Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
Kesenangan Fana


__ADS_3

Didalam sebuah ruang privasi yang tidak terlalu besar. Terlihat seorang pria dengan pakaian formalnya duduk bersandar dengan santai pada sofa tunggal yang terlihat nyaman.


Ruangan itu begitu minim pencahayaan. Hanya ada dua penerangan yang terletak di sudut kanan dan kirinya yang menampilkan warna keemasan. Tepat menyorot lantai tengah di depan sana.


Hawa dingin yang berasal dari pendingin ruangan tidak membuat pria itu kedinginan. Malah sebaliknya, dia merasakan tubuhnya tidak nyaman karena panas yang disebabkan oleh hal yang sedang di lihatnya.


Bagaimana tidak, pertunjukan aksi seorang wanita dewasa dihadapannya sedang menampilkan aksi liar.


Tubuh wanita itu begitu terpampang transparan. Sehingga tidak mampu menutupi bagian tubuh manapun. Dengan gerakan penuh sensual, wanita itu mencoba menarik perhatian lelaki didepannya yang sudah mem-bookingnya dengan harga mahal.


"Tuan Jonas ... apa kamu tidak tertarik untuk bergabung?" wanita itu sengaja berbicara sensual untuk kembali memancing.


Jonas benar-benar muak namanya disebut oleh wanita itu. Berani sekali pikirnya.


"Tidak usah bicara padaku. Lakukan saja tugasmu!" cecar Jonas yang tidak suka ada komunikasi diantara mereka.


Wanita itu kaget saat pria yang duduk didepannya berbicara ketus. Dan hal itu membuat wanita tadi menjadi hilang mood untuk melanjutkan aksi berikutnya. Namun karena bayaran yang didapatnya besar, mau tidak Mau dia harus menelan perkataan maupun tatapan hina yang diarahkan padanya. Dia pun kembali melanjutkan aksinya seolah tak terjadi apa-apa. Memang begitu 'kan seharusnya?


"Ck! Membosankan!" lirih Jonas berdecak malas saat merasakan kebosanan menyerang dirinya.


Seperti apapun aksi yang dipertunjukkan wanita itu, Jonas hanya menatap tajam tanpa selera. Nyatanya suhu panas pada tubuhnya tidak membuat bagian juniornya bereaksi. Hanya membuang-buang duit saja pikirnya.

__ADS_1


Sebenernya pria itu sudah lelah melakukan hal bodoh seperti ini. Sejak pusat kelelakiannya tidak bekerja, Jonas seperti mayat hidup. Hampir 3 tahun semua yang dia usahakan tak membuahkan hasil.


Rasanya ingin sekali Jonas meminta disuntik mati saja oleh temannya yang seorang dokter. Tapi melihat bagaimana keluarganya menyayangi dirinya, terutama sang Ibu yang menaruh harapan besar di pundaknya, rasanya Jonas tak tega. Maka sekali lagi, pria itu akan berusaha.


Teringat temannya yang seorang dokter, tiba-tiba Jonas mengingat sesuatu. Lantas dia meraih ponselnya dan menghubungi orang itu. Sebab sudah beberapa bulan Jonas belum mendapat laporan.


Tuut!


"Bagaimana penelitiannya? Apa sudah menemukan hasil? Sudah lebih dari 3 bulan! Jika masih tak ada perkembangan aku akan memecatmu!" Baru saja diangkat, Jonas sudah membombardir banyak pertanyaan.


|"Kamu menghubungiku diwaktu yang tepat, Tuan muda Sagala."|


|"Penelitianku hampir mencapai target, Ya ... walau belum seratus persen. Akan tetapi aku yakin bahwa percobaan kali ini bisa membuatmu kembali perkasa."|


Penjelasan dari seberang telpon itu membuat Jonas sedikit tersenyum.


"Bagus. Aku sudah tidak sabar." Setelah mengatakan itu, Jonas langsung menutup telponnya dan kembali fokus pada pertunjukan wanita tadi yang tak menarik minatnya sama sekali.


Suara lenguhan yang menandakan wanita bayaran itu telah mencapai puncak kenikmatan hanya seperti suara nyamuk terbang di telinga Jonas. Pikiran pria itu sudah tidak fokus pada pertunjukkan yang sebenarnya sudah muak dia saksikan.


Tiba-tiba ...

__ADS_1


Ting!


Suara denting pesan dari ponsel miliknya membuat Jonas mengalihkan pandangannya dari pertunjukan yang tak membantunya sama sekali.


From 0812xxx


[Hai, Kak Jonas ...]


Seulas senyum terpancar dari wajah lelah pria itu saat sebuah notifikasi pesan dari Whatsapp miliknya menampilkan isi teks yang memanggilnya dengan sebutan 'Kak'. Sebab hanya sosok Quenby Agatha lah yang sampai sekarang masih memanggilnya dengan sebutan itu.


Sejak pertemuan keduanya di malam reuni itu, pikiran Jonas tak bisa berpaling dari sosok adik kelasnya. Jonas pikir setelah dia memberikan kartu namanya, wanita itu akan langsung menghubunginya. Ternyata baru hari ini pesan yang dia tunggu terkirim ke nomornya.


Sekilas Jonas menatap wanita bayaran didepan sana yang masih melakukan gerakan sia-sia. "Oke, cukup sampai disini. Kau boleh pergi!" usir Jonas.


Kontan saja wanita itu melongo saat mendengar ucapan Jonas. Dia diusir begitu saja saat sedang menampilkan pertunjukkan pamungkasnya. Ini adalah pengalaman pertama wanita itu tak di gubris oleh Kliennya. Tentu saja hal itu membuat harga dirinya sebagai wanita penghibur nomor 1 itu cukup terluka.


"Dasar lelaki impoten!" Dan gerutuan itu hanya diteriakan didalam hati wanita penghibur yang Jonas tak peduli siapa namanya.


Setelah memastikan wanita tadi menutup pintu, Jonas pun beralih ke balkon kamar, dia butuh udara pagi yang segar. Kemudian dengan senyum terkulum, dia pun mulai mengetikkan balasan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2