Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
52


__ADS_3

Qeunby melihat punggung lebar kokoh suaminya dengan otot liat yang terbentuk sempurna. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Quenby sekarang. Sebuah tato yang terletak di tengah bagian punggung tepat dibawa tulang leher suaminya itu masih mengganggu Quenby sampai sekarang.


Gambar seorang wanita bersayap yang memeluk seorang pria. Apa ada makna khusus dari gambar tersebut. Sampai sekarang Qeunby masih belum berani menanyakannya lagi, sebab terakhir kali dia bertanya mengenai tato itu, Jonas seolah menghindar.


"Kamu banyak melamun belakangan ini, ada apa?" tanya Jonas sambil membelai wajah istrinya.


Jonas yang tadi sedang memilih kemeja mana yang akan dia pakai untuk bekerja pagi ini--langsung membalikkan tubuhnya saat menyadari sang istri berdiri dibelakangnya.


"Tato itu ..." ucap Qeunby ragu.


Jonas yang melihat raut khawatir di wajah istrinya tentu saja tak mau ada salah paham lagi diantara mereka. Padahal dia dan istrinya baru saja berdamai.


Jonas duduk di ranjang yang tak jauh dari tempat dia berdiri tadi, lalu dengan lembut lelaki itu menarik lengan istrinya untuk kemudian dia pangku. Qeunby yang mendapat perlakuan intim itu otomatis merangkul leher suaminya agar tidak jatuh.


"Aku sebenarnya merasa berat untuk membahasnya," kata Jonas. Lelaki itu menatap manik istrinya dengan sendu.


Quenby sudah menduga dengan jawaban suaminya. Cukup. Pikir Qeunby. Dia juga tidak akan memaksa lelaki itu untuk berbicara. Jika ada masalalu lain yang serupa dengan mantan kekasih dari lelaki itu yang bernama Briana, Quenby memutuskan untuk tidak mau lagi mengetahuinya. Dia tidak mau janin yang tengah dikandungnya 'makan ati'.


Dengan wajah tak perduli, Qeunby pun berniat untuk turun dari pangkuan suaminya. Namun tangan lelaki itu menahan tubuh Qeunby yang hendak bangkit sambil berkata, "Dia saudara kembarku."


Quenby terperanjat. Sungguh dia tidak menduga bahwa suaminya memiliki saudara kembar.


Mencoba mencari kebohongan dari kedua mata suaminya, akan tetapi tatapan mengiba lah yang wanita itu dapatkan.


"Kakak punya kembaran?" Jonas mengangguk menyahuti pertanyaan dari istrinya itu.


"Dia meninggal dunia tak lama setelah kami lahir," ungkap Jonas.

__ADS_1


Quenby mengernyit bingung. Dia tidak mempercayai suaminya begitu saja. Sebab tak ada jejak apapun yang menyatakan pernah ada sosok kembaran dari suaminya itu. Bahkan jika meninggal sejak bayi pun, bagaimana bisa tidak ada satu foto yang menunjukkan bahwa bayi itu pernah hadir diantara keluarga sang suami.


Kemudian Jonas melanjutkan, "Mommy depresi berat saat itu. Oleh karenanya sampai detik ini tidak ada yang berani membahas kejadian masa lalu. Itu yang dikatakan Oma, Ibu yang telah melahirkan Mommy." Quenby memang belum sempat kenal dengan Oma dari Jonas, karena wanita itu sudah lama meninggal dunia.


"Tapi bagaimana bisa Kakak menggambar kembaran Kakak itu saat kalian saja tidak pernah bertemu?"


Jonas tersenyum mendapati pertanyaan istrinya. "Dia sering datang menemuiku, Qeun. Dalam mimpi, sejak aku berusia 11 tahun," Kemudian Jonas menerawang dengan raut wajah sendu.


"Awalnya aku mengira itu hanya mimpi biasa. Mimpi yang memperlihatkan aku sendiri didalamnya. Tapi semakin lama mimpi itu terus hadir. Dan sosoknya berubah menjadi perempuan. Karena aku merasa terganggu, maka aku coba adukan hal ini pada Mommy. Saat itu reaksi yang Mommy tunjukkan membuatku takut. Mommy menangis histeris dan tidak keluar kamar berhari-hari. Dan kemudian aku baru mengetahui faktanya saat Oma dan Papi menceritakan semua itu," lanjutnya.


