
Suara deru mesin mobil menyelinap masuk di antara keheningan dari sepasang suami istri yang berada didalamnya. Embusan AC yang menerpa kulit mereka yang terbuka membuat suasana semakin terasa dingin.
Setelah terjadi kekacauan di acara makan malam yang rutin diadakan oleh keluarga Sagala, akhirnya Jonas membawa sang istri untuk pulang ke Apartemen mereka malam itu juga.
Jonas yang sedari tadi fokus menyetir, mencoba mencuri pandang ke arah wanita yang duduk disebelahnya yang hanya diam tak menatap dirinya apalagi bersuara untuk sekedar basa-basi.
Istrinya itu terlihat lebih betah menatap ke arah luar jendela. Jonas sadar jika banyak yang ingin ditanyakan istrinya. Namun, mengingat bagaimana watak Qeunby, pastilah wanita itu hanya menyimpan semuanya sendiri.
Keheningan itu berlangsung sampai pada kendaraan yang Jonas bawa memasuki area basemen Apartemen mereka.
Tepat di saat mesin mobil berhenti, suami istri itu pun masih terdiam. Dan tak lama, keduanya saling menoleh lalu menatap secara bersamaan. Menyadari tingkah kompak itu, mereka pun melemparkan senyum.
Jonas memutuskan pandangan pada istrinya, dia segera keluar dari pintu kemudi untuk berlari kecil menuju pintu dimana istrinya duduk. Lalu dia membukanya.
Waktu masih menunjukkan pukul 9 malam saat mereka sampai didalam kamar. Tapi rasanya tubuh keduanya sudah terasa begitu lelah, begitupun dengan isi kepala mereka yang dipenuhi banyak pikiran runyam atas kejadian di acara makan malam Keluarga.
Qeunby mendekati suaminya yang sedang membuka kancing kemejanya sendiri. Melihat hal itu tentu saja sebagai istri yang berjanji tetap melayani sang suami dalam kondisi apapun tetap mengambil alih untuk membantu membukakannya.
"Mau mandi bersama?" bisikan itu dilontarkan Jonas yang tidak pernah lepas memandang wajah istrinya. Qeunby lebih banyak diam dari biasanya.
Jonas yang melihat senyum curiga yang dipancarkan dari bibir terbelah istrinya, buru-buru mengoreksi dengan berkata, "Kali ini benar-benar hanya mandi. Tidak ada yang lain." kata lelaki itu. "Aku akan bantu mengeramasimu dan menggosok punggungmu, kamu pasti lelah membantu Mommy menyiapkan makan malam, hm?"
Melihat wajah sendu Jonas saat mengatakan itu, Qeunby tahu bahwa suaminya merasa bersalah atas kejadian di Villa tadi, wanita itu pun akhirnya mengangguk. "Kalau begitu bantu buka ini," Quenby membalikkan tubuhnya agar Jonas membantu membuka seleting belakang midi dressnya.
Suasana didalam kamar mandi terasa lebih hangat dengan kehadiran sepasang suami istri yang berendam bersama di dalam bathub berisikan air hangat. Beberapa lilin beraroma diletakkan Jonas disetiap sudut, sehingga menguarkan bau mawar kesukaan istrinya.
Jendela transparan yang sengaja tak ditutup, menampilkan gemerlap dari gedung bertingkat yang berjejer kokoh di seberang unit Apartemen mereka. Sehingga menimbulkan sensasi mewah yang menyenangkan mata.
"Maaf ...," lirih Jonas.
Pria itu berkata disela-sela menggosok punggung ringkih sang istri yang duduk didepannya sambil memeluk lutut.
__ADS_1
"Aku benar-benar menyesali ucapan Endrew yang sangat kasar padamu, aku tidak menyangka dia akan selancang itu ...," lanjut Jonas.
Sikap Endrew yang melontarkan kalimat-kalimat kasar pada wanita yang tidak tahu apa-apa membuat Jonas menyesali dirinya karena sudah pernah menceritakan pada lelaki itu tentang niatnya menikahi Quenby.
Quenby hanya mencebik dalam hati, haruskah dia katakan bahwa Endrew sudah pernah menyerangnya lebih dulu dan berakhir penyiraman air kopi diwajah cantik pria itu?
Ah! Sungguh, Qeunby bukanlah tipe pengadu.
Qeunby juga sebenarnya ingin menghajar Endrew saat lelaki itu berkali-kali berkata kurang ajar padanya. Ingin rasanya dia menyiramkan satu panci sup tomyam panas kewajah menyebalkan lelaki.
