Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
Takdir Macam Apa?


__ADS_3

Suara musik yang menghentak keras tidak serta merta menutupi berbagai suara erotis di dalam kamar mewah di sebuah Villa pribadi yang ada di kawasan Puncak.


Suara-suara sensual itu berhasil menarik perhatian seorang lelaki yang masih duduk dengan tenang melihat secara live perbuatan gila didepan matanya.


Pertunjukkan itu hanya ditatap datar oleh pria yang duduk seorang diri di sofa single. Tanpa ekspresi dan tanpa reaksi. Apalagi ereksi.


"Tuan Sagala, anda tidak mau mencobanya bersama kami?"


Suara lembut penuh rayuan sengaja diucapkan oleh wanita yang memakai topeng setengah wajah yang hanya memperlihatkan kedua matanya saja, tapi tidak dengan tubuh sintalnya yang terekspos hampir sepenuhnya.


"Lihatlah lebih dekat, Tuan Sagala. Aku pastikan milikmu akan mendapatkan kenikmatan dari sini" Wanita tadi kembali berbicara sambil menunjukan sesuatu yang seharusnya tidak diumbar murah.


Akan tetapi pria yang masih betah duduk dengan pakaian lengkapnya tidak terpancing sama sekali. Padahal suasana di kamar itu sudah tak karuan. Akan tetapi tak juga membuat hasrat lelaki itu menggebu.


Dia adalah Jonas Hermawan Sagala. Pria berusia 31 tahun dengan wajah tampan menawan. Keturunan darah campuran dan anak lelaki satu-satunya dari pasangan pengusaha tambang dan properti yang namanya sudah dikenal di kancah Asia. Namun sayang, beberapa tahun ini penerus kerajaan bisnis dari keturunan pasangan Sagala itu memiliki rumor negatif. Bahwa pria itu IM.PO.TEN dan memiliki kelainan seksual.


"Sial!"


Jonas bangkit dari duduknya dengan perasaan kesal. Dia keluar dari kamar panas dimana aksi asusila itu masih berlangsung. Sudah cukup, pikirnya. Percuma mengikuti ide gila Endrew yang katanya bisa membantu dirinya untuk bisa turn on. Nyatanya, junior miliknya masih bergeming dan seperti mati rasa.


Apakah ini karma?


...----------------...


Dimalam yang sama. Disebuah Rumah mewah yang terletak di Jantung Kota, tepatnya dikawasan cluster Elit dengan pengamanan lumayan ketat. Terdengar suara raungan kesakitan dari sudut kamar kosong yang lebih mirip disebut gudang.


Seorang wanita tergeletak tak berdaya dilantai marmer yang dingin dengan sudut bibir lebam serta darah segar yang tercetak jelas di wajah sendunya.


Setelah pulang dari acara reuni yang kelewat malam. Sang Ibu membantai habis tubuh dan wajah anaknya itu sampai babak belur.


"Mau belajar jadi Jal*ng, hah?!"


Wanita paruh baya yang bergelar Ibu itu kembali mendekat, dan kali ini menarik paksa rambut panjang hitam anak perempuannya sekuat tenaga sampai kepalanya mendongak. Bahkan beberapa helai rambut panjang itu terlepas paksa dari kulit kepalanya.

__ADS_1


"Sekali lagi berani pulang larut! kupatahkan kakimu menggunakan golok!" ancamnya lagi. Dan setelah itu dia hempaskan kepala anaknya sampai membentur lantai.


Anak itu adalah Quenby Agatha. Wanita berusia 29 tahun yang kesehariannya membantu usaha sang Ibu menjaga salah satu butiknya. Anak perempuan kedua dari tiga bersaudara yang diperlakukan berbeda.


Entah apa yang merasuki jiwa sang Ibu, sehingga tega berbuat kekerasan pada anaknya sendiri. Dan yang membuat Quen tak terima, bahwa perlakuan kasar itu hanya dilakukan padanya saja.


Dia pernah ingin kabur dari rumah mewah yang lebih mirip disebut penjara. Bahkan mungkin penjara masih lebih baik menurut Quenby. Tapi sayang, niat melarikan diri itu terganjal karena dia tak memiliki tabungan.


Berbeda dengan dua saudara lainnya yang selalu mendapat transferan dengan nominal fantastis dari sang Ibu tiap bulan. Bahkan sang Kakak yang sudah menikah dan memiliki suami pun masih mendapat transferan rutin di tiap bulannya. Padahal hanya Quenby yang bekerja keras. Ironisnya, malah hanya dia yang tak mendapat imbalan sepeserpun dari hasil kerja kerasnya.


Dalam gelapnya ruangan yang dipenuhi debu itu, Quen terisak. Dia menangis dalam diam. Rasa sakit ditubuhnya tidaklah seberapa dibanding perlakuan berat sebelah sang Ibu dalam memperlakukannya. Bahkan itu sudah terjadi saat dia masih kecil.


