku sudah tau apa yang kamu dan kekasihmu rencanakan!" tukas Quenby. Ada rasa takut yang menyelimuti dirinya saat kalimat itu terlontar lancang dari bibirnya. Qeunby baru sadar bahwa dia seberani ini.
Jonas memangkas jarak dengan tetap memaku netra Quenby yang terlihat berbeda memandangnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Jonas dengan tatapan tak suka.
Qeunby menelan salivanya dengan susah payah melewati tenggorokannya. Diapun membasahi bibirnya yang kering. "Kalau kamu mau ceraikan aku ... silahkan!" desis Qeunby penuh dengan penuh penekanan.
"Kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan?!" Jonas terlihat geram dengan keberanian Quenby.
Qeunby berdecih. "Bukan aku yang mulai duluan. Tapi kamu! Kamu yang mengatakan akan menceraikan aku!" pekik Qeunby meluap-luap.
"Dari mana kamu mendengar omong kosong itu? Siapa yang berani memprovokasimu?" tanya Jonas dilanda panik bukan kepalang.
"Enggak penting siapa yang udah kasih tau aku! Tapi yang jelas, niat kamu dan wanita itu sangat tidak berperasaan, Kak! Kalau kamu mau kembali sama perempuan itu silahkan! Tapi jangan mengemis anak dari Quenby! Karena selamanya Quenby gak sudi memberikan anak Quenby pada orang-orang seperti kalian!" Tenggorokan Quenby sakit saat mengatakan itu. Sebab dia sedang menahan tangisannya agar tidak keluar.
Raut wajah Jonas seketika menjadi pias. "Kamu salah paham, Qeun ...," Jonas melembutkan suaranya.
Quenby menggeleng lemah. "Qeunby bukan perempuan bodoh, Kak! Kakak bahkan masih menyimpan kenangan Kakak sama Briana di tempat ini! Quenby sudah tau semuanya! Jadi ... bagian mana yang menurut Kakak adalah salah paham? Bagian mana, Kak? ... Apakah bagian saat Briana mengatakan bahwa dia akan merebut Kakak kembali? Atau bagian Endrew yang mengatakan bahwa Briana masih terpatri dihati Kakak dan juga ditempat terkutuk ini? Atau ... Bagian dimana rekaman sialan itu yang mengatakan bahwa kalian akan mengambil anak Qeunby dan menukarnya dengan sejumlah kompensasi?!" Quenby terlihat frontal. wanita yang tengah hamil muda dengan emosi yang tertahan itu kini memutuskan mengatakan semuanya.
"Quenby ... ini nggak seperti--"
"Maaf Kak Jonas. Qeunby tidak tertarik untuk hidup dengan lelaki yang masih belum menyelesaikan masalalunya." Tepat kalimat itu terucap, Qeunby langsung pergi tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi dari mulut lelaki itu.
__ADS_1
Selesai sudah, pikir Qeunby. Dia tidak peduli lagi dengan nasibnya setelah ini.
TBC