Qeunby mengusap lembut punggung telanjang suaminya. Dia memang tidak bisa merasakan sesedih apa Ibu Mertuanya saat itu. Tapi membayangkan kepergian anak yang sudah dikandungnya berbulan-bulan, lalu meninggal bahkan saat usianya belum genap satu hari, pasti tidak mudah bagi pasangan yang menantikan anak pertama.


"Kamu nggak cemburu 'kan?" tanya Jonas dengan tatapan jahil. Qeunby langsung memukul bahu lelaki itu sampai suaminya mengaduh.


Menghancurkan momen melow-nya saja. Pikir Quenby.


"Kapan tato itu Kakak buat?"


"Apa Mommy dan Papi sempat memberikannya nama?" Jonas mengangguk. "Apa Kakak tau dimana kembaran Kakak dikuburkan? tanya Qeunby lagi. Jonas pun lagi-lagi mengangguk menyahuti pertanyaan istrinya yang seperti wartawan itu.


"Nanti aku ajak kamu menemui dia."


...----------------...


Quenby ditemani Ibu Sara sedang berada di sebuah Butik tas dari merek ternama yang terletak di salah satu Mall elit yang ada dibilangan Jakarta Selatan.


Wanita yang tengah hamil muda itu sedang mencari hadiah untuk Mama Tirinya. Sudah lama Quenby tidak mendengar kabar dari wanita itu. Saat pagi tadi sang suami akan berangkat kerja, Quenby meminta ijin untuk mengunjungi wanita yang telah membesarkannya.

__ADS_1


Tanpa bertanya apapun, Jonas pada akhirnya mengjinkan Quenby untuk menemui Ibu tiri istrinya itu. Bahkan Jonas memberikan kartu debitnya untuk Qeunby belanjakan sebagai buah tangan.


"Ralyn?" Seorang wanita anggun dengan sanggul tinggi serta riasan natural menyentuh bahu Qeunby.


Kontan saja Qeunby menoleh ke arah wanita yang usianya mungkin sebaya dengan Mama tirinya. Pakaian yang dikenakan wanita itu terlihat mahal. Qeunby tau rancangan siapa.


Membalas dengan senyum hangat, Quenby pun menyahut, "Maaf, Anda salah orang, Nyonya."


Wanita dengan perhiasan berlian yang menempel pada telinga dan lehernya itu mengernyit. "Tapi kamu mirip dengan Ralyn," kata wanita itu berkata anggun. Suaranya terdengar lembut.


Ralyn?


Qeunby seperti tak asing dengan nama itu. Dan wanita di hadapannya mengatakan dirinya dan wanita bernama Ralyn itu mirip.


Merasa tak enak hati. Akhirnya Quenby mencoba berbasa-basi. "Apa nama yang Nyonya maksud adalah kerabat Anda?" tanya Qeunby.


Wanita itu masih menatap lekat wajah Qeunby, senyum anggunnya tak lepas dari wajah klasiknya. "Ya. Kami sangat dekat. Tapi sudah lama kami tidak menemukannya," ungkap wanita itu. Ada kesedihan dalam kalimatnya.


Mendengar apa yang dikatakan wanita itu, Qeunby tidak tahu harus menyahut apa. Quenby belum pernah ada di posisi ini sebelumnya. Dia juga tidak berniat ikut campur dalam masalah orang lain. Terlebih dirinya dan wanita itu hanyalah orang asing yang baru bertemu di tempat ini.


"Apa kamu sudah selesai, Sayang?" Suara berat dari seorang pria menghampiri wanita yang masih terpaku menatap Qeunby.


Tanpa menoleh pada lelaki yang baru mendekatinya, wanita yang menyangka Qeunby adalah kerabatnya berkata, "Mas Heru, dia mirip sekali dengan adikmu."


Dan entah sejak kapan. Lelaki yang dipanggil 'Mas heru' oleh wanita itu pun sama terpakunya menatap ke arah Qeunby.


"Ralyn?"

__ADS_1


Lagi-lagi Qeunby di panggil begitu. Namun kali ini sang pria lah yang mengatakannya. Sungguh, Qeunby ingin pergi saja dari situasi yang membuatnya canggung.


TBC


__ADS_2