"Papa ..., Quenby kangen" ucapnya sesenggukan menahan perih.


...----------------...


Beberapa hari setelah kejadian dimana sang Ibu memukulinya. Pagi ini Quenby kembali bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya.


"Mau ke Butik dengan wajah lebam seperti itu?!" tegur sang Ibu saat melihat putrinya hendak masuk kedalam mobil.


"Sudah dua hari Quen tidak ke Butik, Ma. Hari ini ada jadwal dengan Klien, Kami butuh bertemu langsung untuk membicarakan desain yang mereka ajukan" jelas wanita itu. Jadwal bertemu Klien hari ini memang tidak bisa diwakilkan.


"Terus nanti kalau orang-orang disana pada tanya kenapa dengan wajah kamu? kamu akan nuduh Mama? Begitu?!" urat saraf pada leher sang Ibu terlihat menonjol saat mengatakannya.


Ya, seandainya saja bisa, Quenby mungkin akan lebih memilih untuk melapor ke kantor polisi saja atas semua tindakan kasar Mamanya.


"Nanti Quen tambahkan cushion agar lebamnya tertutupi. Sudah ya Mah, takut telat, tidak enak kalau sampai Klien yang menunggu" Setelah itu Quenby masuk ke mobilnya dan berlalu meninggalkan sang Ibu yang masih memasang wajah sangar.


Diperjalanan menuju Butik yang berada di kawasan Darmawangsa. Tepatnya di dalam mobil Sedan yang dikendarai oleh Quenby sendiri, wanita itu melirik pada kaca spion tengah yang tergantung untuk melihat kondisi wajahnya yang masih meninggalkan memar.


"Selalu aja gitu, tidak mau disalahkan!" gerutu Quenby pada sikap Ibunya yang dinilai aneh. Harusnya sang Ibu mengikatnya di gudang saja sampai bekas lebam itu hilang. Jadi tidak perlu khawatir dicurigai orang.


Tiba-tiba lampu merah menghentikan laju kendaraan Quenby yang memang tidak cepat. Karena kondisi lalu lintas di Jakarta selalu padat merayap. Padahal sudah jam 9 pagi. Waktu yang seharusnya dimana kendaraan mulai menipis, tapi tetap saja padat merayap.

__ADS_1


Kedua netra madu wanita itu menangkap sebuah kartu nama yang tergeletak di dashboard mobilnya. Dia sampai melupakan niatnya untuk menghubungi orang yang telah memberikan kartu itu padanya.


Jemari lentik Quenby terulur untuk meraih kartu nama berwarna hitam itu. Dia membaca tulisan yang diukir dengan warna silver yang tertera disana. "Jonas Hermawan Sagala, Direktur Utama PT Bawera Sagala." Wanita itu tersenyum penuh makna.


Sudah dua hari sejak janjinya ingin menghubungi mantan Kakak kelasnya. Namun belum juga dia lakukan. Dia tidak mungkin bertemu dengan Jonas dalam kondisi wajahnya yang babak belur kan? Apa kata pria itu nanti?


Dengan mantap akhirnya Quenby mengambil ponselnya dan memasukan nama Jonas ke dalam kontak. Namun setelah tersemat nomor ponsel sang mantan kakak kelasnya, Quenby terkikik geli. Dia mentertawakan dirinya sendiri yang dengan lancang menuliskan nama sang mantan Kakak kelasnya dengan sebutan itu di kontak telponnya.


To My Jonas


[Hai, Kak Jonas ...]


Pesan pun terkirim.


Quenby mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada gagang setir. Dia benar-benar berharap lelaki itu segera membalas pesannya.


Ting!


Dengan segera dia melihat notifikasi disana. Akhirnya kecemasan yang Quenby rasakan luruh seiring sebuah pesan dari 'My Jonas' yang tersemat pada ponselnya. Dia menunggu beberapa saat untuk membuka pesan itu. Quenby tidak ingin lelaki itu beranggapan bahwa dirinya memang sedang menunggu balasan.


Setelah hampir 25 detik, Qeunby akhirnya memberanikan diri mengetuk ruang percakapan dan mulai membacanya.


From My Jonas


[Kamu Quen?]


Quenby tersenyum membaca itu. Dia tidak menyangka ternyata pria yang pernah menjadi Kakak kelasnya bisa menebak bahwa dirinyalah yang mengirim pesan. Padahal Qeunby tidak menyebutkan identitasnya saat mengirim pesan pada lelaki itu barusan.


Bolehkah Quenby berasumsi bahwa lelaki itu masih menganggapnya sebagai orang yang spesial?


Entahlah. Quenby akan kembali mencoba peruntungannya. Kali ini dia akan mencoba mengikat sang mantan Kakak kelas untuk masuk dalam hidupnya agar dapat menarik keluar Qeunby dari neraka yang dibuat sang Mama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2