
Terlihat Jonas sedang berada di dalam ruang kerjanya yang terletak dilantai 2. Pria itu terlihat sibuk menggulir jemarinya pada layar ipad ditangannya. Sebuah pesan email yang dikirimkan oleh Karin--Sekertaris pria itu membuat Jonas begitu fokus membacanya.
"Heru Wijaya, hmmm ...," Jonas membenarkan letak kaca matanya saat membaca profil calon investornya.
Kata Karin, Heru adalah pria seumuran ayah Jonas yang sangat konservatif dalam menanamkan modalnya. Akan tetapi lelaki itu juga bisa menjadi sangat loyal jika didekati secara personal.
Maka dari itu, saat pertemuan mereka lusa mendatang, selain Jonas harus mempersiapkan proposalnya dengan matang, dia pun harus menjadi orang yang fleksibel agar bisa disenangi oleh pria yang seperti tambang berlian baginya. Dan harapannya hanya satu, agar semua berjalan lancar sesuai dengan yang Jonas rencanakan.
Kriieeet!
Suara pintu ruang kerja Jonas terbuka perlahan. Lelaki itu pun mengalihkan pandangannya dari file-file penting pada sosok yang baru menyembulkan kepalanya, dia adalah orang yang sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruang kerja.
Kemudian sosok yang dia yakin adalah istrinya, mulai masuk dan menutup pintu secara perlahan, kemudian wanita itu berjalan ke arahnya. Jonas langsung melepaskan kacamata minusnya untuk memastikan bahwa penglihatannya salah kali ini.
"Qu-uenby ...," gumam Jonas saat ternyata dia tidak sedang berhalusinasi.
Sosok wanita dengan pakaian seragam SMA itu membuat Jonas semakin membelalakan mata. mantan adik kelasnya yang kini sudah menjadi istrinya itu ternyata masih pantas dibilang gadis SMA.
Tapi ...
Glek!
Suara jakun Jonas yang naik turun terdengar jelas ditelinganya sendiri. Jonas benar-benar terkesima.
Sejak kapan seragam SMA yang dikenakan Quenby menjadi lebih seksi. Seingat Jonas saat keduanya masih bersekolah, Quenby adalah salah satu siswi terbaik dengan seragam sekolah yang paling sopan. Namun, sekarang yang dia lihat, seragam yang dikenakan sang istri sangat amat terlampau seksi.
Bayangkan saja, bagian kancing kemeja sekolah itu terbuka sampai memperlihatkan buah dada istrinya yang menyembul gemas. Belum lagi panjang rok yang hanya sejengkal dari pangkal pahanya, Quenby benar-benar berani.
Dari semua penampilan itu, yang paling Jonas suka adalah rambut Quenby yang terkepang asal dan menyampir ke bahu kanannya, menambah citra rasa gadis desa yang terkontaminasi pergaulan kota. Quenby sangat mempesona. Dan dia akui, ini benar-benar seragam terbaik versi pria itu.
"Duduk disini, boleh, Kak?" Quenby bertanya sambil menunjuk meja kerja suaminya. Disana masih tergeletak barang-barang milik pria itu.
Jonas mengangguk tanpa bersuara, lalu dia segera menaruh kacamata dan juga ipad pro-nya kedalam laci meja kerja.
Pergerakan istrinya yang kesulitan saat berusaha untuk duduk diatas meja kerja membuat Jonas mengangkat pinggang wanita itu untuk membantunya duduk dimeja kerja tepat dihadapannya.
Jonas menatap kedua mata sayu istrinya. Lalu dia tersenyum. "Jadi ini hadiah buatku?" tanya Jonas.
__ADS_1
Quenby mengulum senyum lalu memngangguk. "Kakak, suka?" tanya wanita itu malu-malu.
Jonas merapatkan duduknya ke arah sang istri dengan kedua tangannya terangkat untuk mengelus kedua sisi paha wanita itu.
"Aku suka. Sangat suka," Jonas menatap netra Quenby bergantian.
Quenby Agatha sudah benar-benar berubah sekarang. Jonas baru menyadari bahwa wanita itu sekarang sangat agresif. Dibandingkan dulu saat gadis itu masih menjadi siswi baru, Quenby yang Jonas kenal adalah sosok yang sangat pendiam dan jarang bergaul.
Setiap gadis itu lewat didepan Jonas pun Quenby selalu menunduk. Hal itu lah yang membuat Jonas penasaran dengan sosok adik kelasnya itu.
Jika banyak wanita yang secara terang-terangan mendekati dan mengambil atensinya, berbeda dengan Quenby yang hanya memperhatikan dirinya dari jarak jauh. Jonas tau akan hal itu. Dengan berbekal rasa penasarannya, maka Jonas secara impulsif mendekati adik kelasnya itu, dan secara random mengajaknya tidur bersama.
