
Sudah sepekan Quenby menjalani rutinitasnya sebagai Istri Jonas di Unit Apartemen mewah milik pria itu. Tak banyak kegiatan yang dia lakukan. Atau lebih tepatnya Quenby masih menikmati perannya menjadi Istri full time seperti saran Luisa--Mertuanya.
Siang ini wanita yang menggunakan midi dress berbahan sifon yang didominasi warna moca itu berjalan masuk melewati loby perusahaan suaminya.
Tidak perlu lagi dia bertanya pada meja resepsionis, karena semua orang disana sudah tau siapa dirinya. Bahkan tak sedikit yang menyapa hormat wanita berkulit sawo matang itu saat berada dalam satu lift.
Ting!
Pintu lift terbuka, hal pertama yang Quenby lihat adalah wajah lelaki blesteran yang selama ini menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan pada wanita itu.
Tak ada sapaan secara verbal, hanya lirikan datar yang Qeunby terima dari sosok lelaki bernama Endrew. Quenby pun melakukan hal yang sama. Masa bodo pikirnya.
"Bisa kita bicara?"
Saat langkah kaki Quenby sudah menjejak beberapa langkah tiba-tiba saja lelaki itu berbicara. Quenby tahu, kalimat itu ditunjukkan untuk dirinya. Namun seolah tak peduli, Quenby melanjutkan langkahnya. Songong sekali pria itu, berbicara pada Quenby tanpa embel-embel namanya.
"Nona Qeunby,"
Kali ini Quenby menghentikan langkahnya mendengar lelaki itu menyematkan namanya dengan sebutan 'Nona' bukan lagi 'Nyonya' seperti yang pernah pria itu ucapkan secara sarkas.
Perlahan Quenby menoleh pada sosok pria yang wajahnya semakin tidak enak di pandang.
"Ya?" Bukan sahutan, lebih tepatnya sebuah tanya yang wanita itu suarakan.
Pria itu terlihat berdecih. "Bisa luangkan waktu hari ini?" tanya Endrew.
Qeunby tak menjawab, dia mengangkat rantang makanan di tangan kanannya. "Saya mau mengantarkan makan siang untuk suami saya," tukasnya.
Endrew mengangguk. "Tidak lama saya meminta waktumu. Setelah mengantarkan itu, temui saya di seberang Coffee Shop depan kantor." Kalimat yang terdengar memerintah itu membuat Quenby kesal. Siapa lelaki itu bisa seenaknya memerintah Quenby. Wanita itu semakin geram saja.
"Apa yang ingin saya bicarakan, ada kaitannya dengan Jonas," ungkap Endrew lagi agar wanita itu mau mempertimbangkan ajakannya.
__ADS_1
Quenby mengangguk. "Baiklah." Dia juga penasaran dengan apa yang ingin dikatakan lelaki itu.
Setelah mendengar jawaban Quenby, Endrew melanjutkan langkahnya memasuki lift. Begitu juga dengan Quenby, dia kembali melanjutkan niatnya untuk memberikan bekal makan siang buatannya kepada sang suami.
"Suami saya ada?" tanya Quenby pada Karin--Sekretaris dari suaminya, saat dia sudah sampai didepan meja wanita itu.
Wanita dengan pakaian kerja cukup sopan itu tersenyum mengangguk. "Ada, Bu. Silahkan," Karin membukakan pintu ruangan Jonas. Quenby pun masuk setelah berujar terimakasih pada wanita berkaca mata yang baru saja mempersilahkannya
"Hai, Kak," Quenby berjalan ke arah Jonas yang sedang senyum menyambutnya.
"Padahal kamu nggak usah repot-repot," Jonas berjalan ke arah Quenby yang sedang membuka rantang makanan.
Quenby menggeleng mendengar ucapan suaminya itu. "Quenby nggak ngerasa repot kok, Kak."
Benar yang dikatakan Quenby, wanita itu sama sekali tidak pernah merasa direpotkan jika menyangkut kebutuhan suaminya. Bahkan saat dia menggantikan wanita bayaran untuk men-servis suaminya saja Qeunby tidak banyak bertanya apalagi marah. Ya, walau ada rasa kecewa yang dia rasakan, tapi Quenby dengan baik menutupinya.
"Kakak habis bertemu Endrew?"
"Iya. Di dekat pintu lift," Sebenarnya Quenby ingin bertanya tentang Endrew, mengapa lelaki yang terlihat dekat dengan suaminya itu sering sekali ada di ruangan Jonas. Tapi Quenby belum seberani itu untuk banyak tahu.