"Jangan terlalu menganggap serius pernikahan kalian! Kau hanyalah perempuan bayaran yang dimanfaatkan hanya untuk memenuhi impian oranglain!"
Kalimat itu dikatakan Endrew dengan wajah penuh kebencian. Sampai saat ini Quenby tidak mengerti mengapa Endrew membencinya sedemikian rupa.
Seandainya Jonas tidak menghantarkan bogem mentahnya ke arah bibir lelaki itu, mungkin Quenby akan tahu makna dari Kalimat yang Endrew katakan.
Benar. Setelah Endrew terkapar diatas lantai akibat pukulan telak yang dilayangkan dari tangan kekar suaminya, Endrew seketika tak sasaran diri. Kemudian Jonas langsung menarik lengan Quenby dan meninggalkan lelaki itu begitu saja.
Mendengar ucapan sang istri, Jonas langsung memeluk tubuh wanita yang duduk tepat disela-sela kakinya. Dan dia langsung menaruh kepalanya di atas pundak Quenby yang terbuka dan penuh busa.
Cup!
Sedetik kemudian Jonas mengecup leher sang istri.
"Aku memang harus meminta maaf padamu. Ada yang belum bisa kuceritakan. Tapi percayalah, Aku tidak pernah mempermainkan hubungan kita. Aku akan mengatakannya setelah semua kupastikan terlebih dulu. Tapi tidak untuk saat ini. Jadi kumohon, tunggulah sampai aku siap,"
...----------------...
Pagi ini diatas ranjang besar pada Apartemen bernuansa serba pekat itu terlihat sepasang suami istri yang masih tertidur pulas. Sosok lelaki tanpa baju dengan tangan kekar itu memeluk tubuh mungil istrinya secara posesif.
Semalam sehabis keduanya mandi bersama, mereka pun langsung tertidur tanpa melanjutkan lagi pembicaraan yang sempat terjadi didalam bathub.
__ADS_1
Drrt! Drrt!
Getaran ponsel yang terletak diatas nakas, membuat tidur nyenyak Quenby terganggu. Saat wanita itu membuka mata, ternyata ada tangan kekar suaminya yang masih memeluk tubuhnya sepanjang malam. Ini adalah hal yang sudah lama Quenby inginkan. Dan baru semalam pria itu berinisiatif untuk memeluknya lebih dulu.
Getaran ponsel kembali terdengar, tapi Quenby terlalu malas untuk meraihnya. Sudah dipastikan ponsel yang bergetar itu adalah miliknya. Sebab jika di hari minggu dan sedang bersama, ponsel milik suaminya selalu di nonaktifkan.
Quenby kembali teringat kejadian-kejadian semalam.
Diawali dari sikap ibu mertuanya yang baru dia ketahui. Ternyata wanita yang melahirkan suaminya itu memiliki sisi menyeramkan. Bahkan sikap kasar Mama tirinya tidak ada apa-apanya. Bagi Qeunby, seseorang yang menyimpan dendam dan melampiaskannya dengan cara diam-diam tentu harus lebih diwaspadai.
Sekarang bagaimana kabar Ibu mertuanya?
Selain itu, sebenarnya ada yang membuat dia lebih penasaran, yaitu sesuatu yang Quenby yakin ditutup rapat oleh keluarga Sagala. Benar. Wanita itu merasa hanya dialah yang tidak tahu apa-apa disana. Namun mengingat apa yang Jonas katakan sewaktu mereka mandi bersama, Quenby akan menunggu.
Selama Jonas dan keluarganya masih menginginkan dirinya, tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Quenby hanya tinggal memenuhi harapan Luisa untuk segera hamil. Ya. Hanya itu yang perlu Quenby lakukan agar hidupnya terjamin aman sentosa.
Drrt! Drrt!
Getaran ponsel itu kembali terdengar, kali ini Quenby memutuskan untuk meraihnya. Saat dia melihat nama pemanggil, disana tertera nama kontak bertuliskan 'Mama'.
Ada apa ibu tirinya itu meneleponnya sepagi ini?
"Halo, Ma?" jawab Quenby dengan suaranya yang serak khas orang bangun tidur.
|"Wah! Nyonya masih tidur ya?! Enaknyaaaa jadi istri Konglomerat?!"| pekikan dari seberang telpon membuat Quenby menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
Dalam posisi masih berbaring, Quenby berdeham untuk menetralkan suaranya. "Maaf, Ma? Ada apa?" tanya Quenby tanpa minat. Dia benar-benar tidak ingin berdebat pagi ini, terutama dengan sang Mama.
|"Temui Mama di Butik siang nanti!"|
TBC
__ADS_1