"Dari mana kamu dapetin seragam ini, hm?" tanya Jonas. Lelaki itu berbicara sangat lembut pada Quenby.
"Pesan online,"
Jonas hanya terperangah saat tau ada yang menjual seragam seperti itu secara bebas, di online market place pula. Sejauh mana wanita didepannya tau banyak hal yang berkaitan dengan Cosplay?
Apakah itu berarti Quenby juga tau kegunaan baju semacam ini?
"Kakak yang jadi gurunya,"
Luruh sudah bahu Jonas. Lalu dia menelungkupkan kepalanya diatas paha Quenby yang terbuka. Jonas mengeratkan giginya dan menggusak rambutnya. Dia benar-benar gemas saat melihat raut wajah Quenby saat memintanya bermain peran menjadi 'Guru' bagi siswi senakal Quenby.
Dengan wajahnya yang memerah, Jonas kembali menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum kearahnya.
"Kalau begitu jangan menyesal, aku akan jadi Guru BK karena kamu sangat nakal Qeunby,"
Dan setelah itu, tanpa ragu keduanya memainkan peran dengan sangat baik didalam ruang kerja Jonas.
Setelah lebih dari tiga jam bermain di Guru dan Murid diruangan kerjanya, sepasang suami istri itu pun akhirnya kembali kekamar. Seperti kemarin, pagi buta ini pun Jonas tidur sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang, bedanya kini keduanya tidak memakai sehelai benang pun didalam selimut itu.
"Terimakasih ... kamu benar-benar luar biasa Quenby," Satu kecupan mendarat di rambut hitam istrinya. Jonas benar-benar puas sampai lemas.
Dia juga mengingatkan dirinya sendiri untuk melakukan pengecekan kesehatan terkait sistem reproduksinya pada Dion. Sebab saat melakukan hubungan tadi, dia sempat merasakan gejala awal dimana bagian vitalnya sempat mengalami penurunan fungsi.
"Baru ini aja yang bisa Quenby kasih buat Kakak," ujar istrinya.
__ADS_1
Baru?
Ya Tuhan. Jonas tidak bisa membayangkan sehebat dan seliar apa lagi jika permainan tadi dianggap biasa oleh istrinya. Jonas benar-benar harus segera melakukan pemeriksaan total terkait fungsi vitalnya. Dia khawatir Quenby akan kecewa padanya dan meninggalkan pria yang tak 'berguna' seperti itu.
Jonas pun semakin memeluk erat tubuh kecil Quenby. "Quen ...?"
"Iya, Kak?" sahut Quenby sedikit melirik tubuh suaminya yang semakin memeluk erat dirinya dari belakang.
"Apa kamu ... tidak mau bertanya, apa alasanku menemui Mama?"
...----------------...
Jonas dan beberapa Tim dari Divisi terkait sedang sibuk melakukan persiapan pertemuan dengan calon investornya yang bernama Heru Wijaya.
Hari ini adalah rapat penting dengan pemilik modal yang dikenal konservatif itu. Jonas meminta semua Tim untuk mempersiapkan secara matang proposal untuk presentasi mereka.
Didalam ruangan semua sudah berkumpul. Mereka berdiri di posisi masing-masing untuk menyambut tamu penting perusahaan mereka.
Heru Wijaya berjalan dengan gagahnya disamping Jonas, dibekakang keduanya terdapat beberapa karyawan Heru Wijaya, salah satunya adalah Sekretaris pria itu.
Mereka pun mulai memasuki ruangan meeting. Heru sudah duduk di sisi kanan Jonas beserta karyawan lain dari pria paruh baya itu.
Disisi kiri Jonas telah hadir Tim perencana untuk proyek yang akan di presentasikan didepan investor penting mereka.
"Tunggu sesaat lagi, ada satu karyawanku yang sedang dalam perjalanan," Heru menginterupsi saat rapat itu akan dimulai.
Dengan sopan, Jonas pun mengangguk. Padahal dia sangat tidak suka keterlambatan. Sangat tidak disiplin pikirnya. Karyawan macam apa yang seenaknya terlambat disaat Bos mereka telah hadir tepat waktu. Akan tetapi demi mendapatkan investor kelas Kakap, mau tidak mau Jonas memberi kelonggaran.
Setelah 15 menit menunggu dengan perasaan dongkol yang tertahan, akhirnya karyawan yang Heru katakan sudah tiba, dari ujung pintu rapat yang terbuka, muncul lah karyawan yang sangat tidak disiplin itu.
"Nah ini dia, masuklah Marsa," ujar Heru pada sosok wanita yang berjalan anggun dari arah pintu.
"Maafkan saya Tuan Jonas, sudah membuat anda menunggu," ujar wanita itu sambil mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Bri-ana ...?"
TBC
__ADS_1