Setelah menemani Jonas makan siang, akhirnya Qeunby pun pamit pulang. Dia tidak benar-benar pulang, karena sesuai janjinya, wanita itu akan bertemu dengan Endrew yang akan membahas perihal Jonas. Quenby penasaran.
Dan disinilah mereka. Di sebuah Coffee Shop terkenal yang letaknya tidak jauh dari kantor Jonas berada.
"Kamu benar-benar mengerjai saya dengan makan siang selama itu! Gila aja! 1 jam saya harus menunggu! " Endrew menampakkan wajah tak sukanya pada Quenby secara terang-terangan.
Lagi pula siapa yang menyuruhnya untuk menunggu sepasang pengantin baru yang sedang makan siang bersama.
Quenby sengaja mengehela napas berat untuk menunjukan rasa tidak sukanya dengan kalimat yang keluar dari mulut lelaki yang terlihat suka bersolek itu.
Lihat saja penampilan Endrew. Walau pakaian yang dikenakan lelaki itu cukup terkesan manly, tapi lihatlah wajah glowing-nya yang menyilaukan. Belum lagi bibir pria itu yang Quenby yakini dipoles oleh lip balm, sangat kentara. Dan parfum manis yang menguar dari tubuh tinggi tegapnya beraroma khas wanita. Sangat kemayu.
__ADS_1
"Saya bukan kurir makanan yang setelah mengantarkan pesanan langsung pulang. Saya menemani suami saya sampai makan siang yang saya buat untuk suami saya benar-benar habis," jelas Quenby setengah menahan kesal. dia sengaja memperbanyak kata 'suami saya' pada kalimatnya.
"Kamu jangan terlalu mendalami peran. Saya sudah tau drama dibalik pernikahan kalian," Endrew berkata tenang. Lebih tepatnya meremehkan.
Quenby tersenyum, dia mencoba tetap tenang. Menghadapi tipe lelaki lemes seperti Endrew butuh muka dua di tambah muka tembok.
"Kak jonas juga tidak pernah menutupi apapun, saya juga tau kalau Kak Jonas memberitahu alasan kami menikah pada Anda. Lantas apa masalahnya?" tantang Qeunby.
"Wow! Ternyata kamu bukan sosok lugu yang sering Jonas ceritakan. Kamu terlihat memiliki rencana lain." Endrew tidak menyangka bicara dengan wanita yang duduk didepannya tidak semudah yang dia bayangkan.
"Katanya anda bilang sudah tau tentang drama pernikahan yang saya dan Kak Jonas lakukan. Tapi kok ... anda malah curiga dengan rencana saya. Jadi Kak Jonas tidak sepenuhnya cerita?" Quenby bertanya sarkas. Biar saja lelaki itu membencinya. Quenby tidak peduli.
Endrew tertawa sumbang melihat tingkah mantan adik kelas dari sahabatnya. Benar-benar menyebalkan. "Apa Jonas tau kelakuanmu yang menyebalkan begini?" tanyanya.
Qeunby mencondongkan tubuhnya, sehingga buah dadanya yang sintal terlihat menonjol. "Bahkan Kak Jonas sudah tau dengan baik bagian terdalam saya," bisik Quenby dengan penuh tekanan.
"Kamu--"
"Sudah! katakan saja apa tujuan anda meminta saya kesini? Jangan membuang waktu saya percuma!" sela Quenby yang sudah malas bertatap muka dengan lelaki itu.
Wajah Endrew merah padam. Belum ada satu orang wanitapun yang berani menyela kalimatnya. "Dengar! Tugasmu dalam drama pernikahan sialan ini hanya sampai kau mengandung anaknya saja. Setelah itu kau harus kembali pada kehidupan asalmu, anak haram!"
Quenby hampir bangkit dari duduknya untuk menerjang mulut kurang ajar lelaki didepannya. Bukan karena ucapan lelaki itu yang menyinggung kehamilan. Tapi mendengar sebutan 'anak haram' dari mulut lelaki itu membuat Quenby marah. Biasanya dia tidak pernah ambil pusing saat Mama tiri dan kedua saudara tirinya mengatainya 'anak haram'.
Siapa yang memberitahu kenyataan itu pada lelaki menyebalkan ini?
Apakah suaminya?
Dan tiba-tiba ...
Byur!
__ADS_1
TBC